Reformasi Dakwah Moderat

dakwah moderat

Tulisan ini terlahir dari kegilisahan diri saya ketika melihat kenyataan kalangan moderat yang khawatir terganggu eksistensinya yang selama ini telah melahirkan negara bangsa, negara kesatuan republik Indonesia, dan menjaganya dalam menjalin keberagaman dalam bingkai keindonesiaan.

Akhir-akhir ini muncul tren kebangkitan kaum fundamentalis-destruktif dari dalam diri agama Islam di Indonesia. Proses kebangkitan itu berawal setelah mereka mendapatkan momentum yang ditandai dengan runtuhnya rezim orde baru yang cenderung otoriter. Rezim ini kemudian digantikan dengan orde reformasi yang berusaha menjalankan amanah demokrasi dengan seluas-luasnya.

Atas konsekuensi ini masyarakat Indonesia menerima kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Penerimaan ini sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Perlahan tapi pasti, gerakan Islam fundamentalis-destruktif itu semakin mendapatkan banyak pengikut. Sementara di sisi lain perkembangan mereka menjadi semakin besar juga dipicu oleh tidak semakin baiknya tata negara kita setelah reformasi.

Praktik korupsi yang menjadi musuh dan simbol serta identik dengan orde baru ternyata tidak mengalami penurunan. Justru praktik ini malah dalam bentuk yang berbeda semakin marak dan menjadikan pembangunan negara Indonesia ini masih jauh panggang dari api.

Tidak seperti yang diharapkan, kenyataan yang terjadi tidak sepenuhnya linear dengan yang ditawarkan oleh para pengusung gerakan reformasi. Kenyataan ini membuat gerakan fundamentalis semakin mendapatkan tempat di hati sebagian masyarakat.

Masyarakat tergiur ketika diberikan gambaran impian, bahwa dengan sistem negara Islam maka semua masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, akan selesai. Mereka memberikan tawaran bahwa sistem negara Islam sebagaimana yang mereka pahami dapat menyelesaikan masalah dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kelemahan Sistem Negara Agama

Ide dan gagasan negara Islam yang mereka tawarkan dan perjuangkan di Indonesia ini sebenarnya jika dicermati memiliki kelemahan dari beberapa sudut. Pertama, mereka menawarkan konsep negara Islam yang pada dasarnya dalam Islam sendiri pun tidak memiliki bentuk yang pasti.

Kedua, jika kita belajar dari sejarah hingga sekarang, menurut Alwi Shihab, tidak ada negara Islam yang benar-benar menjalankan nilai-nilai Islam secara menyeluruh. Ia menyatakan bahwa beberapa negara yang tidak menerapkan syariat Islam justru berhasil menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya.

Dengan kata lain, untuk menciptakan kehidupan yang damai, Islam dapat menyesuaikan dan memberikan pengaruh baik terhadap sistem politik yang ada di negara masing-masing.

Ketiga, konsep negara Islam yang mereka perjuangkan ini memiliki dampak yang tidak ringan, karena berhadapan dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalamnya terdapat keberagaman suku bangsa dan agama, yang dalam agama sendiri pun terdapat berbagai macam pemahaman.

Di sini saya ingin mengatakan bahwa gerakan yang mereka perjuangkan itu lebih dekat pada “merusak” kehidupan yang telah mapan, dengan berbagai dinamikanya ketimbang “membangun” sebuah konsep khayalan yang sebenarnya secara tidak langsung sudah gugur atas nama sejarah.

Redifinisi Dakwah Islam Moderat

Selanjutnya, kekhawatiran akan menguatnya gerakan fundamentalisme Islam ini banyak dikumandangkan oleh kelompok nasionalis. Mereka menganggap dan menaruh harapan kepada kalangan islam moderat untuk dapat memberikan jawaban guna melawan atau setidaknya mengimbangi ide gerakan fundamentalis-destruktif yang mereka narasikan melalui dakwah-dakwahnya.

Untuk itu saya menawarkan di sini, dalam konteks kehidupan sekarang yang sudah mengalami perubahan. Dalam hal ini kita perlu mendefinisikan ulang ide dan konsep dakwah Islam moderat. Artinya, Islam yang mengedepankan akhlak sebelum aqidah dan syariat.

Lantas bagaimana cara membangun akhlak yang baik? Menyitir sebuah hadist nabi, berakhlak yang baik adalah menjalin silaturrahim. Yang dimaksudkan di sini adalah bukan kegiatan saling mengunjungi sebagaimana dimaknai sebagian masyarakat Indonesia, melainkan bermakna “membina hubungan yang berdasarkan kasih sayang”, sebagaimana kata Haidar Bagir.

Lebih lanjut, Bagir menafsirkan konsep ini sebagai perilaku seseorang yang mengenal Allah, yang kemudian mengejawantahkan pengenalan ini dengan membina hubungan terhadap sesama makhluk Allah–tidak terbatas pada agama, suku, ras, dan golongan–dengan berdasarkan kasih sayang.

Pendekatan akhlak inilah yang digunakan oleh Walisongo untuk berdakwah di Nusantara pada waktu itu. Sehingga masyarakat Nusantara yang terbuka waktu itu mengenal Islam. Selain juga menyakininya sebagai ajaran yang mengandung kebenaran. Melalui teladan itu, dalam konteks sekarang kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan selera dan kecenderungan masyarakat dalam menyampaikan dakwah.

Yang menjadi tantangan sekarang adalah terdapat jurang pemisah antara kebutuhan pengetahuan yang diminati oleh masyarakat dan produk narasi keislaman yang dihasilkan oleh para ulama dan sarjana muslim. Masyarakat cenderung mengininkan pengetahuan yang praktis.

Kemajuan teknologi yang mampu memenuhi kebutuhan manusia secara instan, menciptakan imajinasi dan menuntut untuk dapat memahami agama secara instan. Oleh karena itu, di sini agama dipahami sebagai alat pemuas kebutuhan, bukan sebagai “jalan” menuju Tuhan.

Kalangan ulama tentu sudah memiliki kepekaan terhadap perubahan masyarakat. Untuk itu atas nama perdamaian kita harus mendukung setiap usaha dakwah yang menentramkan dan memberikan ketenangan. Bukan malah mendukung dakwah yang memunculkan kebencian dan permusuhan.

Artikel ini pernah terbit sebelumnya di Suarapesantren.net yang dikelola oleh Pusat Studi Pesantren.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *