Resensi: Syahadah Kiai, Syahadah Santri

resensi novel syahadah mushtafa

Judul               : Syahadah Mustafa

Penulis            : Fauz Noor Zaman

Penerbit           : Sabda Book’s

Tebal               : 243 halaman

Ukuran            : 13 x 20 cm

Cetakan          : I, Juli 2020

ISBN              : 9 786239 112653

 

Novel yang berlatar tahun 1944 ini menceritakan kisah perjalanan seorang santri yatim piatu bernama Falah yang berasal dari Garut. Nyantri lama di Darul Alfiyah Sadang Kabupaten Garut. Kemudian atas dasar saran dari kakeknya, Falah melanjutkan belajarnya ke pesantren yang dipimpin KH. Zainal Musthafa di Sukamanah.

Pada masa itu bumi nusantara dalam kondisi dijajah Jepang. Kehidupan sungguh sulit dijalani rakyat Indonesia. Hasil bumi diangkut secara besar-besaran oleh Jepang untuk menunjang biaya Perang Pasifik, mereka melawan sekutu.

Perempuan-perempuan dijadikan budak nafsu dan akidah pun tak luput dari sasaran. Setiap pagi atau setiap rapat umum, rakyat Indonesia diwajibkan untuk saikerei sebagai sikap penghormatan kepada Dewa Matahari dan kekaisaran Jepang.

Falah yang baru nyantri di Pesantren Sukamanah masuk pada situasi di mana pimpinan pondok pesantren, KH. Zainal Musthafa begitu hebat menentang Jepang dan sudah merencanakan perlawanan terhadap Jepang.

Baca juga :  Indonesia dalam Gambaran Negara Wiranacita di Novel CAD*L

Di Pesantren Sukamanah, Falah dipertemukan dengan Syakur. Syakur adalah santri senior yang berasal dari Banten. Falah banyak belajar darinya, salah satunya tentang bagaimana memegang teguh prinsip kebenaran.

Syakur sang pemberani menolak saikerei walau dicaci dan mendapatkan hantaman pohpor bedil berkali-kali. Syakur juga seorang yatim piatu. Ia juga memiliki kakak perempuan yang dikisahkan begitu tersiksa dan akhirnya terpaksa menjadi jagun ianfu (pekerja seks).

Perlawanan Sukamanah yang membahana pada Jumat 24 Februari 1944 menimbulkan banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dan tentunya korban paling banyak berasal dari santri Pesantren Sukamanah. Hal tersebut dikarenakan peralatan perang santri yang tidak seimbang.

KH. Zainal Musthafa dan para santrinya yang masih hidup, termasuk Syakur ditangkap dan dipenjarakan. Kecintaan Falah pada sang Kiai menuntun dirinya untuk pergi ke penjara Tasikmalaya. Belum sampai di penjara, Falah dipertemukan dengan Rahmi, yang tiada lain adalah kakaknya Syakur.

Sulit sekali untuk masuk ke penjara untuk sekadar menjenguk sang Kiai. Tapi “berkah” kekuatan dan kecerdikan seorang jagun ianfu, mereka berdua (Falah dan Rahmi) bisa menjenguk Syakur. Momen pertemuan antara kakak dan adik tersebut disaksikan Falah.  Dan dikisahkan dalam novel ini cukup menguras rasa kita ketika membacanya.

Baca juga :  Youtuber NU Ini Bagikan Trik Dakwah Pesantren di Media Sosial

Kenapa saat perlawanan santri Sukamanah, Falah tidak tewas atau tertangkap? Karena Falah bersama Adang Wahab (KH. Wahab Muhsin yang kelak menjadi pengasuh Pesantren Sukahideng), Ahmad Faqih (KH. Ahmad Faqih Mubarak yang kelak mendirikan Pesantren al-Falah Kebon Kalapa), Z. E. Muttaqin (yang sekarang namanya diabadikan deng STAI KH. Zaenal Muttaqin Purawakarta), dan beberapa santri lainnya, dilarang ikut berperang oleh KH. Zainal Musthafa.

Mereka diperintahkan untuk pulang dan terus ngawuruk santri (dikenal sebagai tarekat Sukamanah). Inilah yang menjadi poin berharga dari kisah Novel Syahadah Musthafa. Di mana, tradisi ta’lim, tradisi yang diajarkan Rasulullah Saw. yang terus bersambung, tidak boleh terhenti. Dalam kecamuk perang, KH. Zainal Musthafa teguh memegang amanah ta’lim, teguh untuk terus meneruskan tradisi yang diamanahkan Rasulullah Saw.

Fauz Nor, dalam novel ini, juga berhasil menggambarkan KH. Zainal Musthafa sebagai kiai muda yang tegas, kharismatik, berwawawasan tinggi, memiliki pergaulan yang luas, dan  visi yang mengagumkan meskipun dalam situasi genting dan tegang.

Selepas perang Sukamanah, Falah yang kemudian memperdalam ilmu agama di Pesantren Sukahideng akhirnya menikah dengan Rahmi. Dengan berbekal Syahadah Musthafa yang bisa diartikan sebagai ijazah dari sang kiai, KH. Zainal Musthafa, keduanya bahu membahu menjalankan amanah Sang Kiai untuk terus ngawuruk Santri dengan mendirikan pesantren di wilayah Kabupaten Garut.

Baca juga :  Pesantren Al-Falakiyah Jadi Tuan Rumah Pra-Munas dan Konbes PBNU

Sebagai novel yang bergenre Novel Sejarah, Fauz berhasil mengawinkan unsur fiksi dan realita sejarah. Penggambaran tokoh-tokoh fiksi dan tokoh nyata terasa begitu nyata. Jejak sejarah tokoh-tokoh pergerakan Islam pada saat itu dibahasnya secara cukup.

Tokoh-tokoh semisal Raden Sutisna Senjaya, dekter Soekardjo, Kapten Naseh (ketiga nama ini sekarang menjadi nama jalan di Tasikmalaya), muncul dalam novel ini dengan elegan. Dan sebagai santri, penulis berhasil menyisipkan beberapa pemikiran. Khususnya pemikiran kiai di tasikmalaya dan pemikiran kiai di Jawa Barat pada umumnya sebagai khazanah pemikiran Islam yang tak ternilai.

Pemilihan diksi dalam novel begitu tepat, ketat dan indah khas Fauz Noor. Sesekali disisipkan istilah sunda, juga dengan alur singkat dan padat. Novel ini menyuguhkan pengalaman yang luar biasa. Khususnya bagi saya sebagai alumni Sukahideng, Sukamanah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *