Representasi Wajah Islam Moderat: Kajian Tiga Ulama Nusantara Abad 18

Ternyata karya tulis yang diwariskan para ulama masa silam tidak hanya menjadi pustaka bangsa melainkan ia hidup dan berfungsi menjadi pusaka bangsa. Isi dari manuskrip tersebut masih bisa dinikmati oleh generasi saat ini dan mungkin juga seterusnya. Keberadaan manuskrip di Nusantara, khususnya manuskrip Islam, turut serta menjaga keseimbangan untuk keberlangsungan kehidupan bernegara dan beragama di Nusantara ini.

Hubungan antar ulama dan antar umat secara umum dengan mempertahankan budaya lokal terjalin dengan erat. Selain meninggalkan peninggalan bersifat normatif yang terkandung dalam naskah-naskah beraksara Arab, kaum Muslimin juga meninggalkan peninggalan bersifat empiris yaitu terintegrasinya bangsa Indonesia. Menjadi catatan sejarah bahwa Islam telah berkolaborasi dengan baik dengan agama-agama lain serta budaya lokal di Indonesia, sehingga tidak heran kalau Islam masuk dan berkembang dengan cepat di Nusantara pada masa silam.

Persatuan ini tidak akan terbentuk apabila tidak ada rasa toleransi dan pengambilan jalan tengah sehingga bisa diterima oleh semua pihak. Penelitian Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini memfokuskan kepada tiga orang tokoh yang cukup berpengaruh pada masa lampau tidak hanya di Indonesia, namun di luar negeri juga. Mereka adalah Syekh Abdussamad Al-Palembani, Syekh Yusuf Al Makassari, dan Syekh Ahmad Rifa’i Kalisalak.

Baca juga :  Penguatan Moderasi Beragama Melalui Tradisi Ritual Keagamaan

Ketiga ulama ini telah melahirkan sejumlah karyanya dalam bentuk tulisan tangan (sekarang disebut manuskrip) yang tidak hanya dibaca dan digunakan di daerah asal mereka, namun telah berkembang di daerah lain di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.

Ketiga ulama tersebut sangat produktif pada masanya, dengan jaringan murid yang sama-sama luas. Ketiganya mempunyai karakteristik pemikiran yang berbeda jauh meskipun keduanya sama-sama beraliran Sunni dan bermazhab Syafi‟i. Melalui murid dan ajarannya, ternyata telah terjadi persebaran tidak hanya di lingkup Nusantara melainkan ke Timur Tengah.

Penelitian memfokuskan kajian diaspora karya-karya tinggalan ketiga ulama tersebut hanya untuk wilayah Indonesia terlebih dahulu mengingat situasi COVID yang sedang marak di dunia. Penelusuran ke wilayah lain di dunia akan dilakukan pada tahap berikutnya.

Penelusuran terhadap sebaran karya ulama tersebut sangat penting dilakukan, untuk mengetahui jejak pengetahuan moderasi dalam tinggalan naskah karya-karya ketiga ulama, sekaligus melestarikan tradisi sanad dan ijazah dalam tradisi keguruan Islam. Kajian ini juga dapat digunakan untuk pemetaan dan pengidentifikasian keberlanjutan konsep pemikiran mereka, terutama konsep moderasi dan toleransi yang dibangun oleh mereka.

Karena diketahui bahwa moderasi tidak datang dengan sendirinya sebagaimana terlihat pada saat ini. Akar moderasi telah dibangun sejak masa silam, terutama oleh tiga tokoh ulama yang menjadi sasaran penelitian ini. Akar historis ini perlu digali secara maksimal untuk mengangkat martabat bangsa kepada dunia pada saat ini.

Baca juga :  Mahasiswa, Konstruksi Sosial Moderasi Beragama, dan Penguatan Demokratisasi

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *