Sammir dan Vanni Mencari Tuhan

“Menghina Tuhan tidak perlu dengan umpatan atau ahli kitab-Nya. Khawatir besok tidak bisa makan saja sudah menghina Tuhan.” [1]

Sudah 5 tahun yang lalu Sammir menginjakkan kaki terakhir di rumah yang baginya seperti neraka. Padahal, rumah yang ia tinggalkan dihuni oleh para ahli agama. Sammir memilih menjadi seorang pemuda yang ateis dan bercita-cita ingin mati muda. Tak menyangka, Sammir dipertemukan dengan salah satu penghuni rumah yang dianggapnya neraka tersebut pada suatu kesempatan. “Kak Sammir?” ucap seorang pemuda yang sekiranya terpaut usia 2 tahun dengan Sammir. Sammir buru-buru pergi meninggalkan orang yang coba mengenalinya tersebut.

 

Cara Sammir Mencari Tuhan

Pada suatu pagi hari, Sammir yang tinggal seorang diri di sebuah indekos tak ingin menyia-nyiakan waktu. Ia ingin segera bertemu dengan Tuhan. Meraih buku “A Letter Concerning Tolerance” karya John Locke. Sesungguhnya, Sammir sangat kontra dengan buku tersebut, tapi Sammir tak ingin menyimpulkan suatu buku sebelum selesai membacanya sampai habis. Sammir semenjak meninggalkan rumah juga lebih paham tentang toleransi dan tak ingin memandang seseorang hanya dari sampulnya, Sammir berusaha sekuat tenaga untuk menjadi manusia yang manusia.

John Locke menolak keras adanya orang ateis. “Mereka tidak dapat dipercaya.” Sammir merasa tercengang saat membaca kalimat tersebut dalam buku yang ada di tangannya. Dengan mata yang masih agak lengket, pikiran belum bisa fokus sepenuhnya, dan hati yang masih gundah, Sammir mencoba mengulang membaca kalimat tersebut, agar paham siapa yang dimaksud “Mereka” dalam kalimat John Locke.

Ah, agaknya Sammir sudah sampai pada tahap pemahaman setelah membaca sebanyak 13 kali kalimat “Mereka tidak dapat dipercaya.” Milik John Locke. John Locke bermaksud menunjuk mereka sebagai “orang-orang ateis”. “Tuhan, apakah benar orang-orang yang beragama memang benar adanya punya toleransi?” Sammir masih bingung dengan beberapa orang yang pernah ia temui, justru orang-orang yang beragama mempunyai toleransi yang sangat kurang, begitu kurang.

 

Cara Vanni Mencari Tuhan

Pada sebuah bulan purnama yang tampak penuh, Vanni mendapat sebuah perintah dari ayahnya untuk mengembara ke kota yang dihuni oleh beberapa orang ateis. Menurut ayah, beliau bermimpi bahwa Vanni akan bertemu dengan seseorang yang sungguh merindukan Tuhan di kota tersebut, hanya saja orang itu sampai saat ini masih risau mencari di mana keberadaan Tuhan. Vanni seorang anak yang berbakti dan menurut terhadap perintah orang tua, ia berangkat dengan bekal seadanya dan agama yang ia pelajari selama ini. “Bahkan, jika saja ayah Vanni ingin menyuruhnya dijadikan kurban pun ia bersedia karena saking patuh dan taatnya kepada orang tua dan Tuhan.” [2]

Dalam pengembaraan Vanni di kota yang dihuni mayoritas ateis tersebut, ia sempat dibuat terpana. Vanni bertemu dengan sepasang kekasih yang sedang duduk di kursi taman. Vanni awalnya hanya ingin bertanya di mana masjid terdekat di kota ini. Lalu, seorang laki-laki yang duduk di kursi taman tersebut menyuruh Vanni untuk duduk di kursi taman sebelah yang masih kosong. “Maaf Tuan, di sini masjid hanya sedikit, bahkan bisa dihitung jari, masjid-masjid di sini juga penuh debu karena jarang dipakai untuk ibadah. Tapi, jika Tuan ingin ibadah, bolehlah menumpang di rumah sahaya,” ucap laki-laki yang sedang duduk di kursi taman bersama kekasihnya tersebut.

Baca juga :  Ajengan Aban [Cerpen]

Vanni tak menyangka dengan tawaran seorang laki-laki itu, dikiranya ia akan dihina, tak digubris, dan dicacimaki oleh sepasang kekasih itu. “Subhanallah,” ucap dalam hati Vanni. Vanni merasa tergoncang hatinya ketika mengetahui sebuah toleransi seorang ateis yang sangat tinggi, begitu tinggi. Dalam hati Vanni mendoakan kedua pasangan kekasih tersebut agar segera diberi sebuah petunjuk untuk kembali menemukan jalan yang benar. “Lalu, apakah orang yang tak beragama harus dimusuhi? Kurasa tidak.” Vanni bergejolak batinnya.

 

Pertemuan Sammir dan Vanni

Sammir sedang berjalan di alun-alun kota dan ia sedang berusaha mencari sebuah Tuhan di kota kecil yang dihuni oleh beberapa orang tidak percaya Tuhan. “Apakah benar Tuhan hanya untuk orang-orang beragama? Kurasa tidak.” Sammir bicara di dalam hati. “Kak Sammir,” Vanni menepuk bahu Sammir dari belakang. Sammir membalikkan badan dan ia tercengan melihat wajah itu. “Maaf, Anda salah orang, Tuan,” jawab Sammir. “Tidak, tidak mungkin aku salah orang, ya, kau adalah kak Sammir,” ucap Vanni tegas. “Tapi, aku bukan Sammir 5 tahun yang lalu,” Sammir menjawab. “Aku tak peduli dengan perubahanmu, yang terpenting aku sekarang bisa menemukanmu,” ucap Vanni.

Baca juga :  Simbiosis Mutualisme [Cerpen]

Sammir dan Vanni adalah seorang kakak-adik kandung. Sammir yang merasa tidak kuat harus hidup terkekang di sebuah rumah mirip neraka memilih angkat kaki 5 tahun yang lalu, sedangkan Vanni yang merasa batinnya kokoh tetap bertahan di sebuah rumah yang bagi Sammir adalah neraka tersebut. “Ah, agaknya kini kau sudah dewasa,” ucap Sammir. “Kakak juga terlihat lebih matang sekarang,” jawab Vanni.

Sammir terus berjalan dan menuju sebuah pojok alun-alun untuk mencari tempat duduk. Mereka berdua sampai di pojok alun-alun yang ada beberapa kursi kosong untuk ditempati. Sammir meminta Vanni untuk duduk terlebih dahulu, sedangkan dia ingin membeli minuman untuk menemani percakapan dua saudara yang sudah 5 tahun tak bertemu. Tak selang beberapa lama, kini Sammir menghampiri Vanni yang sudah duduk di kursi pojok alun-alun dengan membawa dua botol minuman dingin yang segar.

“Mau apa kamu datang kemari?” tanya Sammir. “Perintah ayah yang didapat dari mimpi, kak Sammir,” jawab Vanni. Sammir terdiam, ia mengingat perlakuan ayahnya beberapa tahun yang lalu sangat menjengkelkan. Bagaimana tidak menjengkelkan, menolong orang yang kecelakaan saja tidak boleh kalau bukan bagian dari aliran yang dianut ayahnya. Apakah hal tersebut wajar? Menolong adalah bagian dari ajaran agama tanpa membeda-bedakan agama ataupun aliran yang dianut. Sammir juga berpikir, bahwa mimpi ayahnya tersebut hanya akal-akalan semata.

Lalu, bagaimana dengan Adam yang terusir dari surga tersebut? Apakah setan yang salah ataukah Hawa yang salah? Agaknya mencari benar dan salah adalah bukan sebuah jawaban yang logis dan tak akan pernah ditemukan. Sammir samar-samar ingat bahwa tertulis dalam Surah An-Nisa:43 tentang larangan salat ketika mabuk. Sammir berpikir keras, lalu, apakah ayahnya juga sudah dimabukkan oleh aliran yang ia pegang selama ini sehingga bersikap terlalu egois? Entah mana yang benar. Ah, agaknya sudah dikatakan, hidup bukan benar dan salah bukan?

Sammir dan Vanni Bertemu Tuhan

Baca juga :  Perempuan Bermata Hujan [Cerpen]

Sammir pernah membaca pada sebuah artikel berita yang mengatakan bahwa anggota Partai Komunis di China harus menjadi seorang ateis. [3] Yang Yuanzhong meminta kepada semua anggota Partai Komunis untuk berubah menjadi seorang yang ateis demi kebaikan partai, ia tak ingin keyakinan agama malah membuat perpecahan di dalam partai. [4] Dari situ Sammir belajar, bahwasanya seorang ateis adalah orang yang punya toleransi tinggi terhadap semua umat, hanya saja mereka mempunyai pola pikir yang berbeda dalam memandang keberadaan Tuhan. Mabuk dan bercinta adalah kondisi di mana dirinya bisa merasa dekat dengan Tuhan, karena di kedua hal tersebut terdapat kenikmatan yang pada dasarnya diberikan Tuhan. Meskipun dua hal tersebut sudah tertulis dalam kitab bahwa dilarang, tapi apa jadinya jika kemesraan dengan Tuhan didapat Sammir dengan cara yang seperti itu.

Vanni masih menjadi seorang anak yang penurut dan taat kepada orang tua dan Tuhan. Vanni masih menganut ajaran-ajaran yang ada di dalam kitab. Tapi, setelah 5 tahun tak bertemu dengan Sammir dan mengembara di kota yang dihuni mayoritas orang ateis ini, Vanni menjadi belajar banyak hal. Mulai dari toleransi, cara memandang Tuhan, dan memperlakukan manusia yang manusia. Vanni mulai berpikir, bahwa sebenarnya setiap orang adalah punya Tuhan masing-masing dalam dirinya, entah Tuhan ada di dalam hatinya, entah di dalam kepalanya, atau Tuhan yang berupa Dzat Yang Maha Esa. Tuhan yang selama ini dicari Sammir dan Vanni ternyata tak pernah kemana-mana.

Catatan:

[1] kata-kata seorang budayawan nyentrik Sujiwo Tejo

[2] kisah Nabi Ibrahim yang bermimpi menyembelih putranya Nabi Ismail

[3] syarat menjadi anggota Partai Komunis di China harus menjadi ateis yang tertuang dalam pasal 36 pada 11 Maret 1982

[4] Yang Yuanzhong adalah Ketua Partai Komunis yang menjabat saat itu

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *