Remoderasi Islam Menurut M. Kholid Syeirazi

Judul Buku: Wasathiyah Islam: Anatomi, Narasi, dan Kontestasi Gerakan Islam

Penulis:         M. Kholid Syeirazi

Penerbit:       alif.id

Cetakan I:      Oktober 2020

Tebal:             572 halaman

ISBN:             978-23-9491-0-4

 

Muchlis M. Hanafi dalam Moderasi Islam (2013) mengatagorikan keislaman di Indonesia menjadi dua. Di antaranya, kecenderungan sebagian kalangan umat Islam bersikap ekstrem dan ketat dalam memahami teks-teks keagamaan, tetapi memaksakan tafsirnya sendiri bahkan bersikap keras. Kedua, sebagian bersikap longgar dalam menjalankan agama dan tunduk pada perilaku, serta pemikiran yang negatif yang berasal dari budaya-budaya lain.

Sikap ekstrem dan longgar akan terjebak pada nalar dan sikap yang keras di satu sisi dan liberal di sisi yang lain. Meski sama-sama mengaku menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sumber argumen, tapi dampaknya akan terlihat tidak seimbang. Kendati, jika hal demikian terus terjadi, maka permasalahan-permasalahan yang pelik, baik yang bernuansa sosial dan agama akan tidak bisa ditemukan konvergensinya: titik temu jalan dan solusi yang pas.

Dengan demikian, M. Kholid Syeirazi dalam buku barunya, Wasathiyah Islam: Anatomi, Narasi dan Kontestasi Gerakan Islam (2020), ingin merespons persoalan itu. Menurut Syeirazi, permasalahan sosial dan agama tidak sesederhana dicarikan solusi seperti dalam terjemahan dipikiran kita. Ia harus dijelmakan pada jalan tengah yang dimulai dengan seperangkat metode, epistem, cara berfikir yang syumuli, dan lintas disiplin-interdisiplin ilmu, hingga gagasan hidup bersama dalam satu asas kewarganegaraan: Indonesia.

Genealogi gerakan Islam

Berbagai anatomi gerakan sosial dan Islam yang terpecah-pecah, menyulut wabah paham dan gerakan yang ekstrem. Dalam dasawarsa ini, Islam dan politik sosial di Indonesia diseret sekenanya dan seenaknya ke dalam gubangan ekstremisme. Bentrok sana sini bahkan dinamika wacana keagamaan saling berkontestasi. Bagi Syeirazi, hal itu disebabkan, ada keinginan kembali pada panorama keemasan Islam, serta juga akibat pemerintah yang belum bisa membuat sejahtera rakyatnya, bahkan sering mengirim sinyal kekisruhan.

Lebih jauh, gerakan Islamisme muncul disebabkan oleh promosi paham puritanisme dan politik berbungkus Islam yang gencar dilakukan oleh Arab Saudi. Arab Saudi sejak perang Dunia Kedua, berkomplot dengan Amerika Serikat yang secara diam-diam memberikan dukungan finansial kepada ISIS dan kelompok radikal lainnya (halaman 38).

Di Indonesia, Arab Saudi memberi sokongan terhadap pendirian institusi pendidikan, tempat sosial: masjid, pondok, beasiswa, dan lainnya. Dengan strategi macam itu, maka Arab Saudi menjadi King keislaman di seluruh dunia. Dan di Indonesia, ia juga berkontribusi perubahan wajah Islam Indonesia lebih puritan dan intoleran (halaman 42).

Maka, yang perlu ditempuh, bagi keislaman Indonesia adalah berkomitmen secara sungguh-sungguh dalam konsensus geopolitik keislaman berkeadilan dan harus lebih gencar melakukan kontra narasi atau proyek wasathiyah Islam atau remoderasi Islam melalui re-interpretasi gerakan dan teks suci Al-Qur’an. Bagi Syeirazi, remoderasi Islam itulah modal untuk membendung (kalau tidak bisa menghapus) gerakan ekstrem dan Islam transnasional.

Kaum-kaum ekstrem yang memahami teks suci secara harfiah yang bahkan sering tanpa menimbang ‘illat hukumnya, perlu diarahkan dengan cara yang moderat. Pemahaman statis dan letterlijk terhadap nash isbal yang bahkan juga sering memutlakkan penggunaan busana sebagai identitas paten, perlu disanggah dengan jalan yang pas tanpa pongah. Sebab, jika sikap demikian dilakukan, umat Islam bukan cuma bisa protektif, tapi juga produktif dan bahkan developmental.

Karena, sikap-sikap moderat bukan urusan satu orang atau kepentingan orang per orang, melainkan urusan setiap orang, kelompok, masyarakat dan negara. Sebagaimana rumusan Quraisy Shihab dalam Wasathiyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama (2019) hakikat moderasi adalah menyeimbangkan segala persoalan hidup duniawi dan ukhrawi, yang selalu harus disertai upaya menyusaikan diri dengan situasi yang dihadapi berdasarkan petunjuk agama dan kondisi objektif yang sedang dialami.

Moderasi yang menjadi ciri ajaran Islam adalah menyeimbangkan antara ruh dan jasad, dunia dan akhirat, agama dan negara, individu dan masyarakat, ide dan realitas, yang lama dan baru, akal dan naqal (teks kegamaan), agama dan ilmu, modernitas dan tradisi.

Pertarungan antara paham dan paham, sikap dan sikap harus menilik (ulang) pada lanskap ajaran-nilai-nilai Al-Qur’an dan Islam yang sahih. Sintesis konsepsi Islam harus dicuatkan kepermukaan dan dibumikan sebagai suatu praktik kehidupan. Sebagaimana kata Azyumardi Azra dalam Relevansi Islam Wasathiyah: Dari Melindungi Kampus Hingga Mengaktualisasikan Kesalehan (2020), aktualisasi Islam wasathiyah di Indonesia harus bergerak pada realitas empiris historis, sosiologis, dan kultural. Bukan (hanya) pada ranah dogma.

Remoderasi Islam

Bahkan lebih jauh, wasathiyah Islam perlu terjemahkan dalam wasathiyah siyasiyah (politik), wasathiyah iqtishadiyah (ekonomi), dan wasathiyah ta’amuliyah (sosial).  Menurut Syeirazi, konsepsi finalitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, penjelmaan wasathiyah siyasiyah. Gagasan syirkah ta’awun (koperasi) penjelmaan wasathiyah iqtishadiyah (ekonomi). Narasi trilogi ukhuwah (islamiyah, wathaniyah, dan insaniyah) penjelmaan dari wasathiyah ta’amuliyah (sosial) (halaman ix).

Oleh karena itu, wasathiyah Islam harus terus diperkuat melalui ide dan kaki-kakinya. Ide wasathiyah harus memenangi kontestasi melawan ekstremisme. Kaki-kakinya diperkuat melalui penguatan jaringan ormas moderat berhadapan dengan ormas-ormas garis keras. Menurutnya, hanya dengan memperkuat wasathiyah Islam, NKRI berdasarkan Pancasila akan bangkit dan berjaya (halaman x).

Yang perlu juga dipahami, ayat-ayat yang ditafsirkan sebagai bentuk remoderasi Islam harus dibaca dengan konteks sejarah, asbabun nuzul dan epistem rigid lainnya. Jika tidak, maka makna Al-Qur’an dan ajaran Islam akan menjadi agama teror dan perang sebagaimana dipraktikkan Al-Qaeda, ISIS, organisasi afiliasi, dan simpatisannya.

Mereka menafsirkan Al-Qur’an secara sepihak dan menyeret dunia ke dalam spiral kekerasan, bertolak dari sejumlah ayat yang dibaca sepenggal dan dilepaskan dari konteks sejarahnya. Dengan demikian, Al-Qur’an seolah kitab teror dan Islam seolah agama pedang, senapan, molotof, dan karena itu di stigma agama perang.

Padahal, Islam bukan agama yang diperjuangkan dengan kekerasan dan instrurmen-instrumen paksa. Perang hanya terjadi untuk membela diri dari serangan musuh. Dalam keadaan diperangi, umat Islam boleh balas memerangi tanpa melampaui batas, karena Islam ditegakkan dengan hujah, bukan dengan pedang (halaman 486).

Islam bukan agama yang anti agama lain. Ayat Al-Qur’an memerintahkan berlaku adil, bahkan termasuk kepada non-Muslim. Serta menyuruh mengusahakan perdamaian sebanyak mungkin (QS. Al-An’an/6: 108). Islam tidak pernah menjadikan perang sebagai tujuan. Jika musuh cenderung kepada perdamaian, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menerima dan mengusahakan perdamaian (QS. Al-Anfal/8: 61). Al-Qur’an menegaskan bahwa perdamaian itu baik (QS. Al-Nisa’/4: 128) pun dalam kondisi perang. Rasulullah membatasi jatuhnya korban dan melarang keras membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dan melarang merusak lingkungan (halaman 478).

Dan Islam melarang keras membunuh tanpa alasan yang baik. Al-Qur’an menegaskan membunuh satu orang tanpa alasan yang benar seperti membunuh manusia semuanya. Sebaliknya, menjaga dan melindungi kehidupan satu orang seakan memberi kehidupan manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah/ 05:32).

Akan tetapi, Islam menekankan pada sikap dan perilaku kasih sayang dan cinta damai pada aspek apa pun bahkan melebihi dari aspek apa pun. Karena, khittah Islam adalah kasih sayang, maka mengamalkan Islam dengan murka, secara otomatis ia bertentangan dengan khittahnya Islam. Dengan demikian, tidak ada alasan mempraktikkan ajaran Islam dengan paksa dan nalar kekerasan. Tapi banyak alasan untuk menjalankan keagamaan Islam melalui jalan kebaikan dan nalar kemanusiaan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *