Sarinah, Perempuan Jelata Inspirator Sukarno

“Dari dialah (Sarinah), saya belajar mencintai rakyat jelata. Ia berasal dari rakyat biasa, tetapi mempunyai kebijaksanaan yang luar biasa.” (Sukarno). Siapakah Sarinah?

Bagi sebagian kalangan, Sarinah disebut sebagai tokoh imajiner bagi Sukarno untuk memvisualisasikan kaum hawa. Kenyataan sejarah, Sarinah memang tokoh riil yang pernah mengasuh presiden pertama Republik Indonesia itu sejak berusia 6 tahun. Dalam autobiografinya yang dituturkan kepada Cindy Adams, Sukarno tak alpa mengenangnya.

Anak dari rahim Idayu Nyoman Rai Sarimben itu dipanggil secara khusus oleh Sarinah: thole putraku sing kinasih. Sukarno memanggil Sarinah dengan “mbok”. Sarinah tidak menikah dan tinggal di rumah orangtua Sukarno seperti keluarga sendiri.

Sarinah tak meminta bayaran. Merunut sejarah masa cilik Sukarno, menurut John Ledge, Sukarno bersua Sarinah ketika ia dan keluarganya pindah ke Mojokerto.

Sarinah mengasuh Sukarno tak selamanya. Setelah Sarinah, ada perempuan yang silih berganti mengasuh Sukarno, tetapi Sarinah yang paling berkesan. Sarinah dianggapnya bukan sekadar seorang pengasuh, tetapi pemberi inspirasi dan gagasan besar tentang perempuan, sosial, dan politik.

Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat, yakni rakyat kecil. Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, ‘Karno, di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya, engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia.’”

Sarinah, perempuan jelata penuh hikmah. Sungguh memikat pola asuhnya. Sarinah menemani tidur, bermain, mendongeng, dan memberikan pesan-pesan yang mampu membuka hati dan pikiran. Pesan yang disampaikan Sarinah tertanam kuat dalam pikiran Sukarno.

Baca juga :  Perjuangan Ny. Sukonto Memajukan Nasib Kaum Perempuan

Rasa cinta terhadap rakyat jelata, kaum perempuan, dan Tanah Air. Sarinah menjadi inspirasi Sukarno untuk mencintai sesama manusia tanpa mempedulikan kelas sosial. “Sarinah yang mengajarku mengenal kasih sayang,” ujar Sukarno.

Disiplin, Telaten, dan Tekun

Sarinah adalah perempuan yang disiplin, telaten, dan tekun. Sifat dan kepribadiannya diteladani oleh Sukarno. Sarinah yang juga sibuk mengurus pekerjaan rumah masih sempat memberikan petuah-petuah mulia. Menurut S. Wisnuwardhana (2015), semua petuah itu menjadi sumber pemikiran Sukarno tentang humanisme dan keperempuanan.

Perpisahan dengan Sarinah saat Sukarno beranjak remaja menimbulkan perasaan kehilangan yang mendalam. Dalam autobiografinya, Sukarno mengaku membutuhkan waktu yang lama untuk meredam rasa sedihnya. Namun, bagi Sukarno, Sarinah tak hanya masa lalu, tetapi senantiasa hadir dalam setiap langkah dan perjuangannya.

Pada tahun 1947, dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Sukarno menghadirkan Sarinah sebagai ruh dan cintanya terhadap kaum perempuan Indonesia. Sarinah menjelma kursus politik yang diselenggarakan oleh Sukarno saat kekuasaan negara berpindah di Yogyakarta.

Sarinah mengilhami Sukarno. Hasil belajar Sukarno dari berbagai literatur dan riset lapangan menambah referensinya terkait wacana dan aksi kaum perempuan.

Materi kursus yang ditulis Sukarno lantas dibukukan dengan judul Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia. Buku ini merupakan inti pemikiran Sukarno tentang kemerdekaan kaum perempuan, harmoni dalam masyarakat, perjuangan bersama, serta politik kekuasaan yang menjunjung tinggi keadilan dan perikemanusiaan.

Baca juga :  R.A. Sutartinah, Perempuan Hebat di Balik Kesuksesan Ki Hajar Dewantara

Sukarno menuangkan gagasan besar tentang posisi perempuan dalam revolusi kemerdekaan. Sukarno menjadi pengajar kursus perempuan dan mengangkat nama Sarinah memang untuk mengenang Sarinah (S. Wisnuwardhana, 2015).

Buku lawas itu tetap masih terbaca, sebab diterbitkan lagi pada 2019 silam oleh Yayasan Bung Karno bekerjasama dengan Media Pressindo. Tersaji enam bab dalam buku yang disunting Sukmawati Sukarno Putri ini, yakni Soal Perempuan, Laki-Laki dan Perempuan, Dari Goa ke Kota, Matriarchat dan Patriarchat, Wanita Bergerak, dan Sarinah dalam Perjuangan Republik Indonesia. Sarinah, kata Sukarno dalam pengantar buku ini, adalah “orang kecil”, tetapi budinya selalu besar!

Membangun Gedung Sarinah

Tak hanya menamai bukunya dengan Sarinah sebagai tanda terima kasih dan penghormatan, Sukarno juga membangun Gedung Sarinah. Banyak suara minor terkait pembangunan tersebut. Sukarno menyatakan bahwa gedung itu pusat perbelanjaan dalam negeri, khususnya hasil produksi pertanian dan industri rakyat.

Misi Sukarno menginginkan gedung itu sebagai wadah bagi para pelaku usaha kecil dan menengah tetap diwariskan. Gedung Sarinah menjadi media untuk memenuhi kepentingan rakyat kecil sebagai mitra usaha.

Saat didirikan, Gedung Sarinah merupakan pusat perbelanjaan pertama di Asia Tenggara. Ketika Singapura belum melakukan pembangunan dan Kuala Lumpur masih dipenuhi rawa-rawa, Jakarta telah membangun department store pertama. Sarinah diketahui wafat pada 28 Desember 1959 dan disemayamkan di pemakaman rakyat di Kelurahan Kepatihan, Kota Tulungagung, Jawa Timur (S. Wisnuwardhana, 2015).

Baca juga :  Srihani, Istri Loyalis Sukarno

Banyak interprestasi soal Sarinah. Sarinah adalah penyemai kesadaran Sukarno atas kondisi sosial bangsanya yang kelak diperjuangkannya untuk merdeka. Sarinah bisa dikatakan sebagai pemantik rasa cinta Sukarno kepada bangsa dan tanah airnya sejak usia belia. Lebih dari itu, lewat Sarinah, Sukarno ingin agar perempuan Indonesia berkiprah selaras kodrat alam. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.