Robohnya Langgar Kami [Cerpen]

Langgar roboh

Aku duduk terpaku, mataku menerobos kembali ke masa lalu. Sementara orang-orang di sampingku sudah mulai terisak-isak, aku seperti tuli atau pura-pura tuli. Mataku tetap menatap dengan kosong, sesekali menghadap ke arah langit yang biru dan semakin biru. Tatapanku tetap kosong, jiwaku melompong.

Seorang lelaki dengan meja kecil di depannya. Ia selalu tabah menunggu setiap anak-anak kampung Karanji  datang. Seorang lelaki yang umurnya sudah menginjak senja, namun dengan ketabahan yang tidak kalah pada orang yang lebih muda. Namanya Yasin, kami selalu memanggilnya dengan To’ Acing. Ia tidak merasa terganggu dengan panggilan itu, meski ia sebagai guru ngaji di langgar warisan mertuanya. Istrinya adalah Ma’ Eti yang juga membantu membimbing anak-anak perempuan mengaji.

Langgar Tua

Langgar yang sudah lebih tua dari umurnya, dua tiang penyangga di tengah selalu menjadi tempat bersandar kami. Aku dan anak-anak kampung Keranji lainnya selalu rebutan untuk duduk sambil bersandar di salah satu tiang itu. Sambil menunggu giliran mengaji pada To’ Acing. Keseringan kami akan bercakap-cakap di tengah menunggu yang memang sedikit tak asik itu.

Kami mengaji di langgar itu setiap pagi dan sehabis magrib. Ini tentu tidak memberatkan, sebab bagi anak kecil seperti kami tidak terlalu disibukkan dengan pekerjaan selain bermain. Kadang aku sengaja bermain di laut dan pulang agak malam, ini tentu akal-akalan agar aku tidak berangkat ke langgar. Sebagai manusia, bosan sudah tentu ada meski dalam diri anak kecil. Aku terasa jenuh setiap malam—kecuali malam jumat—harus berangkat ke langgar. Meski jarak langgar dan rumahku hampir berdampingan.

“Kalau kamu tidak ngaji, tidak boleh nonton televisi” ibu selalu bentak-bentak ketika aku pulang agak malam dari tempat bermain.

Ibu tidak segan-segan untuk mengancam melarang aku nonton televisi. Sebab ibu tahu alasan aku pulang agak malam; agar aku tidak mengaji dan menonton televisi lebih awal. Namun itu tidak seberapa, bapak justru lebih mengerikan. Ia juga tidak segan-segan akan memukulku dengan sapu atau pentungan kecil. Dari itu tentu aku lebih takut pada bapak daripada ibu, meski omelan ibu seperti petir yang menyambar ujung pepohonan.

Baca juga :  Puisi Nuriman N. Bayan

“Tuh, lihat si Cecep gak tahu ngaji meski sudah tua, kamu mau seperti dia?”

“Contoh Minol meski kecil sudah pandai mengaji beda dengan kamu.”

Itu adalah jurus ampuh ibu yang selalu membandingankan aku dengan teman-temanku. Paling tidak aku merasa sedikit panas dengan perlakuan itu. sikap ibu tentu tidak salah, lebih-lebih si Cecep memang gagap ketika mengaji, atau si Minol yang pintarnya sudah diakui.

To’ Acing

Waktu-waktu bahagia bagi kami adalah malam Jumat, langgar sengaja diliburkan oleh To’ Acing, sebagaimana langgar-langgar lain di kampung Karanji. Di malam jumat tentu aku akan berpuas ria dengan televisi habis azan magrib. Memang sudah biasa, menonton televisi adalah kebahagiaan tersendiri.

Lebih-lebih listrik di kampung Karanji hanya  menyala dari azan magrib sampai jam lima pagi. Listrik di kampung ini hanya bersumber pada mesin kecil yang kekuatannya tidak seberapa, kadang-kadang sering mati pula. Makanya ketika, malam jumat serasa hari lebaran yang datang setahun sekali.

Waktu paling menjengkelkan tentu malam sabtu, itu sebabnya aku harus ke langgar lagi. Maka dengan begitu aku tidak akan pernah bersemangat, kecuali ayah sudah memegang pentungan kecil yang biasa mengecup betis dan punggungku. Sudah mirip dengan zaman penjajahan saja.

Mataku mulai berkaca-kaca, sesekali hidungku seperti orang flu. Tidak, aku tidak menangis, tapi hampir. Mataku yang semula kosong kini sudah mulai penuh dengan percikan-percikan kecil air. Dadaku seperti digertak oleh ratusan bala tentara, degupnya kencang dan serampangan. Kedua tangaku spontan, menutupi wajah. Perlahan air mata keluar dari sela-sela jari. Sementara tangisan orang-orang di sampingku semakin keras.

Baca juga :  Simbiosis Mutualisme [Cerpen]

Pernah suatu malam ketika kami terlalu ramai di langgar bercakap-cakap, To’ Acing marah besar. Ia memukul lantai menggunakan pecutan yang terbuat dari rotan, tentu bunyinya mengerikan. Kami diam, suasana senyap mendadak. Wajah To’ Acing memerah, tatapnya tepat di wajahku. Aku menunduk dalam-dalam.

“Dulu abah membangun langgar harus berdarah-darah” begitulah sapaan ia untuk mertuanya.

Kami tetap tertunduk semakin dalam, rasanya dada kami diserang seribu satu macam ketakutan.

“Banyak orang yang tidak setuju ketika abah mau mendirikan langgar ini, tapi atas izin Allah langgar ini berdiri juga.”

“Sekarang kalian bisa menempatinya dengan nyaman tanpa harus tahu bagaimana langgar ini dibangun dahulu.”

Sampai kami hendak pulang sehabis isya, To’ Acing terus-terusan bercerita. Kami tetap menunduk dan tidak berkata barang sepatah. Dan ketika To’ Acing menyuruh kami membaca doa sebagaimana biasa ketika hendak mau pulang, dada kami seperti ladang pertama kali dikawini hujan.

Sesampainya di rumah, aku menceritakan pada ibu apa yang telah diceritakan oleh To’ Acing. Ibu mengiyakan, lebih-lebih dahulu ibu memang mengaji dan berguru pada mertua dari To’ Acing. Kata ibu, dahulu langgar itu memang untuk tempat mengaji semenjak ibu masih anak-anak. Dahulu anak yang mengaji di langgar itu begitu banyak, malah keseringan tidak dapat bagian untuk mengaji.

Ibu mulai bercerita panjang lebar hingga sampai di sebuah permintaan. Bahwa kelak ketika aku sudah dewasa dan To’ Acing—yang merupakan guruku—meninggal, aku harus bisa menggantikan. Tentu aku adalah opsi pertama, karena selain dekat dengan langgar ibu juga punya ikatan kelurga dengan To’ Acing. Semangatku untuk belajar mengaji mulai menggebu. Ibu dan bapak tidak perlu marah-marah lagi menyuruh aku berangkat ke langgar.

Mulai saat itu aku tiba paling awal di langgar, aku sudah tidak pernah rebutan untuk bersandar di dua tiang di tengah-tengah langgar. Sepanjang di langgar aku mulai banyak diam dan membaca al-quranku, mulai tidak mau bercakap-cakap. Tapi itu tidak lama, hanya berlangsung selama tiga hari. Selanjutnya seperti kembali pada semula; bercakap-cakap, rebutan bersandar di dua tiang, atau yang paling bikin jengkel ibu dan bapak adalah bermain sampai hari-benar tenggelam ditelan malam.

Baca juga :  Pertemuan Kala Langit Sedang Biru [Cerpen]

Tapi aku tahu bahwa To’ Acing memang penyabar dan tidak mudah marah. Kalau ia marah, berarti kelakuan kami di langgar sudah sangat tidak wajar. Seingatku hanya sekali To’ Acing marah-marah, pada waktu itu. Sewajarnya memang kami harus mulai sungkan pada sikap dan sifat To’ Acing, namun kami masih anak kecil meski tidak benar-benar kecil.

Cerita-cerita itu sungguh tejadi dahulu, sewaktu aku masih begitu nakalnya. Cerita itu sudah seperti hantu yang berhasil menakut-nakutiku. Seperti membangun rumah di bagian lain dalam kepala.

Aku membuka kedua tanganku yang sejak tadi menutup wajah, aku harus betul-betul menerima kenyatan. Kata ibu, lelaki tidak boleh menangis; harus tabah menanggung kepedihan. Sedang tangisan-tangisan orang disampingku, berganti dengan nama Allah, merapal doa dengan zikir-zikir tak asing, mencoba bangkit dan perlahan berdiri, sebuah keranda  dengan tutup hijau daun melintas dipapah beberapa lelaki. Aku yakin, To’ Acing pasti terlentang dengan tenang di dalam.

Kepalaku pusing dan tubuhku seperti hendak rubuh, kemudian aku benar-benar rubuh. Mungkin orang-orang di sampingku akan mengerubungiku dan membopongku. Tapi aku sudah seperti dibawa ke alam yang jauh. Di sana kulihat langgar itu, langgar itu sudah runtuh sudah menjadi puing. Tersisa dua tiang di tangah, tempat biasa kami berbutan, yang masih kokoh. Tersisa seluruh kepedihan yang bersarang di bagian-bagian sempit ruang dada.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *