Saat Islam Mengangkat Derajat Anak-anak Perempuan

Saat Islam Mengangkat Derajat Anak-anak Perempuan

Islam, adalah agama kemanusiaan. Maksudnya, agama dengan ajaran yang mengedepankan dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran Islam pasti tak akan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bahkan, tak hanya sekadar menjaga kemanusiaan, Islam juga menjaga keselamatan hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, sampai kebermanfaatan benda mati sekali pun. Ah, tepatnya, Islam adalah agama seluruh alam, agama yang membawa rahmat bagi manusia dan seluruh makhluk yang ada di alam ini.

Firman Allah Swt dalam Surah al-Anbiya’ ayat 107: Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Satu bukti Islam sebagai agama rahmat, adalah saat Islam mengangkat derajat anak-anak perempuan (bisa dipahami mengangkat derajat perempuan), dari yang tak dianggap selayaknya manusia pada zaman jahiliah, menjadi dianggap manusia.

Di zaman Arab jahiliah, sebelum hadirnya Islam, perempuan seakan tak mendapat tempat layak dalam susunan masyarakat. Tak ada keadilan gender waktu itu. Perempuan menjadi gender yang amat terasingkan dan tertindas. Bukan salah gender-nya, namun paradigma dan kebiasaan masyarakat waktu itu.

Hadirnya Islam mendobrak segala paradigma dan kebiasaan jahiliah, termasuk ketidakadilan terhadap perempuan. Islam mengangkat derajat perempuan pada kemuliaan.

Salah satu paradigma masyarakat yang didobrak oleh Islam adalah anggapan masyarakat jahiliah, kalau anak laki-laki lebih spesial daripada anak perempuan. Padahal, entah anak perempuan atau laki-laki ya sama saja, keduanya adalah berkah dari Allah Swt.

Di zaman Arab jahiliah anak perempuan amat dibenci. Saking dibencinya, sampai ada kebiasaan yang terlampau kejam, menguburkan anak perempuan hidup-hidup.

Ibnu Abbas ra menceritakan kebiasaan yang terlampau amat kejam di zaman jahiliah. Saat ada perempuan mau melahirkan, ada sebagian orang yang akan menggali lubang. Saat istrinya mau melahirkan, disuruh melahirkan dilubang itu. Apabila yang lahir anak perempuan, akan langsung dikubur hidup-hidup dalam lubang itu. Kejam, amat kejam.

Ad-Daramy meriwayatkan dalam musnad-nya. Suatu hari, datang seseorang menghadap Nabi Muhammad saw. menceritakan betapa kejam perbuatannya membunuh anak perempuannya di zaman jahiliah.

Baca juga :  Islam, Rasisme, dan Kegaduhan di Antara Kita

“Wahai Rasulullah, di zaman  jahiliyah, kami ini penyembah berhala dan tega membunuh anak kami. Aku punya seorang anak perempuan. Setelah dia mulai tumbuh dia gembira dan lucu, suka sekali bila kupanggil. Suatu hari dia kupanggil, dia pun datang, aku bawa dia menurut. Lalu aku bawa ke sumur tua punya kaum kami yang tak begitu jauh dari kediaman kami. Aku bawa dia ke pinggir sumur, biar melihat ke dalam sumur. Setelah kepalanya terjulur ke mulut sumur, terus aku angkat kedua kakinya lantas kulemparkan dia ke dalam. Ketika dia kutinggalkan, masih kedengaran suaranya memanggil, ‘Ayah…, ayah….’”

Mendengar cerita itu, Nabi Muhammad saw. pun menangis. Salah seorang yang duduk dalam majelis itu berkata, “Sudahlah, kamu telah membuat Rasulullah sedih!”

Nabi saw pun bersabda, “Biarkan dia! Dia menceritakan hal itu karena tekanan batinnya yang amat mendalam.”

Nabi saw. menyuruh orang itu untuk melanjutkan ceritanya. Orang itu melanjutkan ceritanya, dan air mata Nabi saw kembali menetes. Tampak di wajah orang itu kesedihan serta penyesalan yang amat dalam.

Nabi  Muhammad saw. pun bersabda, “Allah telah menghabiskan dosa-dosa zaman jahiliah itu dengan masuknya kamu ke dalam Islam. Perbanyaklah amalmu yang baik, moga-moga dosa-dosamu diampuni.”

Riwayat ini menceritakan kebiasaan orang-orang di zaman jahiliah menguburkan anak perempuannya hidup-hidup. Setelah Islam hadir, jelas perbuatan itu ditinggalkan.

Allah swt berfirman dalam Surah at-Takwir, ayat 8-9: “Dan apabila anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup telah diperiksa. Lantara dosa apa makanya dia dibunuh.”

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka mengutip penjelasan Imam as-Suyuti saat menafsirkan ayat ini, “Ayat-ayat ini menggambarkan betapa besar nian dosa menguburkan anak perempuan hidup-hidup.”

Perbuatan jahiliah itu pun ditinggalkan dengan hadirnya ajaran Islam sebagai agama rahmat.

Tak semua masyarakat Arab di zaman jahiliah yang berbuat demikian. Banyak juga yang membencinya. Semisal, Khuwaylid bin Asad yang tetap amat gembiranya saat membelai Khadijah yang baru lahir. Meski Khadijah binti Khuwaylid adalah anak perempuan, namun Khadijah tetap menjadi anak yang amat disayangi ayahnya. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Sibel Eraslan dalam karyanya “Khadijah”.

Selain itu, tersebut juga dalam riwayat seorang bernama Sha’sha’ah bin Najiyah bin Iqaal ra, seorang pemuka Bani Tamim yang amat membenci perbuatan terlampau kejam itu. Kalau Sha’sha’ah tau ada orang bermaksud menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, dirinya akan segera mendatangi orang itu, lalu menebus si anak perempuan itu dengan hartanya sendiri.

Baca juga :  Islam adalah Agama Keselamatan Dunia Akhirat

Saking seringnya Sha’sha’ah melakukan perbuatan mulia itu, sampai beratus gadis-gadis kecil yang ditebusnya. Ditebus pada ayah mereka, dan anak-anak perempuan itu diambilnya sebagai anak dan dipeliharanya.

Nabi Muhammad saw. sangat menghormati Sha’sha’ah, sebab perbuatan mulianya itu. Sha’sha’ah pun masuk Islam. Nabi saw pernah meminta pada Sha’sha’ah, “Cobalah ceritakan kepadaku apa yang pernah engkau perbuat di zaman jahiliah itu!”

Sha’sha’ah pun bercerita, “Ya Rasulullah, aku lihat di waktu itu orang berbondong saja tak ada tujuan, dan aku sendiri tak tahu manakah yang benar. Tetapi hatiku merasa kalau tak seorang pun menempuh jalan yang betul. Anak perempuan dikuburkan hidup-hidup, aku pun yakin dalam hati kalau perbuatan ini tidak dibolehkan oleh Allah yang Maha Tinggi. Maka sekadar tenagaku, aku cobalah mencegah perbuatan itu, lalu aku tebus anak-anak itu, jika kulihat orang tuanya telah hendak bertindak.”

Nabi Muhammad saw juga termasuk orang yang, jelas, amat membenci perbuatan itu. Nabi saw sendiri memerlihatkan contoh teladan betapa menyayangi anak-anak perempuannya. Zainab, Raqayyah, Ummi Kultsum, dan Fatimah az-Zahra semua anak perempuannya amat disayanginya.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menceritakan sebuah riwayat, ketika salah seorang anak perempuan Nabi saw yang masih kecil digendong dipangku oleh Nabi saw dengan begitu bangga dan bahagianya. Ada orang bertanya, bagaimana perasaan beliau ketika itu?

Baca juga :  Jalan Sunyi Mencari Islam

Nabi saw pun menjawab, “Dia adalah kembang yang wangi, kita cium dia. Dan dikaruniakan Allah kepada keluarganya.”

Sikap itu, menggambarkan betapa sayangnya Nabi saw pada putri-putrinya. Sikap yang jelas amat berbeda dengan sikap kebanyakan orang-orang jahiliah yang memandang anak laki-laki lebih istimewa daripada anak perempuan.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengutip pendapat Muhammad Abduh, “Cobalah perhatikan bagaimana kejam dan kesatnya hati orang-orang ini. sampai hati mereka membunuh anak-anak gadisnya yang tak berdosa, cuma karena takut miskin dan malu; dan semuanya itu berganti kasih sayang dan sikap lemah lembut, ketika bangsa Arab menerima Islam. Alangkah besarnya nikmat Islam atas perikemanusiaan seluruhnya, dengan terhapusnya adat yang sangat buruk dan keji ini.”

Hadirnya Islam mendobrak (menghapus) kebiasaan jahiliah itu. Islam menegakkan keadilan gender, kalau baik anak laki-laki mau pun perempuan, keduanya adalah “dikaruniakan Allah untuk keluarganya.”

Sebagian masyarakat muslim Nusantara, hari ini, tanpa sadar memiliki pandangan layaknya paradigma jahiliah itu. Memandang kalau anak laki-laki lebih spesial daripada perempuan. Alasannya, laki-laki akan meneruskan nasab.

Padahal, Islam telah menghapus paradigma jahiliah yang demikian, dan mengajarkan kalau antara anak laki-laki dan perempuan keduanya harus disayangi. Tak ada yang lebih unggul, sebab sekali lagi, entah anak laki-laki mau pun perempuan, keduanya adalah “dikaruniakan Allah untuk kedua orang tuanya-keluarganya

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *