Sejarah Nama “Udin” dalam Peradaban Islam

Sejarah nama Udin

Nama “Udin” sangat umum dijumpai di Indonesia, bahkan sempat dijadikan salah satu lagu, “Udin Sedunia”. Hal ini menunjukkan kepopuleran nama itu. Hampir dapat dipastikan nama atau panggilan tersebut bisa ditemukan di setiap kampung. Maka tidak heran apabila nama “Udin” mempunyai sejarah panjang dalam peradaban Islam.

Panggilan “Udin” diberikan kepada mereka yang memiliki nama asli yang berbeda-beda untuk nama depan. Namun, memiliki nama belakang sama, yaitu berakar bahasa Arab dari kata ad-din (الدين), meskipun ejaan penulisannya digabungkan.

Nama belakang ad-din itu pada mulanya diberikan sebagai gelar bagi para tokoh seperti penguasa, menteri, ulama dan para panglima. Sebelumnya, gelar para bangsawan dinisbatkan kepada ad-daulah (الدولة) seperti Syamsud-Daulah, Yaminud-Daulah, Nashirud-Daulah dan sebagainya.

Ulama yang Bergelar ‘Udin’ (Ad-din)

Tokoh yang pertama kali digelari dengan nisbat “ad-din” adalah Abu Nashr Fairuz Baha’ud-Daulah bin ‘Adhudud-Daulah bin Buwaih (w. 1012 M). Ia merupakan penguasa Dinasti Buwaihiyah dalam rentang masa Al-Qadir Billah (Penguasa Dinasti Abbasiyah yang berkuasa dari tahun 991 M sampai 1031 M). Abu Nashr Fairuz ini selain bergelar Baha’ud-Daulah juga bergelar Nizhamuddin (نظام الدين).

Singkat cerita meluaslah gelar “ad-din” ini. Dikatakan bahwa ulama yang pertama kali bergelar ad-din adalah Abu Ishaq Al-Isfarayini (w. 1027 M). Ia adalah seorang ulama besar mazhab Syafi’i, yang bergelar Ruknuddin (ركن الدين).

Baca juga :  Yang Terlupakan dari Zaman Keemasan Peradaban Islam (6)

Setelah itu gelar dengan dinisbatkan kepada “ad-din” menjadi semacam tradisi untuk para ulama. Misalnya ada ulama yang bernama “Muhammad” akan digelari “Syamsuddin (شمس الدين)”, seperti Imam Ar-Ramli, penulis Nihayatul Muhtaj, yang bernama asli Muhammad bin Ahmad.

Ada pula ulama yang bernama “Ahmad” digelari “Syihabuddin (شهاب الدين)”, seperti Imam Ibn Hajar Al-Haitami, penulis Tuhfatul Muhtaj, bernama asli Ahmad. Sehingga namanya menjadi “Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami”.

Selain itu, ada ulama bernama “Abu Bakr” bergelar “Zainuddin (زين الدين)”. Lalu yang bernama “Umar” bergelar “Sirajuddin (سراج الدين)” seperti Sirajuddin Al-Bulqini (w. 1403 M) yang bernama asli Umar bin Ruslan.

Ada lagi, ulama bernama “Usman” bergelar “Fakhruddin (فخر الدين), lalu yang bernama “Ali” bergelar “Nuruddin (نور الدين)” seperti Nuruddin Ali Asy-Syibramallisi (w. 1676 M), dan yang bernama “Ibrahim” bergelar “Burhanuddin (برهان الدين)” seperti Burhanuddin Ibrahim Al-Laqqani (w. 1631 M), penulis nazham Jauharatut Tauhid.

Ketentuan gelar disesuaikan dengan nama asli di atas tidak bersifat mutlak, hanya saja kebanyakan demikian. Seperti halnya Ar-Rumi (w. 1273 M) dan Al-Mahalli (w. 1460 M) di mana keduanya digelari “Jalaluddin”, bukan “Syamsuddin”, padahal keduanya bernama Muhammad.

Baca juga :  Yang Terlupakan dari Zaman Keemasan Peradaban Islam (1)

Sedangkan Jalaluddin As-Suyuthi (w. 1505 M) dan Jalaluddin Al-Bulqini (putera dari Sirajuddin Al-Bulqini. Wafat 1421 M) memiliki nama asli yang sama, yakni Abdurrahman.

‘Udin’, Sebuah Gelar Kehormatan

Selain gelar-gelar yang telah disebutkan, terdapat pula gelar lainnya yang pernah disandang sejumlah tokoh, seperti Najmuddin, Jamaluddin, Kamaluddin, Shalahuddin, Tajuddin, Taqiyuddin, Izzuddin, Saifuddin, dan sebagainya.

Sementara dalam ejaan penulisan di dalam kitab, karya ilmiah atau surat, seringkali kata “ad-din” yang merupakan sebuah gelar diganti dengan Alif-Lam pada awal kata, sehingga Syamsuddin menjadi “Asy-Syams (الشمس)”, Syihabuddin menjadi “Asy-Syihab”, Jalaluddin menjadi “Al-Jalal”, dan demikian pula lainnya.

Menyandang gelar-gelar tersebut bukanlah sesuatu yang sederhana. Gelar-gelar ini adalah selain sebuah kehormatan di satu sisi, namun ia juga beban di sisi lainnya. Oleh karena itu Imam An-Nawawi (w. 1278 M) enggan digelari “Muhyiddin (محيي الدين)” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “orang yang menghidupkan agama Islam”.

Hanya saja, para generasi setelahnya tetap mencantumkan gelar tersebut di depan namanya karena memandang bahwa beliau layak mendapatkannya. Keengganannya ini tentu didorong oleh sikap kehati-hatian dan kerendahan hati beliau.

Nama “Udin” pada Konteks Kekinian

Pada perkembangan selanjutnya, nama belakang “ad-din” tidak selalu sebagai gelar, melainkan nama asli dari seseorang. Syekh Nuruddin Ar-Raniri, milsalnya, ulama asal India yang menjadi penasehat Kesultanan Aceh. Ada juga Syekh Nuruddin Attar, seorang ulama dari Suriah yang wafat bulan September kemarin, di mana “Nuruddin” pada keduanya merupakan nama asli.

Baca juga :  Menapaki Sejarah di Kampung Kauman

Demikian sejarah asal usul nama Udin. Kuat dugaan saya, para orangtua Indonesia menamakan anak mereka dengan “Udin” adalah dengan tujuan tabarruk (mengambil berkah) dan tafa’ul (harapan baik agar memiliki sifat-sifat yang serupa) pada para ulama. Mereka mengenalnya melalui para kiai atau ajengan yang ada di pesantren-pesantren. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *