Sejarah Wahabi di Indonesia

Buku Sejarah Wahabi

Judul Buku      : Kajian Kritis dan Komprehensif Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya
Penulis             : Nur Khalik Ridwan
Penerbit           : IRCiSoD
Cetakan           : Maret 2020
Tebal                : 833 halaman
ISBN                 : 978-623-7378-36-5

Buku ini merupakan kajian unik dan menarik yang bisa memberikan kita gambaran komprehensif tentang kiprah dan sepak terjang gerakan Wahhabisme. Karya ini memberikan kita informasi dan dokumentasi lengkap mengenai rentetan sejarah-dialektika perkembangan gerakan Wahhabisme.

Buku berjudul, Kajian Kritis dan Komprehensif Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya (2020) karya Nur Khalik Ridwan ini dibuka dengan nasari kegalauan, kegelisahan, dan pergulatan batin dalam mengkaji gerakan Wahhabi. Proses pencarian dan pengumpulan data-datanya pun diakui membutuhkan rentang waktu kurang lebih satu tahun.

Nur Khalik dapat dikatakan sebagai sarjana yang cukup telaten dalam menyajikan data-data terkait Wahhabisme baik, pro maupun kontra. Seperti ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd karya Ibn Bisyr, Tarikh Najd karya Ibnu Ghannam, dan Ulama’ Najd karya Alu Basyam. Di samping juga menghadirkan poros tengah sebagai bentuk objektivitas. Seperti kitab Lam’u al-Syihab fi Sirah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, karya Ahmad Musthafa Abu Hakimah.

Latar Belakang Buku

Buku ini pada awalnya lahir karena kelangkaan informasi dan minimnya kajian tentang Muhammad bin Abdul Wahhab, dan gerakan Wahhabisme, dalam konteks keindonesiaan setelah adanya penolakan dari kalangan umat Islam Indonesia. Bagi Nur Khalik, Informasi terkait gerakan Wahhabisme awal di Indonesia masih mengandalkan cerita-cerita orang yang pergi naik haji.

Buku setebal 833 halaman ini merupakan suatu monumen yang sangat berharga dan tepat. Apalagi di tengah minimnya literatur gerakan Wahabisme yang ditulis sarjana asli Indonesia. Buku ini sangat kaya dengan data-data dan dinamika, sehingga pembacanya bisa dengan mudah membedah realitas sosial keagamaan dan dinamika sosial-politik, terutama terkait gejolak pemikiran gerakan Wahhabisme.

Data-data yang terekam digunakan untuk membaca ulang gagasan besar realitas sosial dan dinamika politik dengan gambaran sangat komprehensif. Tentu terutama soal persekongkolannya dengan Dinasti Arab Saudi dan para koroninya. Buku ini, bisa menjadi semacam peta melengkap dari berbagai karya para sarjana, dan para peneliti di Indonesia tentang gerakan, gagasan, dan ajaran serta doktrin Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi.

Mulanya buku ini berfokus pada pembahasan penulisan-publikasi buku dan sejarah Wahabi. Baik itu soal pendiri aliran Wahhabisme maupun identitas wajah pemikiran aliran Wahhabi. Selain itu, mengurai juga keadaan umat Islam melalui sorotan utama berbasis paradigma takhayul, bid’ah dan churafat (TBC) dengan slogan “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”.

Paradigma ini muncul dalam ruang perspektif Wahhabi dari berbagai realitas umat Islam dan penguasa kerajaan Kerajaan Arab Saudi. “Kerajaan Saudi sendiri, susah untuk tidak disebut didirikan di atas darah dan keringat panas kaum Wahabi, hujatan-hujatan kepada Muslim lain, dan darah-darah kaum Muslim yang dibunuh atas tuduhan bid’ah, kafir. Dan tidak sudi tunduk pada Dinasti Saudi ketika mereka mencoba untuk mendidikan kerajaan yang bisa menguasai Jazirah Arab,” kata Nur Khalik Ridwan.

Penyebaran Paham Wahabi

Tentu saja, keberadaan gerakan Wahhabisme saat ini telah menyebar hampir seantero belahan dunia. Penyebaran gagasan Wahhabisme ini dilakukan melalui berbagai kegiatan mulai dari, workshop, seminar penerbitan buku-buku, majalah, situs media sosial online, bantuan sosial, sekolah, beasiswa hingga kampus-kampus di berabagai belahan dunia.

Ekspansi ide dan gagasan Wahhabisme-Arab Saudi semakin gencar dan kian masif dilakukan beberapa tahun terakhir. Hal ini, kita bisa lihat pada alumnus-alumnus didikan Wahhabisme yang kembali ke Indonesia, tampil semakin kentara di berbagai media sosial dengan membawa isu-isu, tuduhan dan hujatan bid’ah, kafir, serta chufarat.

Di samping itu juga mengharamkan tahlil, ziarah kuburan, menjauhi tarekat dan menganggap tawasul yang dilakukan sebagian umat Islam Indonesia sebagai syirik. Bahkan, mengkafirkan kaum muslim lain yang tak sejalan dengan gagasan Wahhabisme.

Bagi Nur Khalik Ridwan, gerakan ini dilakukan karena Wahhabi ingin tampil dengan shock therapy yang siap menantang organisasi apapun (hlm. 26). Keberanian gerakan Wahhabisme dan Neo-Wahhabisme yang sangat tampak dengan mendirikan pondok pesantren dan menerbitkan buku-buku dan majalah dengan design sampul mengkilau bak minyak dilapisi emas yang dipenuhi dengan gagasan Wahhabisme.

Belum lagi pemberian beasiswa untuk belajar ke universitas-universitas di Arab Saudi. Tawaran ini membuat para kalangan ini semakin memompa semangat baru untuk tampil lebih garang dan merajalela serta mengeluarkan sumpah serapah. Hal ini sebagaimana yang umum kita sering lihat, dengar di media sosial sejak beberapa tahun terakhir.

Tak hanya itu, kaum Wahhabisme juga melancarkan blog-blog di dunia maya yang jumlah tak terhitung. Pemanfaatan penggunaan jejaring internet ini telah memperlancar komunikasi dengan guru-guru Wahhabi di seluruh dunia Islam. Gerakan Wahhabisme ini, memang benar-benar sedang melakukan mobilisasi secara besar-besaran serta ekspansi yang sangat luar biasa ke seluruh belahan dunia (hlm. 27).

Wahabi Masuk ke Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, gerakan Wahhabisme ini bukan suatu yang baru. GerakanWahhabisme sebagai identitas pernah terjadi pada masa lampau, bahkan lebih radikal daripada gerakan saat ini. Paling tidak sejarah mencatat ada empat gelombang gerakan Wahabi di Indonesia: gelombang pertama gerakan Kaum Padri atau Perang Padri di Sumatera Barat (1821-1837) antara kaum tua dan kaum muda.

Gelombang kedua, pemberontakan di Banten (1888) yang dianggap sebagai pengaruh dari gerakan Pan-Islam, yang merupakan bentuk formal internasionalisasi dari gerakan Wahhabisme. Lalu gelombang ketiga, berdirinya Sarekat Islam (1905) yang dianggap sebagai bentuk nasionalisasi dari Pan-Islam yang kemudian didukung oleh beberapa gerakan ormas keagamaan. Gelombang keempat, berdirinya gerakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia atau DI/TII (1949-1962).

Diakui atau tidak, keberadaan gerakan Wahhabisme dari dahulu hingga saat ini tak bisa dilepaskan dari Kerajaan Ibn Saud. Kolaborasi antara keduanya dilakukan dengan satu gerakan untuk dua tujuan sekaligus: mendirikan kekuasaan politik negara dan menyebarkan Wahhabisme radikal.

Ambisi mendirikan Saudi-Wahhabi semakin kuat. Misalnya kita baca melalui penolakan keras terhadap Sultan Hamid I pada tahun 1774 ketika pertama kalinya dalam sejarah memproklamirkan diri sebagai khilafah umat Islam di seluruh dunia.

Bagi Ibn Abdul Wahhab, khilafah umat Islam yang sah harus berada di tangan Arab-Quraisy. Sebagaimana hadis “al-Immaah min Quraisy” “pemimpin itu harus dari kalangan Quraisy”. Pemahaman Ibn Abdul Wahhab ini muncul dari keyakinan dan arogansi pada dirinya serta orang Arab yang bisa mengembalikan ajaran Islam murni.

Ruang Kontestasi Gerakan Wahabi

Keberadaan Saudi-Wahhabi sendiri dalam sistem kekuasaan politik represif, hemoginik, dan otoriter bisa dikatakan sebagai politik pinggiran dan melawan politik pusat, melawan khilafah Turki Utsmani sebagai pemegang kekuasaan tertinggi umat Islam. Situasi dan tekanan terhadap Wahhabi menyebabkan pasang surut gerakan Wahhabi di seantero Arab.

Kolaborasi ini bukan lagi seperti dua sisi mata uang yang saling berlawanan. Pada satu sisi gerakan Wahhabisme butuh wadah yang lebih besar untuk menyebarkan gagasannya. Pada sesi lain, Kerajaan Arab Saudi butuh naungan untuk melanggengkan kekuasaan melawan khilafahTurki Utsmani.

Kolaborasi ini bisa dikatakan cukup berhasil dan bertahan hingga saat ini. Walaupun harus diakui, kolaborasi Arab Saudi-Wahhabi juga bisa dikatakan sebagai salah satu ekspresi intelektual muslim Arab Najed mengambil peran sebagai penggerak wacana kritis umat Islam.

Nur Khalik Ridwan mengungkapkan tiga periode kolaborasi antara Dinasti Arab Saudi-Wahhabi. Ketiga kaloborasi ini belum tentu di ungkap oleh penulis lainnya. Periode pertama, kolaborasi melawan Imperium Turki Utsmani abad ke-17 dan ke-18, serta geneologi berdirinya Dinasti Arab Saudi pertama di Dir’iyah-Nejd. Dalam hal ini,  menurut John L. Esposito dalam Islam and Politics, (1991) disebut-sebut sebagai awal dari lahirnya gerakan Wahhabisme di seantero Timur Tengah.

Periode kedua, kolaborasi berdirinya Dinasti Arab Saudi kedua di Riyadh dan geneologi Imperium Turki Utsmani melawan gerakan Tanzhimat. Gerakan ini menjadi reformasi sosial politik mengubah Turki Utsmani ke dalam lembaga-lembaga yang banyak diadopsi Barat (hlm. 348). Periode ketiga, kolaborasi Wahhabi-Dinasti Arab Saudi ketiga di tengah kehancuran Imperium Turki Utsmani, dimana kedua pihak saling mengakomodasi kepentingan masing-masing.

Tentu ada kolaborasi lain, dimana Nur Khalik Ridwan sebagai penulis buku dapat dikatakan orang bernyali besar. Misalnya seperti perselingkuhan Arab Saudi-Amerika Serikat atas ekspansi Wahhabi keseluruh dunia ditopang modal minyak senilai 50 dollar. Lalu tumpukkan petrodollar Arab Saudi semakin menambah keyakinan akan penyebaran Wahhabisme ke seantero dunia.

Pada akhirnya, buku Nur Khalik Ridwan ini, isi dan uraiannya sesuai dengan judul cover yang diusung: kritis, komprehensif. Sebagai pembaca sedikit banyak telah mendapatkan informasi dan kontribusi terhadap kajian gerakan Wahhabisme dan sosok pendiri Wahhabi. Bahkan, dapat dikatakan adanya buku ini bisa menjadi counter atas gerakan Wahhabisme di mana pengaruhnya terhadap gerakan radikalisasi dengan mengabsahkan kekerasan begitu tampak dalam gerakan-gerakan Islam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *