Saadah Al-Ghumariyah: Keluarga Ulama Pakar Hadis Maroko

Sahabat karibku yang sedang nyantri di Al-Azhar mesir menghubungiku, ternyata ia suka membaca Iqra.id dan juga mengikuti beberapa tulisanku yang mengulas Maroko dan ulama Maroko. Mulai dari Syeikh Abdissalam ibn Masyisy (seorang wali qutub asal Maroko), lalu ulasan tentang kitab Al-Jurumiyah dan Muallifnya, sampai beberapa waktu lalu tentang Ibnu al-Bana (ulama pakar Matematika asal Maroko) dan beberapa tulisan yang lain.

Sampai akhirnya ia memintaku untuk menuliskan tentang Sadaah (keluarga atau pemimpin-pemimpin) Gumariyah. Keluarga yang ahli dan pakar dalam hadis dan ilmu hadis asal Maroko. Sebuah kehormatan bagi ku untuk mengulasnya.

Jika disebutkan beberapa ulama pakar hadis yang lahir dari Timur Islam seperti Syeikh Yasin Al-Fadani, Syeikh Nuruddin Muhammad Hasan ‘Itr, Syiekh Ahmad Amin, dan lainnya mungkin tidak akan asing di telinga kita, terutama untuk warga Indonesia juga termasuk sahabat karibku yang belajar di Mesir sana.

Nama-nama ulama yang disebutkan di atas begitu masyhur dan populer di kalangan pelajar dan cendikiawan atas kepakaran mereka dalam ilmu hadis. Maka sebaliknya, jika diminta menyebutkan pakar hadis dari dunia Barat Islam (maghrib islamiy), bisa jadi masih asingkhususnya Maroko. Semoga lewat tulisan ini, bisa mewakili keasingan dalam mengenal ulama pakar hadist dunia Barat Islam.

Saadah Ghumariyah

Keluarga al-Ghumari sangat dikenal di dunia Islam sebagai keturunan ulama Islam yang masyhur dan memberi sumbangan besar dalam pemikiran dan keilmuan Islam. Cahaya keilmuan dari para ulama keluarga al-Ghumari ini menyinari bagian Barat Islam mulai dari Maghribi (Moroko), Libya, Tunisia, Al-Jazair, dan Mauritania, lalu merentasi seluruh negara dan benua termasuk dunia Timur Islam yaitu, Mesir, Jordan, Yaman, dan lain-lain, juga termasuk Malaysia, dan Indonesia.

Keluarga as-Shiddiqiyah al-Ghumariyah berasal dari kota Tangier atau dalam sebutan bahasa Arabnya “Tanjah”. Ghumari merupakan salah satu etnik Barbar yang utama di Maroko dan dinisbahkan kepada Ghumarah, sebuah wilayah di Utara Maroko.

Di dunia Timur Islam, nama al-Ghumari terkenal dengan sebutan Ghumariyin, sedangkan di daerahnya sendiri, khususnya negara Maroko, Saadah Ghumariyah ini terkenal dengan sebutan Alu Ibn Shiddiq atau Keluarga ibn Sihiddiq.

Nasab keturunan keluarga Ghumariyah yang ma’ruf di kalangan keluarga al-Ghumary adalah Sayyid Muhammad bin al-Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd al-Mu’min al-Ghumari al-Tanji, menyambung silsilah nasabnya sampai Sayyidina Hasan Ibn Ali dan sampai kepada Rasulullah Saw. Maka bisa diartikan bahwa keluarga Ghumariyah ini adalah Ahlu Bait Nabi Saw.

Keluarga ini melalui Sayyid Muhammad bin as-Shiddiq menyambung keturunan Rasulullah Saw. melalui Sayyiduna Hasan bin ‘Ali. Bahkan istri beliau yang pertama merupakan anak ulama yang terkenal yaitu al-‘Arif billah Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani, yang juga dari keturunan Sayyiduna Hasan bin ‘Ali dan terkenal sebagai pensyarah kitab Hikam melalui karangannya, Iqaz al-humam fi sharh al-Hikam, al-Muqadasah al-Qudsiyah fi Syarhi Muqadimah al-Jurumiyah.

Dari Sayyid Muhammad Ibn Shiddiq, lahirlah 7 anak, dari istri pertama 5 orang anak, sedang dari istri kedua 2 orang anak. Mereka yaitu: Sidi Ahmad, Sidi Abdullah, Sidi Muhammad az-Zamzami, Sidi Abdul Azis, Sidi Abdul Hayy, Sidi Hasan, dan Sidi Murtahda. Dari ketujuh anaknya ini, besar dan menjadi ulama dengan ilmu pengetahuan Islam yang luas dan mendalam, terutama dalam bidang hadis.

Para Ulama yang lahir dari keluarga al-Ghumari telah memberikan sumbangan besar dalam penyebaran ilmu kepada umat Islam khususnya dalam bidang hadis.

Boleh dikatakan hampir kesemua ulama khususnya dalam bidang hadis di zaman ini baik yang masih hidup atau sudah meninggal dunia, mempelajari hadis dan mengambil ijazah dan sanad dari keluarga al-Ghumari, di antaranya ada ‘Alim al-Haramain al-Marhum al-Syeikh al-Sayyid Dr. Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, bekas penasihat kerajaan Arab Saudi dan ulama Mekkah yang terkenal dan juga al-Syeikh al-Muhaddith al-Musnid Mahmud Sa’id Mamduh, ulama Mesir terkenal yang kini bertugas sebagai penyelidik di Pusat Penyelidikan Pengajian Islam Dubai.

Baca juga :  Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Muhaddis Ensiklopedis dan Pioner Ilmu Sanad Dari Nusantara

Kehidupan Sayyid Muhammad ibn Shiddiq

Dalam kitab Al-Mutrib bil Masyahiri Auliya’u Maghrib karangan sufi besar kota Tangier, Maroko dan pendiri Zawiyah Talidiyah yaitu Syeikh Abdullah at-Talidi (w. 1439 H) disebutkan bahwa Sayyid Muhammad bin al-Siddiq al-Ghumari al-Hasani dilahirkan pada hari Kamis malam Jumat bulan Rajab 1295 H.

Dilahirkan dari keluarga Bani Mansur al-Ghumariyah. Beliau sudah Hafal Alquran ketika masih kecil dengan riwayat Warsh, dan kemudian menghafalnya dengan tujuh riwayat serta mengkhatamkan Alquran dengan riwayat al-Makki dengan saudaranya Sayyid Ahmad.

Setelah menghafal Alquran, beliau menuntut ilmu dengan kakaknya yaitu al-‘Allamah al-Bari’ Sayyidi Muhammad al-Qadi dan juga dengan sepupunya, al-‘Allamah al-Muhaqqiq Zayn al-‘Abidin bin Muhammad al-Mu’azzin. Beliau bersama bapanya, al-Siddiq kemudian berhijrah ke kota Fez pada tahun 1312 H. Di sana beliau belajar di Madrasah al-Sharatin.

Di samping menuntut ilmu di madrasah, beliau berguru dengan waliyullah Sayyid Muhammad Ibrahim. Dengan Sayyid Muhammad Ibrahim beliau dididik dengan adab-adab tasawuf dengan mengajarkannya kitab al-Hikam dan al-Tanwir fi isqat al-Tadbir karya Ahmad ibn ‘Ata Allah, al-‘Uhud al-Muhammadiyyah dan al-Minan al-Kubra karya ‘Abd al-Wahab al-Sha’rani, dan risalah datuknya, Sayyidi al-Haj Ahmad bin ‘Abd al-Mu’min.

Bahkan gurunya juga turut mengarahkannya supaya menghadiri majlis-majlis ilmu para ulama di Qurawiyin yang ada di zawiyah-zawiyah kota Fez. Karena letak Qurawiyin yang jauh dari zawiyahnya itu, maka beliau berpuasa setiap kali pergi menuntut ilmu di sana supaya tidak perlu kembali ke zawiyahnya di Fez untuk makan tengah hari.

Pada bulan Rabiul Akhir tahun 1315 H beliau telah pulang ke Tangier dan kemudian kembali semula ke Fez untuk mulazamah kepada Syeikhnya di zawiyah sehingga tahun 1318 H.
Salah satu karomah yang ada pada diri beliau adalah rupa parasnya yang sempurna dari segi jasmani dan akhlaknya.

Baca juga :  Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Guru Para Ulama Indonesia

Cahaya kehebatan terpancar dari wajahnya sehingga menimbulkan keseganan bagi orang yang melihatnya sehingga apabila berjumpa dengannya, mereka terus mencium tangannya bagi memuliakan kealiman dan ke- wara’ -annya.

Hal ini serupa saat beliau pergi ke Mesir dan datang ke Kota Iskandariyah, banyak orang yang kagum dengan sosok jiwa beliau yang sentiasa mengikut sunnah Rasulullah Saw. Beliau tidak pernah merasa takut melainkan kepada Allah Swt. Senantiasa menjaga diri dari melakukan dosa-dosa baik besar atau kecil serta sentiasa menaati Allah Swt.

Sayyid Muhammad ibn Siddiq kembali ke rahmatullah pada Rabu 6 Syawal 1354 H akibat menderita sakit jantung. Sebelum kematiannya, beliau sempat memberi pesan kepada keluarganya supaya sentiasa bertakwa dan berpegang dengan agama. Jenazah beliau disembahyangkan oleh para muridnya dan umat Islam dari seluruh pelosok kota Tangier.

Rahasia dan Doa Keluarga Ghumariyah

Banyak yang bertanya, bagaimana didikan Sayyid Muhammad ibn Shiddiq terhadap anak-anaknya, sampai bisa menjadikan anak-anaknya ulama alim?

Di sini mungkin kita bisa membenarkan peribahasa bijak bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” atau “like a father likea son.” Tapi apa rahasia yang dijalankan oleh Sayyid Muhammad ibn Shiddiq sampai anak-anaknya atau bahkan hampir semua anak-anaknya dan cucu-cunya menjadi ulama pewaris para nabi?

Izinkan saya menghadirkan sebuah jawaban yang diambil dari perkataan Syeikh Abdul Mun’im ibn Abdil Azis ibn Shiddiq al-Ghumari (cucu dari Sayyid Muhammad ibn Shiddiq) yang beliau sampaikan kepada muridnya di Zawiyah Shidiqiyah, kota Tangier. Beliau berkata:

“لبهم و سرهم فى تحرض و دعاء أبيهم على أنجاله”

“Mereka (keturunan ibn Shiddiq) mempunyai rahasia doa dari ayahnya untuk keturunannya” lalu beliau memberikan contoh yang dialami oleh paman-pamanya dan ayahnya sendiri.”

Contohnya, seperti apa yang dilakukan Sayyid Muhammad Ibn Shiddiq terhadap Sidi Ahmad Ibn Shiddiq. Dikisahkan bahwa sang ayah pernah mendoakan anaknya di dalam Ka’bah al-Mukarromah, mengambil kunci pintu Ka’bah lalu menaruhnya di mulut anakya (Abdullah), seraya berdoa di hadapan jamaah yang berada di depan Ka’bah dengan penuh keyakinan:

“اللهم اجعله سيوطيّ عصره”

“Wahai Tuhanku! Jadikanlah ia as-Suyuthi di zamannya.”

Jaamah yang hadir mengaminkan doa tersebut. Dan besarlah Sidi Ahmad ibn Shiddiq dengan kemasyhuran samudra ilmu yang luas seperti Imam Suyuthi, dan Sidi Ahmad ibn Shiddiq menjadi as-Suyuthi di zamannya.

Lalu selanjutnya adalah didikan yang dilakukan sang Ayah kepada anaknya yang kedua, yaitu Sidi Abdullah yang sedang belajar di Universitas al-Qurawiyien. Sang ayah meminta agar ia pergi jauh ke Al-Azhar Mesir untuk menuntut ilmu, padahal di Maroko sendiri banyak ulama-ulama besar yang setara bahkan lebih dari ulama-ulama Mesir. Tapi apa yang terbesit dalam firasat sang ayah? Beliau berkata kepada Sidi Abdullah:

Baca juga :  Ulama dan Revolusi Indonesia

أحب أن تذهب إلى الأزهر عالما يحتاج إليك علماء مصر

“Aku Berharap kamu pergi ke al-Azhar dan menjadi ‘Alim di sana, sampai ulama sana belajar kepadamu.”

Dan benar, selama belajar di al-Azhar, Sidi Abdullah sangat fokus menjelma menjadi kutu buku. Bahkan dikisahkan dalam kitab Tasyniful Asma’ halaman 72 karangan Syeikh Mahmud Sa’id, bahwa beliau tidak keluar dari rumahnya selama dua tahun kecuali untuk salat Jumat, tidak tidur semalaman sampai waktu Dhuha tiba, dan mengisi waktunya dengan menghafal dan menelaah kitab-kitab para ulama.

Alhasil, Sidi Abdulah ibn Shiddiq Al-Ghumariy menjadi rujukan ulama-ulama Mesir terutama tentang mentakhrij hadiss. Maka pada tahun 1349 H Beliau membuka pengajian di Masjid al-Husaini yang berada di distrik Husaini, Mesir dan masjid al-Khikiya yang berada di distrik Uzbekiyah, Kairo Mesir. Dan kini karangan-karanganya menjadi rujukan ulama-ulama Mesir.

Rahasia lain juga terjadi untuk anaknya yang ketiga Sidi Abdul Hay ibn Shiddiq. Dalam doa-doa dan panggilan keseharian, sang ayah selalu memanggil anaknya dengan panggilan al-Lukhnawy, nama seorang muhaddis, Ahli Ushul, dan ahli fiqh asal India yang menulis lebih dari 100 karangan kitab. Sang Ayah dalam canda sering berkata:

(يا لَكْنَوِيّ! عقلك أكبر من جسمك)

“Wahai Lukhnawiku! Akal mu lebih besar dari tubuhmu.”

Sedangkan rahasia terakhir yang dituturkan oleh Syeikh Abdul Mun’im adalah hal yang terjadi dengan Sidi Abdul Azis ibn Shiddiq, ayah dari Syeikh Mun’im Sendiri. Konon Sayyid Muhammad Ibn Shiddiq selalu berfirasat (berdoa) agar Syeikh Abdul Aziz menjadi sosok seperti waliyullah Abdul Aziz at-Tabba’, murid dari syeikh Sulaiman al-Jazuliy, yang kemudian disebut-sebut sebagai penerus sang guru, dan Syeikh Abdul Azis At-Tabba’ ini masuk kedalam 7 wali masyhur negeri Maghrib.

Dengan doa dan firasat yang terus muncul di dalam diri sang ayah, Sidi Abdul Azis pun akhirnya menjelma menjadi ulama ‘arif billah, sufi, muhaddis, dan faqih seperti yang difirasatkan ayahnya.

Begitulah tuturan rahasia yang diungkapkan Syeikh Abdul Mun’in ibn Abdul Azis ibn Shiddiq al-Ghumary as-Shiddiq. Benarlah sebuah sabda nabi yang mengatakan bahwa “Doa orangtua terhadap anaknya, laksana doa nabi Saw. pada ummatnya.”

Akan tetapi dari setiap doa yang terpanjatkan tersebut tidak lepas juga dari usaha dan didikan yang datang dari Syeikh Muhammad ibn Shiddiq terhadap anak-anaknya. Semoga kita bisa mengikuti dan terguyur keberkahan keluarga ulama sholihin yang satu ini. Amin.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *