Resensi Buku Muhammadku Sayangku: Nabi dalam Manifestasi Cinta

buku Muhammadku Sayangku

Judul               : Muhammadku Sayangku; Perasaan-perasaan yang Berhasil Dikisahkan
Penulis            : Edi AH Iyubenu
Penerbit          : DIVA Press
Cetak               : November, 2020
Tebal               : 152 halaman
ISBN               : 978-623-293-129-9

Wujud kecintaan kepada Tuhan dapat diekspresikan secara esensial pada diri kekasih-Nya. Sang Kekasih  yang Maha Pengasih. Khatamil Anbiya wal Mursalin, Muhammad Saw. sosok pembawa suluh yang sanggup menerangi pekat gulita jahili.

Suluh Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai manifestasi agung titah Tuhan padanya. Berpendar menebar cahaya manfaat bagi seluruh umat manusia di muka bumi.

Keluhuran akhlak mulia menaklukkan hati para musuhnya kala memperjuangkan Islam di titimangsa kenabian. Muhammad Saw. menakhtakan andil kemanusiaan, cinta, dan sikap welas asih di atas segalanya. Beliau begitu tulus mencintai dan menyayangi musuh-musuhnya, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya.

Hal itu tidak lepas karena Allah Swt. telah melekatkan empat sifat-Nya pada baginda Nabi Saw. Empat sifat itu yakni Aziz, Harish, Rauf, dan Rahim.

Sifat Aziz (perkasa) dan Harish (menjaga) menandakan betapa Nabi Saw. begitu berjuang agar umat manusia bisa beriman pada Allah. Dalam suatu riwayat, beliau masih sempat memikirkan umatnya saat detik-detik menjelang wafatnya, “ummati, ummati, ummati…

Sehingga segala bentuk penolakan, penyangkalan, dan bahkan perlawanan keras pada Islam tak pernah menyurutkan Nabi untuk memperjuangkan umatnya. Kesungguhan perjuangannya itu lalu perlahan memancarkan sifat Rauf (kasih) dan Rahim (sayang). Keduanya mengandung makna luar biasa.

Muhammad, Nabi Cinta untuk Semesta

Edi AH Iyubenu dalam buku Muhammadku Sayangku; Perasaan-perasaan yang Berhasil Dikisahkan menghadirkan interpretasi substantif para mufasir terutama pada makna Rahim dalam bacaan Basmalah. Ia memiliki makna kasih sayang, cinta, cum kehormatan, akhlak Karimah, yang tak hanya berskala duniawi, tapi juga ukhrawi (hal-62). Sehingga, wajar saja jika dalam inti lelaku keseharian Nabi Muhammad Saw. bermakrifat benih-benih cinta pada seluruh umat.

Semangat kehidupan Nabi Muhammad Saw. yang turut menyemai sikap cinta kasih pada sesama itu perlu diiringi kesungguhan kita pula untuk mencintai beliau. Manifestasi ketulusan sikap cinta sesungguhnya bisa dihadirkan dalam konteks meneladani.

Di segala lini praksis yang menjadi titik temu pergaulan kita sehari-hari, konteks meneladani itu menemukan momentumnya. Baik itu meneladani dimensi kehidupan vertikal maupun horizontal dalam diri Nabi.

Dalam dimensi vertikal (hubungan antara makhluk dengan Tuhannya), segala hal yang berkelindan dengan titah-Nya yang berupa larangan dan aturan itu perlu ditaati setaat-taatnya. Sedangkan dimensi horizontal merujuk pada saling keterhubungan kita dengan segala ciptaan-Nya. Menjalin tali persaudaraan, tidak merusak alam, serta saleh secara ritual maupun sosial merupakan ejawantah sublimasi keteladanan kita padanya.

Allah telah menggaransikan dengan sekonkret-konkretnya bahwa ejawantah mencintai Allah seyogianya berwujud dan bergerak melalui cinta kita pada Nabi Saw. Dengan kata lain, ejawantah cinta kepada Allah serupa dengan bagaimana Kanjeng Nabi Saw. menjalani hidupnya, Islamnya, dan akhlaknya selama masa kehidupannya (hal-42).

Kita memang tidak ditakdirkan membersamai beliau semasa hidupnya. Tetapi, bukankah perwujudan membersamai itu bisa dilakukan dengan meneruskan sikapnya yang penuh cinta dan kasih sayang.

Dengan begitu, wujud esensial dari mencinta ialah menginternalisasi nilai-nilai sikapnya yang adiluhung untuk diimplementasikan dalam setiap gerak langkah, sorot mata, dan getaran hati seorang umatnya.

Manifestasi Sikap Mencinta

Dalam buku Muhammadku Sayangku, Edi AH Iyubenu berikhtiar menggores kemelut ribang pada keagungan akhlak Nabi Cinta, Muhammad Saw. serta bagaimana umatnya bisa memanifestasikan sikap mencinta kepadanya. Seminim-minimnya bershalawat.

Buku ini memang bukan komprehensif berjubel teori yang menelaah tetek bengek sosok agung Nabi Muhammmad Saw. Justru buku ini dengan teramat subtil sanggup menarik kesadaran pembaca melalui suguhan pengisahan reflektif hasil catatan empiris emosional penulis yang berhasil dikisahkan ihwal keteladanan hidup Nabi.

Sebagai refleksi, renungan komparatif tersaji dalam buku. Iyubenu berusaha menyadarkan pembaca melalui komparasi-komparasi sederhana, namun mengandung sisi nilai eksplisit luar biasa.

Semisal, kita boleh saja mengaku umat Nabi dengan pamrih akan memberi syafaat kelak di akhirat, tetapi di sisi lain sikap kita masih saja cenderung menyia-nyiakan jaminan mutlak Al-Quran itu. Tenggelam terus tenggelam dalam surukan hawa nafsu.

Lalu, ketika Allah Swt. menjamin hal demikian dalam kalam-Nya, diabadikan dalam banyak riwayat Nabi Saw., pikirkan dengan mata hati terdalam, “Bagaimana kita bisa berani mengatakan, itu kan hanya, itu kan hanya sunah, itu kan hanya sunah..” (hal-51).

Melalui komparasi semacam itu, Iyubenu jelas berbicara konsep cinta dalam buku ini. Baginya, konsep mencintai Muhammad Saw sepadan dengan mengikuti beliau, tanpa prasyarat. Kudu takzim, patuh, dan semata ittiba’. Tanpa syak kepadanya. Bahkan secuil.

Dengan begitu, konsep mencintai yang demikian sejatinya akan dapat menghantarkan kita pada kemudahan dalam menempah diri yang lalai menuju diri yang siap. Siap menempuh terjalnya lorong duniawi yang penuh dengan gemerlap kenikmatan.

Meneladani Nabi Cinta

Dua pilihan terus bergelayut di pikiran; keselamatan dan kesengsaraan hidup. Jika kita memilih jalan keselamatan, maka menurut Iyubenu, internalisasilah keteladanan Nabi Muhammad Saw. dengan penuh khidmat. Sebaliknya, jika kita suntuk melakukan dosa, bukan tidak mungkin penyesalan atas kesengsaraan hidup akan terus menghantui.

Kehadiran buku terasa begitu nikmat, hidup, dan memilik daya tarik. Sejumlah 21 esai menyuguhkan refleksi personal penulis dengan berbagai pengalaman rohani yang secara substansial dapat dipastikan bersumber pada Nabi Muhammmad Saw. Sengaja dibuat bertutur agar dapat terhubung langsung dengan sisi emosional pembaca.

Bagi Kuswaidi Syafi’ie, buku Muhammadku Sayangku ini merupakan antologi dari simpul-simpul kenabian yang berkait-kelindan dengan pelbagai macam pengalaman spiritual. Penulis berikhtiar agar bisa dibagikan kepada sesama melalui sejumlah tulisan.

Inilah “Auto Biografi Diriku” yang mencatatkan tentang apa-apa yang berhasil kukisahkan secara khusus perihal kekasihku, Kanjeng Nabi Muhammad Saw”. Demikian kata Edi AH Iyubenu.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *