Sejarah dan Sanad Keilmuan Ulama Nusantara

Dalam peringatan haul Kiai Ali Maksum di Krapyak pada Rabu (23/12/2020), Kiai Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menyatakan minatnya untuk mengkaji dan menggali jejaring ulama-ulama Nusantara. Bagi Gus Ghofur, mengetahui sejarah dan genealogi keilmuan para ulama Nusantara adalah sesuatu yang sangat penting.

Gus Baha yang menjadi pembicara dalam acara itu juga banyak bercerita tentang koneksi ulama-ulama zaman dulu yang pada intinya semuanya masih bersambung pada kiai yang sedang di-hauli, yaitu Kiai Ali Maksum, dan juga kiai-kiai lainnya dari berbagai pesantren. Tulisan ini bermaksud mengelaborasi apa yang disampaikan oleh Gus Ghofur dan Gus Baha mengenai sejarah dan sanad keilmuan para para ulama Nusantara.

Kita mulai dari Walisongo. Referensi yang menurut subjektivitas saya sangat otoritatif (mu’tamad) adalah buku “Atlas Walisongo” karya Agus Sunyoto. Jawaban mengapa Islam baru diterima secara luas di Nusantara pada era Walisongo, yaitu pada sekitar abad ke-15/16 ada di buku itu. Yang jelas, kearifan dakwah Walisongo dengan pendekatan sufistik sangat berperan dalam islamisasi Jawa.

Satu tema yang menarik dalam pembahasan Islam era Walisongo adalah “pertikaian” Walisongo dengan Syekh Siti Jenar. Ia sangat kontroversial, ada yang bilang sesat, ada yang bilang sebenarnya tidak sesat. Kita harus membaca karya Abdul Munir Mulkhan, Agus Sunyoto, dan karya lainnya untuk tahu detailnya, tetapi secara umum Siti Jenar dianggap sesat karena mengajarkan tasawuf wujudiyah (manunggaling kawulo Gusti).

Ada pula informasi yang menyatakan bahwa pertikaian Walisongo dengan Siti Jenar bukan dipicu oleh paham wahdatul wujud, melainkan karena Siti Jenar menyebarkan faham syiah. Artinya, pertikaian itu dilakukan dalam rangka mengarusutamakan paham Ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Perjuangan Walisongo kemudian diteruskan Sultan Agung yang pada tahun 1641 memperoleh legitimasi dari Syarif Makkah sebagai “Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani”.

Baca juga :  Jejak Feminisme di Makam Djemilah Birnie

Dari Jawa kita menyeberang ke Pulau Sumatera, khususnya Kesultanan Aceh. Di situ terdapat “produk pesantren paling awal” kalau menurut Zamakhsyari Dhofier, yaitu Hamzah Fansuri.

Dia masyhur sebagai penganut tasawuf wahdatul wujud dan pernah menjadi Syekhul Islam (jabatan tinggi di Kesultanan Aceh yang mengurus masalah agama) pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah. Hamzah memiliki seorang murid bernama Syamsuddin Sumatrani yang kelak juga menjadi Syekhul Islam di Kesultanan Aceh.

Bisa dikatakan Aceh pada periode itu dikuasai oleh pengaruh Hamzah Fansuri yang notabene beraliran wahdatul wujud. Tapi kemudian datang seorang ulama asli Ranir, India, yaitu Nuruddin Ar-Raniri. Dia menjadi syekhul Islam di Aceh tahun 1637 tidak terlalu lama setelah Hamzah dan Syamsuddin.

Dialah yang melakukan “syariatisasi” di sana. Dia dinilai terlalu keras terhadap pengikut wujudiyah dengan melarang buku-buku Hamzah Fansuri dan bahkan memerangi pengikutnya karena dianggapnya sesat.

Kita berterima kasih kepada Azyumardi Azra yang telah menulis disertasi tentang jaringan ulama Nusantara dan Timur Tengah abad 17-18. Banyak informasi penting di buku itu yang secara garis besar menunjukkan bahwa pada abad itu, ulama Nusantara mulai dari Nuruddin Ar-Raniri, Abdur Rauf As Singkili, Syekh Yusuf Maqassari, kemudian Arsyad Al Banjari, Dawud Al Fattani (Patani Tailand) terkoneksi dengan ulama-ulama di Makkah, Madinah, Mesir, Yaman, dan lain-lain.

Ulama-ulama Nusantara tersebut terhubung dengan Syekh Ibrahim Al Kurani, Zakariya Al Anshari, Murtadha Az Zabidi (yang karyanya tentang syarh Ihya “Ithaf” sering disebut Gus Baha), Al Barzanji yang menulis maulid Barzanji dan “Lujain Ad Dani” tentang manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, dan lain-lain. Kita jadi tidak asing kenapa di pesantren banyak dikaji kitab-kitab ulama-ulama di atas.

Baca juga :  Gagal Paham Memaknai Nusantara Sebagai Darul Islam Menjadi Khilafah

Dari abad 17-18 kita naik ke abad 19. Inilah masa “keemasan ulama Jawa di Haromain”. Tentu kita sangat familiar dengan Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Mahfud Termas, Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Soleh Darat, Syekh Khotib Minangkabau, dan lain-lain. Di sini kita berhutang pada Abdurrahman Mas’ud yang menulis disertasi berjudul “Dari Haromain ke Nusantara”.

Syekh Nawawi Banten, ulama yang bergelar “sayyidu ulami hijaz” adalah kiai ensiklopedis. Beliau mempunyai banyak karangan di bidang fikih, tafsir, akhlak, dan lain-lain. Reputasi keulamaannya sangat tinggi. Beliau pernah diundang untuk berceramah di Universitas Al-Azhar Kairo. Menurut Snouck Hurgronje di bukunya tentang Makkah pada akhir abad 19, tidak ada orang Jawa yang tidak mencium tangan Syekh Nawawi, sebagai bentuk penghormatan.

Syekh Nawawi punya murid Syekh Mahfud Termas yang terutama karena penguasaannya di bidang hadis beliau dijuluki “Al Bukhori Abad 19”. Syekh Mahfud lalu punya murid bernama Kiai Hasyim Asyari (Pendiri NU).

Mbah Hasyim sebenarnya juga berguru pada Syekh Khatib Minangkabau yang berpikir “modernis” ala Abduh di Mesir, tapi beliau lebih intens belajar kepada Syekh Mahfud. Kiai Ahmad Dahlanlah (Pendiri Muhammadiyah) yang berguru pada Syekh Khatib Minangkabau dengan intens sehingga corak pemikirannya bisa dikatakan mirip dengan Syekh Khatib.

Jangan lupa, di masa itu ada Syekh Ahmad Khatib Sambas yang dikenal sebagai pendiri tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Syekh Nawawi walaupun kata Snouck tidak mengajarkan atau melarang muridnya untuk bertarekat, tapi beliau mengaku sebagai pengikut Syekh Khatib Sambas. Beda dengan Syekh Khatib Minangkabau yang tidak sepakat dengan tarekat.

Baca juga :  Deislamisasi Sejarah dan Masa Depan Kemerdekaan Kita  

Kiai Hasyim Asyari juga berguru pada Syekh Nawawi. Artinya beliau tunggal guru dengan gurunya, yakni Mbah Kholil Bangkalan, yang juga berguru pada Syekh Nawawi. Kiai Mahfud yang punya guru bernama Abu Bakr Syatha (penulis kitab fikih “Ianatu Thalibin” yang banyak dipelajari di pesantren) mempunyai adik yang juga alim, namanya Kiai Dimyati. Nama yang disebut terakhir merupakan pengasuh pesantren Termas Jawa Timur.

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, banyak kiai lulusan Hijaz yang mendirikan pesantren di Jawa dan menjadi pusat keilmuan Islam. Selain Pesantren Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Zubaer Sarang, dan lainnya, dua pesantren yang menjadi pusat keilmuan waktu itu adalah Pesantren Tebu Ireng dan Pesantren Termas. Dari pesantren-pesantren inilah, kelak muncul kiai-kiai yang kemudian menjadi “pembesar kiai abad 20” seperti Kiai Ali Maksum, Kiai Muslih Mranggen, Kiai Hamid Pasuruan, dan banyak kiai lainnya.

Kiai-kiai pendiri pesantren tersebut kebanyakan saling menjalin hubungan kekerabatan (dzurriyatun ba’dhuha min ba’dh) dengan cara menikahkan putra-putri mereka. Dengan demikian ikatan emosional di antara para kiai pesantren-pesantren itu terjalin sangat kuat. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *