Saleh Ritual dan Saleh Sosial Menurut Gus Mus

Saleh Ritual dan Saleh Sosial Menurut Gus Mus

Gus Mus, yang memiliki nama lengkap KH Ahmad Mustofa Bisri, merupakan salah satu tokoh sangat berpengaruh di lingkungan masyarakat Indonesia. Kiprahnya dalam berdakwah Islam yang santun sudah menjadi bahan ajar bagi banyak khalayak masyarakat.

Gus Mus sering memberikan berbagai wejangan yang mencerahkan. Yakni, bagaimana pentingnya berdakwah yang tidak hanya mengedepankan saleh ritual semata, melainkan juga harus dipraktikkan dalam bersosial (saleh sosial).

Gus Mus menuturkan, gerak laku kita (ibadah) di dalamnya sering hanya sebatas gerak laku rutin yang kosong makna. Dzikir dan bacaan-bacaan kita di dalamnya tidak jarang sekedar terluncur oleh bibir-bibir yang terbiasa. Akibatnya, laku pun tak lagi dikendarai dan dikendalikan oleh makna yang terkandung di dalamnya.

Maka, tidak mengherankan jika kualitas shalat sebagian dari kita tidak sesuai dengan orientasi dasarnya. Orientasi itu seharusnya dapat menjadi tanha ’anil fakhsya-i wal munkar (dapat membentengi orang yang melakukannya dari perbuatan keji dan mungkar). Namun, justru tak tampak pengaruh positifnya dalam kehidupan pelaku shalat yang kualitasnya minim itu.

Saleh Ritual, Saleh Sosial

Dalam konteks ini Gus Mus memberikan sebuah isyarat bagaimana sebuah pentingnya kesalehan ritual bagi kita dalam beribadah. Sehingga saleh ritual itu bisa menjadi batu loncatan dalam rangka menyeimbangkan dengan kesalehan sosial.

Ibadah ritual kita, harus juga termaktub dalam ibadah sosial. Seperti misalnya, kebaikan yang diajarkan oleh agama harus senantiasa disebarkan dalam kehidupan sehari-hari, agar ada keseimbangan antara saleh ritual dan saleh sosial. Itulah mengapa dalam konsep saleh ritual ini Gus Mus memberikan beberapa arahan bagaimana menjadi manusia yang cerdas dalam berdakwah secara santun dan menyenangkan.

Poin pertama yaitu bercakap dengan diri. Sebuah ajaran yang mengajak setiap diri untuk  melakukan sebuah perenungan-perenungan. Dalam hal ini kita merenungi aktivitas keseharian dalam kehidupan bersosial dan gerak ritual yang sudah menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Perenungan itu bertujuan untuk menemukan kualitas yang mendamaikan dalam dirinya sendiri.

Setelah kualitas diri sudah tercapai, poin yang kedua ialah membahas tentang bermunajat kepada Allah. Manusia dengan bekal akal dan pikiran yang sehat tidak akan menemukan kualitas ritual dan sosialnya apabila tidak pernah merenungkan keadaan dirinya dalam bersembahyang.

Dengan kata lain, untuk mengenal kualitas keimanan, seseorang harus merenungkan tindakan yang senantiasa ia lakukan dalam sembahyang. Apakah sudah sesuai dengan diajarkan oleh agama, pesan kemanusiaan apa yang sudah diberikan diri ini untuk menjaga keharmonisan dalam hidup berdampingan.

Apabila perenungan tersebut sudah memberikan energi yang positif bagi diri, maka  seseorang dianjurkan untuk senantiasa mengedepankan sikap ramah atau pentingnya sebuah pergaulan bersama. Di mana komunikasi, kedekatan dengan sesama menjadi salah satu yang menarik untuk bercengkerama. Seperti misalnya berdiskusi untuk mencari kualitas dalam dirinya sendiri, yang kemudian akan menjadi jembatan untuk manusia agar senantiasa merenungkan kualitas ritual dan keimanan dalam dirinya sendiri.

Ketika poin-poin tersebut sudah berada dalam tatanan kehidupan seseorang, ucapan tentang keburukan akan bangsa ini akan tersingkirkan dengan mudahnya. Sebab, dimensi kemanusiaan yang dikuatkan dalam diri akan membawa seseorang pada pemikiran yang kreatif dan cerdas.

Bahwa, dalam kehidupan bermasyarakat atau bersosial yang dibutuhkan bukan bagaimana meyakinkan kebenaran yang kita anggap kepada orang lain, melainkan menggali kebenaran itu lebih jauh, agar menemukan dimensi pengetahuan dan pemahaman yang lebih matang. Karena pada kenyataannya apa yang kita yakini benar, belum tentu di mata orang lain itu baik.

Titik poin yang dalam konteks ini ialah, bahwa kehidupan yang kita jalani harus seimbang. Seseorang harus memiliki sikap yang tegas dalam menentukan arah hidup yang benar. Dan untuk menempuh kebenaran itulah seseorang diharapkan memiliki sikap yang rendah hati, ikhlas dan menerima dengan kehidupan yang dijalani.

Menaladani Gus Mus

Untuk itu, meneladani dakwah yang diajarkan oleh Gus, sekarang ini bisa menjadi sebuah keharusan. Selain mengajarkan tentang Islam yang santun, beliau juga memberikan gambaran bagaimana bangsa Indonesia dipenuhi dengan berbagai perbedaan. Itulah yang ia gambarkan salah satu bentuk dari saleh sosial.

Gus Mus memberikan sebuah wejangan yang sangat inspiratif dan menarik untuk ditiru. Selain memberikan sebuah petuah untuk menjadi manusia yang bermartabat, ia juga mengajarkan bagaimana menjadi insan yang senantiasa mendekatkan diri kepada sang pencipta. Baik dalam pendekatan secara ritual ataupun secara sosial.

Siapapun termasuk kita akan mendapatkan pencerahan bagaimana menjadi manusia yang pandai berikhtiar. Tujuan utamanya yakni untuk meraih kesalehan dalam menentukan keimanan, kualitas ritual ibadah, hingga kualitas akhlak seseorang dalam bersosial. Hingga seseorang akan menemukan puncak keimanan dari kualitas dirinya sendiri.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *