Sehat: Perempuan dan Perabot

Alih-alih untuk memberesi rutinitas domestik dengan cepat, canggih, dan praktis, hidup sehat menjadi alasan aneka perabot (elektronik) dipilih sekaligus dirumahkan. Dalam keluarga yang perlahan mapan terutama secara finansial, memilih perabot setara pentingnya dengan menentukan sekolah anak, masa depan pekerjaan, tempat berlibur, atau bahkan memilih pasangan hidup.

Perubahan (sosial) yang terjadi di suatu tempat bisa dilacak dari perabot yang perlahan memasuki rumah-rumah keluarga Indonesia.

Harian Solopos, 13 Januari 2021, mewartakan dandang listrik bernama Artugo Diet Care Rice Cooker produksi PT Kreasi Arduo Indonesia. Inovasi yang ditawarkan bukan sekadar cepat menanak, menghasilkan nasi pulen, atau ideal digunakan memasak hidangan berkuah.

Artugo mengurangi kekhawatiran pada musuh besar manusia modern: gula. Kadar gula dalam nasi bisa berkurang sampai 40% jika ditanak dengan Artugo melalui teknologi panci ganda yang akan memisahkan kandungan gula dan nasi. Orang-orang tidak perlu takut makan nasi selama memiliki dandang listrik Artugo di rumah.

Sejak masa 70-an, terutama ketika para perempuan Indonesia semakin dibukakan pintu ke dunia luar rumah, perabot-perabot modern memasuki dunia domestik sebagai ganti. Bahkan jika sebagian besar perempuan modern ini dalam status ibu atau istri yang lebih sering di rumah, perabotan menjadi penanda selera sebagai manusia urban.

Perabot cenderung bukan instrumen utama pendorong emansipasi. Gaya berperabot justru hadir setelahnya sesuai citra perempuan modern yang bekerja atau istri (terdidik) dari suami yang mapan secara sosial-finansial.

Pertarungan sengit antara pelbagai produk dalam dan luar negeri sudah pasti terjadi. Ada Philips (Belanda), Sanyo (Jepang), Sanken (Indonesia), Cosmos (Indonesia), Modena (Italia), Sharp (Jepang), Panasonic (Jepang), Mitsubishi (Jepang), Toshiba (Jepang), Hitachi (Jepang).

Baca juga :  Menyelami Ruang Gerak Perempuan Ulama Madura

Meski Indonesia memiliki masa lalu pahit pendudukan Jepang dan peristiwa Malari 1974, tetap saja rujukan teknologi yang awet dan lumrah pasti buatan Jepang. Sebelum berkeliling ke seantero dunia, perabot elektronik tidak luput memengaruhi hidup orang Jepang. Masyarakat Jepang kukuh memegang etos hidup tradisional sekaligus menyambut modernitas.

Di buku Manusia Jepang (1982) Edwin O. Reischauer mengatakan bahwa kegairahan ide-ide melanda Jepang pada 1970-an dalam banyak hal, termasuk konsumsi benda-benda listrik, kamera dan bufet hias yang diiklankan lewat televisi dan majalah, “Lebih dari 95 persen rumah tangga memiliki mesin cuci dan almari es, dan lebih dari setengahnya memiliki mobil – lebih banyak di daerah pedesaan ketimbang di perkotaan.”

Bahkan pada akhir tahun 1960-an, muncul istilah “3 C” merujuk pada tiga benda suci dari kehidupan keluarga color television (televisi berwarna), car (mobil), dan cooler (pendingin ruang) yang diparodikan dari “Tiga Tanda Kebesaran Kaisar” (pedang Kusanagi, cermin Yata no Kagami, dan permata Yasakani no Magatama).

Untuk Perempuan

Di Indonesia sebelum marak televisi dan kini internet, terbitan majalah-majalah perempuan sebagai bacaan bagi perempuan modern, memiliki peran penting mewartakan aneka perabot elektronik. Majalah secara perlahan mengasuh bagaimana perempuan bersosial tanpa meninggalkan urusan domestik.

Di majalah Kartini, 7-20 Agustus 1989, ada iklan kulkas jenama National. Selain menggoda dengan sistem “no frost” (pendinginan tanpa bunga es) untuk menjaga kesehatan yang berarti menjaga gizi makanan, pengiklan menggunakan nuansa bahasa feminin.

Baca juga :  Mengenal Nyai Abidah, "Ibu Kartini" dari Jombang

Di iklan tertulis, “Bentuknya yang anggun dengan warna Putih serta desain pegangan yang datar (Flat Face Handle) dan ruang isi berkapasitas besar, menjadikan Lemari Es ini benar-benar memenuhi selera tinggi ibu-ibu yang menggunakannya.”

Perabot elektronik jelas menyasar para perempuan yang istri ataupun ibu. Secara sosial, laki-laki masih dipersepsikan sebagai penentu finansial rumah tangga, tapi ibulah yang paling otoritatif mengatur keperluan rumah tangga. Iklan-iklan biasanya jarang menggoda dengan bahasa maskulin. Bahasa promosi perabot harus relevan dengan perempuan.

Majalah Femina yang rajin mengadakan sayembara berhadiah dengan cara mengumpulkan dan mengirim kupon Femina, selalu menyajikan hadiah yang disukai (rumah) perempuan; kulkas, blender, mesin cuci, rice cooker, ataupun kosmetik.

Riset pasar dilakukan oleh MarkPlus&Co yang dibukukan menjadi Winning the Mom Market in Indonesia (Hermawan Kartajaya dkk, 2005), melibatkan dua ribu ibu rumah tangga sebagai responden di 14 kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa keputusan penting belanja peralatan dapur, pakaian anak, keperluan sekolah, liburan keluarga, perabot rumah tangga adalah ibu.

Untuk menarik pasar ibu, mekanisme produk dan strategi pemasaran harus berhasil menyentuh nilai kebutuhan dan kebahagiaan ibu; hemat, sehat, dan berkualitas, efektif untuk menghemat waktu, menekankan pada kepentingan keluarga. Sekali produk berhasil membidik hati ibu, produk dijamin mendapat loyalitas ibu dalam waktu lama.

Baca juga :  Tiga Perempuan Berpengaruh pada Kepribadian Pangeran Diponegoro

Keberhasilan perempuan sepertinya ditentukan cara memilih perabotan sekaligus menggunakan. Saat perabotan semakin cerdas dan inovatif, para pengguna semakin dituntut tidak kalah cerdas dan menyadari kepemilikan perabot tidak zamannya lagi demi mengukuhkan gengsi. Kini, cantik dan canggih saja tidak cukup.

Ingat saja setahun lalu, Renatta Moeloek, salah satu chef-juri kompetisi memasak terbesar di Indonesia, merilis set panci lokal. Di siaran Youtube chef Arnold Poernomo yang diunggah pada 19 Oktober 2020, Renatta mengaku ingin orang-orang membeli panci lokal dan lebih sering memasak di rumah.

Secara tidak langsung, ada gaya hidup sehat hendak ditawarkan. Harga panci Renatta tidak terlalu mahal untuk standar urban tentunya. Set panci ini memang tidak menjamin hasil masakan menjadi sekelas masakan chef Renatta. Namun, ibu-ibu telah diarahkan menuju pertarungan (gaya) hidup sehat di abad ke-21.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *