Sayyidah Fidhah, Berbicara Menggunakan Alquran

Sayyidah Fidhah, Berbicara Menggunakan Alquran

Dalam kitab Bihar al-Anwar yang dikutip oleh Musthafa Muhammad Ahwazi dalam bukunya yang berjudul ‘Kisah-Kisah Keajaiban Al-Quran’ dikisahkan tentang Sayyidah Fidhah.

Diceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang melakukan perjalanan melewati gurun pasir yang panas.

Secara kebetulan, ia melihat seorang perempuan berjalan sendirian, lantas menemuinya dan bertanya, “Siapakah anda?”

Perempuan itu menjawab dengan lantunan Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 89, “Dan katakanlah ‘salam’, kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

Dari ayat yang dibacakan, lelaki tersebut paham bahwa perempuan itu memintanya untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, sebelum membicarakan hal-hal lain. Kemudian ia mengucapkan salam dan meneruskan pertanyaannya, “Apa yang anda lakukan di padang pasir sendirian ini?”

Perempuan itu menjawab dengan lantunan Surah Az-Zumar ayat 37, “Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seseorang yang menyesatkannya.

Ia paham kalau perempuan tersebut tersesat dan berharap untuk berjumpa dengan Allah Swt. Semakin penasaran, ia pun bertanya lagi, “Anda dari golongan jin atau manusia?”

Perempuan menjawab, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid,” (Al-A’raf ayat 31).

Dari ayat itu, si lelaki paham kalau perempuan itu dari golongan manusia. Ia pun kembali bertanya “Dari mana anda datang?”

Perempuan itu kembali menjawab, “Mereka itu adalah (seperti) dipanggil dari tempat yang jauh,” (Fushsilat ayat 44).

Lelaki itu paham, kalau perempuan tersebut berasal dari tempat yang jauh. “Anda hendak kemana?”, tanyanya lagi.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup,” (Ali-Imran ayat 97).

Ia mengerti bahwa perempuan itu  hendak berangkat haji. Dengan perlahan, si lelaki bertanya lagi, “Apa anda sudah makan?”

Perempuan pun menjawab, “Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan,” (Al-Anbiya ayat 8). Ia paham kalau si perempuan belum makan.

Kemudian lelaki itu menyarankan perempuan itu untuk bergegas agar segera menemukan kafilah hajinya. Lagi-lagi ia menjawab “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (Al-Baqarah ayat 286).

Mengetahui kalau perempuan itu tidak sanggup berjalan dengan cepat dan tak berdaya lagi, maka laki-laki tersebut menyarankan agar naik unta bersamanya. Dengan suara yang merintih si perempuan menjawab, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa,” (Al-Anbiya ayat 22).

Perempaun itu tidak mau menaiki unta bersamanya, takut terjadi fitnah. Dengan rendah hati, si lelaki turun dari unta dan menyuruhnya untuk menaikinya. Perempuan itu pun kembali melantunkan ayat Alquran, “Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,” (Az-Zukhruf ayat 13).

Ketika mereka telah sampai pada suatu kefilah, si lelaki bertanya lagi padanya, “Apakah ada orang yang anda kenal di kafilah ini?”

Perempuan menjawab dengan ayat yang agak panjang, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul, ” (Ali-Imran ayat 144).

Disambung dengan ayat; “Hai Yahya, ambilah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh,” (Maryam ayat 12), dan diteruskan; “Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah,” (An-Naml ayat 9), serta diakhiri dengan ayat; “Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa di muka bumi),” (Shad ayat 26).  

Dari keempat ayat yang dibacakan di atas, si lelaki paham bahwa perempuan itu mengenal empat orang di kafilah yang ditemuinya, yaitu Muhammad, Daud, Musa, dan Yahya.

Ketika keempat orang tersebut mendekat, perempuan itu kembali melantunkan ayat, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,” (Al-Kahfi ayat 46). Maksudnya bahwa keempat orang tersebut adalah anak dari perempuan yang ditolong oleh lelaki itu.

Si perempuan turun dari unta dan berbalik arah menghadap keempat anaknya sembari melantunkan ayat, “Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang berkerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil utuk berkerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya,” (Al-Qashash ayat 26).

Dan anak si perempuan tersebut langsung bergegas mengambil beberapa uang untuk diberikan kepada si lelaki sebagai upah karena telah mengantarkannya kembali ke kafilahnya. Tetapi, ia belum puas dengan anaknya, seperti merasa ada yang kurang. Maka ia melantunkan ayat; “Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang ia kehendaki,” (Al-Baqarah ayat 261).  Dengan sigap, anaknya langsung mengambil uang lagi dan menambahkannya pada si lelaki itu.

Selama perjalanan mengantarkan perempuan tersebut, si lekaki amat terkesan dengannya. Bagaimana tidak? Tiada suara yang keluar dari mulutnya melainkan hanya ayat Alquran. Kemudian ia menghampiri anak-anak perempuan tersebut dan bertanya, “Siapakah perempuan yang penuh kesempurnaan itu? Aku belum pernah melihat perempuan sepertinya.”

Kemudian mereka menjawab, “Perempuan itu adalah Sayyidah Fidhah, pembantu Sayyidah Fathimah Az-Zahra, yang selama dua puluh tahun tidak berbicara kecuali menggunakan ayat Alquran.”

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *