Sejarah di Balik Penulisan Dua Ayat Terakhir Surah At-Taubah

alquran

Al-Qur’an yang sekarang berada di tangan kita ternyata memiliki sejarah yang menarik untuk dibahas karena memang sejak awal Al-Qur’an tidak serta merta sudah tersusun secara rapi layaknya sekarang ini.

Pada zaman Rasulullah saw. para sahabat menjaga Al-Qur’an dengan mengandalkan kuatnya hafalan mereka. Hanya sedikit dari mereka yang menuliskannya dikarenakan sedikit pula dari para sahabat yang bisa baca tulis. Di samping sarana untuk menulis pada waktu itu juga sangat minim dan susah.

Para sahabat jika mendengar satu ayat dari Rasulullah, maka mereka langsung menghafal dan menuliskannya dengan sarana yang seadanya. Misalnya di pelepah kurma, kulit hewan, tulang belikat unta, atau di batu.

Setelah Rasulullah saw. wafat, umat Islam mengalami perpecahan. Sebagian mereka ada yang murtad dan ada juga yang enggan membayar zakat. Sehingga pada zaman Sayyidina Abu Bakar ra. terjadilah perang yang disebut dengan “Perang Yamamah”.

Akibat perang tersebut, banyak sahabat dari kalangan penghafal Al-Qur’an yang gugur. Hal ini meresahkan kondisi Al-Quran itu sendiri yang mana jika banyak penghafalnya yang meninggal maka Al-Quran itu sendiri juga ikut hilang. Akhirnya, Sayyidina Umar ra. memberikan usulan kepada Sayyidina Abu Bakar ra. untuk mengumpulkan Al-Quran dari hafalan para sahabat dan juga tulisan-tulisan yang masih tercecer.

Baca juga :  Rahasia Jumlah Perintah Allah di Dalam Al-Qur’an

Awalnya Sayyidina Abu Bakar menolak usulan tersebut karena memang Rasulullah tidak pernah melakukannya. Namun setelah melihat kondisi yang ada serta demi kemaslahatan bersama, akhirnya Sayyidina Abu Bakar setuju dengan usulan Sahabat Umar dan menunjuk Sahabat Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Quran.

Dalam proses pengumpulan Al-Quran ini, rujukan Sayyidina Zaid bin Tsabit adalah hafalan para sahabat dan tulisan-tulisan mereka. Tetapi dalam pengumpulannya, Sayyidina Zaid bin Tsabit tidak serta merta menerima ayat-ayat dari hafalan para sahabat begitu saja.

Beliau memiliki manhaj atau metode sendiri dalam pengumpulan Al-Quran ini. Salah satunya adalah ayat yang hendak dikumpulkan ini harus memiliki dua orang saksi bahwa ayat ini benar datang dari Rasulullah saw.

Kesaksian Sahabat Abu Khuzaimah Al-Anshari

Meski dalam pengumpulan Al-Qur’an Zaid bin Tsabit memberikan syarat adanya dua saksi, ternyata ada dua ayat dalam Al-Qur’an, yakni Surat At-Taubah ayat 128 dan 129, yang hanya diajukan oleh satu orang.  Dua ayat ini datang dari sahabat bernama Abu Khuzaimah Al-Anshari. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang meriwayatkan ayat ini. Tidak ada sahabat lain selain beliau.

Akan tetapi, uniknya, oleh Sayyidina Zaid bin Tsabit ayat ini tetap ditulis. Padahal melihat dari manhaj beliau dalam pengumpulan Al-Quran, ayat ini tidak memenuhi syarat manhaj tersebut. Kenapa demikian?

Baca juga :  Difabel dalam Al-Qur’an: Relasi Demokrasi, Budaya, dan Fikih

Alasan penerimaan kesaksian tunggal Sahabat Abu Khuzaimah ternyata ada kaitannya dengan kisah masa lalunya dengan Rasulullah. Sahabat Abu Khuzaimah Al-Anshari adalah satu-satunya sahabat yang mendapatkan keistimewaan dari Rasulullah saw yang tidak dimiliki oleh sahabat lain.

Suatu hari Rasulullah saw pergi ke pasar ingin membeli keledai. Setelah membeli keledai, Rasulullah tidak menandai bahwa keledai tersebut telah menjadi milik beliau. Pada waktu Rasulullah saw. hendak pulang ke rumah dan membawa keledai tersebut, si penjual keledai tadi berkata, “Ini bukan keledai kamu.” Rasulullah saw. pun menjawab, “Ini keledaiku. Aku telah membelinya darimu.”

Si penjual berkata lagi, “Kalau begitu datangkan saksi kalau kamu benar-benar telah membeli keledai ini dariku.” Kebetulan pada waktu akad jual beli tadi, tidak ada seorang pun sahabat yang menyaksikannya. Sahabat yang berada di sana pun diam dan tidak bisa berkata apa-apa karena memang mereka tidak mengetahuinya.

Tiba-tiba sahabat Abu Khuzaimah Al-Anshari datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, akulah yang akan menjadi saksi bahwa keledai ini milikmu dan engkau telah membelinya dari penjual ini.” Lalu Rasulullah bertanya pada Abu Khuzaimah, “Bagaimana kamu bisa tau kalau aku telah membeli keledai ini padahal kamu tidak menyaksikannya?”

Baca juga :  Rabbana Hablana min Azwajina wa Dzurriyatina Qurrota A'yun

Abu Khuzaimah pun menjawab, “Wahai Rasulullah, kabar (wahyu) yang engkau dapat dari langit saja aku percaya. Apalagi hanya sekadar permasalahan engkau membeli khimar, justru aku juga akan lebih percaya.” Lalu Rasulullah berkata kepada Abu Khuzaimah, “Yaa Aba Khuzaimah, syahaadatuka tu’dilu syahaadata rajulain.” (Wahai Abu Khuzaimah, kesaksianmu itu sama saja dengan kesaksian dari dua orang).

Berangkat dari sana, kita tahu bahwasannya dua ayat terkahir surah At-Taubah ini meskipun hanya diriwayatkan oleh sahabat Abu Khuzaimah saja, tetap bisa diterima. Karena kesaksian beliau sama dengan kesaksian dua orang. Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *