Rebo Wekasan Menurut Islam

Setiap memasuki bulan Shafar, sebagian umat Muslim terutama di Indonesia sering menanyakan tentang hukum Rebo Wekasan menurut Islam. Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan dalam hal ini merujuk hari Rabu terakhir pada bulan Shafar dalam kalender Hijriyah.

Dalam catatan sejarah, masyarakat Arab kuno meyakini bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Anggapan sial (Tasa’um) ini telah populer pada masa itu dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum tradisi amalan pada Rebo Wekasan. Dalam konteks ini, pendapat ulama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) diambil untuk menanggapi pandangan Islam terhadap tradisi tersebut.

Mengutip “Penjelasan Mengenai Rebo Wekasan” dari situs NU Onlinesebagaimana diulas oleh Yusuf Suharto, bahwa Muktamar NU yang ketiga, menjawab pertanyaan “bolehkah berkeyakinan terhadap hari nahas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan?

Sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar, ada pendapat yang tidak mempercayai hari nahas dengan mengutip pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah berikut ini:

“Barang siapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya. Semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya. Tidak berdasarkan hitung-hitungan dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa dari sahabat Ali karramallahu wajhah. Adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).

Al-Qur’an dan Hadits tentang Indikasi Kesialan

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya: ’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang.” (QS. al-Qamar, 54:18-20)

Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir) tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.

Orang Jawa pada umumnya menyebut Rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Sehingga penafsiran ini hanya menunjukkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan Rabu pada Shafar dan tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah kesialan yang terus menerus.

Istilah hari nahas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir juga terdapat dalam hadis Nabi. Tersebut dalam Faidh al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda, “Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus).”

Secara substansi, hadits tersebut bertentangan dengan hadits sahih riwayat dari Imam al-Bukhari sebagaimana berikut ini:

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah, “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim).

Apabila kedua hadits tersebut dikompromikan pun maknanya adalah bahwa kesialan yang terus menerus itu hanya berlaku bagi yang mempercayai. Bukankah hari-hari itu pada dasarnya netral, mengandung kemungkinan baik dan jelek sesuai dengan ikhtiar perilaku manusia dan ditakdirkan Allah.

Selain itu, ada pula pendapat dari KH Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur. Beliau menjelaskan: banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah  menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.

Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun. Terdapat amalan yang bisa dilakukan, yaitu shalat sunnah 4 rakaat, pada setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlash 5 kali, al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali. Kemudian setelah salam membaca doa. Barang siapa melakukan amalan tersebut, maka Allah  dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.

Penjelasan Amalan

Mengenai amalan-amalan tersebut, KH. Abdul Kholik Mustaqim, Pengasuh Pesantren al-Wardiyah Tambakberas Jombang, menyatakan bahwa para ulama yang menolak adanya bulan sial dan hari nahas Rebo Wekasan berpendapat (dikutip dengan penyesuaian):

Pertama, tidak ada nash hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Shafar, yang ada hanya nash hadits dla’if yang menjelaskan bahwa setiap hari Rabu terakhir dari setiap bulan adalah hari nahas atau sial yang terus menerus, dan hadits dla’if ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan.

Kedua, tidak ada anjuran ibadah khusus dari syara’. Ada anjuran dari sebagian ulama tasawwuf namun landasannya belum bisa dikategorikan hujjah secara syar’i.

Ketiga, tidak boleh, kecuali hanya sebatas shalat hajat lidaf’il bala’ al-makhuf (untuk menolak balak yang dikhawatirkan) atau nafilah mutlaqoh (shalat sunah mutlak) sebagaimana diperbolehkan oleh Syara’, karena hikmahnya adalah agar kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Adapun pandangan Rais ‘Am PBNU KH Miftakhul Akhyar tentang hadits kesialan terus menerus pada Rabu terakhir tiap bulan berikut ini:

“Nahas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang mempercayainya, tetapi bagi orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada madharatnya. Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga nahas bagi orang lain…artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari nahas yang harus kita hindari. Karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah.” Wallahu ‘A’lam. (mzn)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *