Sejarah Penamaan Bulan Sya’ban Menurut Tradisi Arab Kuno

Setelah melewati bulan Rajab, kini kita sedang memasuki bulan Sya’ban. Paling tidak, kita harus bersyukur karena doa kita “Allahumma bariklana fi rajaba” telah mengantarkan kita pada titik ini, “wa sya’bana”.

Tinggal kita perlu terus memanjatkan doa agar keberkahan dua bulan mulia ini bisa mengantarkan kita pada bulan Ramadan mendatang, “wa ballighna ramadhan”. Itu harapan kita semua.

Mumpung kita masih di awal bulan Sya’ban ini, ada baiknya kita mempelajari awal mula atau sejarah penamaan bulan Sya’ban. Paling tidak, Sya’ban yang kita tahu bukanlah sekedar nama dan fadhilah (keutamaan) saja, tetapi ada nilai historis yang bisa kita ambil.

Dalam tradisi masyarakat Arab Jahili, penanggalan tidak dilakukan menggunakan kalender sebagaimana yang kita kenal sekarang. Penanggalan mereka biasanya merujuk pada suatu peristiwa, utamanya peristiwa besar yang dikenal dengan Ayyam al-‘Arab (bisa perang, penyerbuan dan peristiwa penting lainnya).

Makanya kelahiran Nabi Muhammad dikenal dalam sejarah dengan ‘Am al-Fil (Tahun Gajah), karena pada masa itu pasukan Abrahah melakukan penyerbuan dengan niat menghancurkan Ka’bah yang berakhir secara mengenaskan sebagaimana diabadikan dalam QS. Al-Fil.

Tak hanya itu, tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah juga dikenal dalam Islam dengan ‘Am al-Huzn (Tahun Berkabung), karena pada tahun itu Nabi Muhammad merasakan pahitnya kehilangan dua sosok pelita dan pelindung setianya.

Baca juga :  Deislamisasi Sejarah dan Masa Depan Kemerdekaan Kita  

Nama-nama hari dan bulan dalam bahasa Arab yang kita kenal sekarang pada dasarnya punya akar sejarah panjang dengan tradisi Arab Jahili. Sya’ban, salah satunya.

Dalam kamus Lisan al-Arab disebutkan:

وشعبان: اسم للشهر، سمي بذلك لتشعبهم فيه أي تفرقهم في طلب المياه، وقيل في الغارات. وقال ثعلب: قال بعضهم إنما سمي شعبان شعبان لأنه شعب، أي ظهر بين شهري رمضان ورجب

Sya’ban (nama bulan): diberi nama demikian karena pada masa itu orang-orang berpencar mencari air, ada yang menyebutkan: berhamburan untuk sebuah operasi penyergapan. Tsa’lab (Abu al-Abbas Ahmad bin Yahya) menyebutkan: sejumlah ulama mengatakan penamaan Sya’ban itu sendiri karena ia menjadi pemisah, artinya ia memisah antara bulan Ramadan dan Rajab.

Maksud dari operasi penyergapan di atas adalah merampok, menjarah atau kadang bahkan bisa peperangan yang terjadi antar para suku-suku Arab. Menjarah atau merampok merupakan bagian dari mata pencarian suku-suku Arab. Mengapa terjadi di periode waktu yang kemudian mereka sebut ‘Sya’ban’?

Berikut jawaban Ibnu Hajar dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari:

وسمي شعبان لتشعبهم في طلب المياه أو في الغارات بعد أن يخرج شهر رجب الحرام

Dinamakan Sya’ban karena orang-orang berpencar mencari air atau melakukan operasi penyergapan setelah bulan Rajab al-Haram (salah satu bulan yang diharamkan perang) berlalu.

Jauh sebelum Islam datang, bangsa Arab Jahili sudah mengenal al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan suci yang tak boleh berperang), yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab. Selama masih dalam bulan haram, perang atau penyergapan tak boleh terjadi.

Baca juga :  Soekarno dan Islam dalam Pidato 1 Juni 1945

Di bulan Rajab, orang-orang Arab harus diam dan menahan diri untuk tidak melakukan suatu pergerakan yang memantik konflik dan peperangan. Dan sebagai gantinya, Sya’ban menjadi masa panen untuk melancarkan operasi-operasi tersebut.

Dalam kitab Ma Wadhaha wa Istabana fi Fadhail Syahr Sya’ban, Ibnu Dihyah mengutip pendapat Tsa’lab:

قال: وكان شعبان شهرا تتشعب فيه القبائل، أي: تتفرق لقصد الملوك والتماس العطية

Tsa’lab berkata: Sya’ban adalah bulan di mana suku-suku Arab berpencar menemui para penguasa dan meminta hadiah.

Tentu tidak semua suku-suku Arab melakukan operasi penyergapan untuk memenuhi hajat hidup mereka. Ada suku-suku kecil yang hidup mereka bergantung pada suku-suku besar tempat mereka berlindung. Suku-suku kecil ini pada umumnya bertahan hidup dengan cara yang berbeda, selain dengan perkelahian dan perampokan.

Pendapat-pendapat sejarah bulan Sya’ban di atas menggambarkan kilas kehidupan keras masyarakat Arab Jahili. Tapi poin pentingnya, dari keseluruhan pendapat yang ada semuanya sama, Sya’ban dicirikan sebagai potret tradisi suku-suku Arab dalam melakukan misi bertahan hidup sesuai dengan cara mereka masing-masing. Wallahua’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.