Sapardi dan Arti Kata “Sederhana”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

~Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”

 

Sebagian dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan sajak di atas. Acapkali sajak tersebut dijadikan sebuah pembukaan di undangan pernikahan, status di media sosial, dan atau di sebuah kado. Sajak tersebut merupakan salah satu tulisan Sapardi Djoko Damono.

Selain sajak di atas, Sapardi juga telah melahirkan karya-karya lain yang tidak kalah luar biasa. Seperti puisi berjudul Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Nanti, Yang Fana Adalah Waktu, Sajak Kecil Tentang Cinta, Hatiku Selembar Daun, Menjenguk Wajah di Kolam, Kenangan, Sementara Kita Saling Berbisik, Sajak Tafsir, dan lain-lain.

Sapardi Djoko Damono atau yang lebih dikenal dengan SDD lahir di Solo pada 20 Maret 1943 dari pasangan Sapariah dan Sadyoko. Tercatat, SDD pernah menimba ilmu di Fakultas Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan menyelesaikan doktoralnya di Universitas Indonesia (UI).

Berdasarkan laman resmi Kemendikbud, SDD diketahui pernah menjadi dosen tetap di berbagai universitas. Seperti diantaranya  IKIP Malang Cabang Madiun (1964-1968), Fakultas Sastra-Budaya di Universitas Diponegoro (1968-1973), dan Dosen tetap di Universitas Indonesia (1974-2005).

Baca juga :  Daun
Sastrawan Sederhana

Pilihan kata yang sederhana dan mampu memunculkan imajinasi yang luar biasa. Dalam, luas, dan tak lekang oleh waktu. Banyak makna hidup yang SDD siratkan dalam suratan kata-katanya. Itulah gambaran dari setiap sajak yang berhasil dikarang oleh Sapardi heran jika banyak seniman yang memusikalisasi puisi-puisi sang maestro.

Bagi yang menyukai karya-karyanya Pak Sapardi Djoko Damono (SDD), tentu tidak asing dengan hal-hal sederhana dalam setiap karyanya.

Seperti dalam sajak berjudul “Aku Ingin”. Dalam sajak ini, Sapardi tidak memunculkan kata-kata yang melankolis, apalagi menggunakan istilah-istilah roman picisan. Namun, Sapardi lebih memilih diksi yang sangat sederhana. Api, abu, dan angin.

Itulah, betapa sederhanya sajak Aku Ingin”. Namun siapa yang dapat menyangkal, jika didalam sajak yang sederhana tersebut menyimpan makna yang mendalam.

Dalam sebuah talkshow di Mata Najwa, oleh Joko Pinurbo atau yang biasa disapa Jokpin, sajak “Aku Ingin” dianggap sebagai sebuah ungkapan kasih tak sampai. Jokpin juga menyebutkan bahwa puncak dari sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan adalam sebuah kesederhanaan dalam sebuah ikatan. Namun, untuk mengejawantahkan sebuah hubungan yang sederhana inilah yang justru tidak sederhana.

Selain sajak berjudul “Aku Ingin”, sajak berjudul “Hujan Bulan Juni” juga tidak kalah familiar. Bahkan sajak ini juga dijadikan sebagai sebuah judul buku kumpulan dari puisi-puisi SDD. Buku ini juga diangkat kedalam sebuah film dengan judul yang sama, dengan Velove dan Adipati Dolken sebagai pemeran utama di dalamnya.

Baca juga :  Zhuge Liang; Surat untuk Anakku

Dalam novel tersebut, SDD menciptakan sebuah misteri dan tanda tanya di setiap babnya ini. Sungguh bisa membuka cakrawala bagi pembacanya. Selain itu, pembaca juga sedikit banyak akan terinspirasi oleh ciri khas penulisan novel penyair besar milik Indonesia ini.

Jika puisi-puisi Pak SDD telah dikenal luas, bahkan dikutip di mana-mana, maka prosa dalam buku Hujan Bulan Juni bisa membuat pembaca muda mengenal lebih dalam dunia kreativitas Pak SDD.

Saya sendiri memang baru menyelesaikan membaca novel itu beberapa waktu lalu. Dan saya sendiri pun tidak menyangka bahwa saya mendapatkan begitu banyak hal  pasca novel itu saya baca habis.

Beberapa hal yang saya dapat, misalnya, kebudayaan dari berbagai tempat seperti Solo, Menado, dan Jepang. Kemudian tentang bagaimana cara berpikir orang-orang Jawa (Solo) yang berbeda dari pada cara berpikir orang-orang Menado.

Dengan memahami itu, kita juga bisa memahami bahwa kebudayaan setiap entitas suku bangsa juga sudah pasti berbeda, kan?

Lalu cara Pak SDD meramu kelucuan sepasang insan yang (diduga) saling jatuh cinta. Kalimat-kalimat dan dialog-dialog antara tokoh lelaki bernama Sarwono dan tokoh perempuan bernama Pingkan, mampu membuat pembaca merasakan kedekatan antara tokoh-tokoh itu dengan diri pembaca sendiri.

Baca juga :  Ibnu Thaba’thabai dan Wacana Kritik Syair

Misalnya bagaimana ketika mereka saling ledek padahal mereka sedang saling merayu. Dan itu mengingatkan kita pada kondisi seperti saat cinta lokasi atau terbelit rasa pada salah satu teman kita.

Selain dua hal di atas, masih banyak hal-hal  menarik dan unik lain di dalam novel ini. Kejutan-kejutan pun akan bisa dirasakan pembaca menjelang akhir cerita.

Ada satu pertanyaan yang masih membuat saya penasaran pada kisah novel ini. Yaitu mencari titik temu antara puisi Hujan Bulan Juni dan gagasan besar dalam novel itu. Barangkali perlu perenungan ekstra atau saya sendiri yang kurang jenius untuk memaknainya.

Terlepas dari itu semua, ini bukanlah resensi buat novel tersebut, hanya sepatah komentar yang ingin dibagikan kepada teman-teman sekalian. Kini sastrawan besar Indonesia ini telah tiada.

Kendati demikian, semoga karya-karya Eyang Sapardi akan mampu menelurkan Sapardi-Sapardi baru yang mampu mengharumkan nama Indonesia. Selamat jalan, Eyang. Trimakasih atas semua karyamu yang luar biasa. Wallahu A’lamu bi al-Shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *