Sekolah Sontoloyo

Liburan akhir sekolah 2018-2019 telah berakhir. Artinya awal tahun pelajaran baru (2019/2020) di sekolah dasar dan menengah dimulai. Kalau Anda orangtua yang punya anak sekolah, boleh bertanya seperti ini, “Nak, kurang enggak liburannya?” Jawabannya sudah pasti bisa ditebak, “ya donk..!” Pertanyaannya, mengapa mereka senang dengan libur sekolah? Bahkan, guru-gurunya pun demikian. What’s wrong with our schools?

Ini menurut hemat saya. Kalian boleh setuju dan tidak. Saya pun enggak minta disetujui. Begini, mari kita mulai. Anak-anak dipaksa masuk kelas mulai pagi sampai sore, mereka belajar empat hingga lima mata pelajaran setiap harinya, beserta tugas dan PR dari masing-masing guru. Belum lagi, ekstrakurikuler (ada juga sekolah yang fokus di hari Sabtu saja). Sudah terbayang belum, bagaimana capeknya mereka?

Katanya, student-centered tapi nyatanya tetap saja, guru-guru menganggap dirinya paling pintar, paling benar, dan paling baik. Akhirnya, murid-murid menjadi pasif tak berdaya pikir kritis dalam pembelajaran. Murid dilarang “membantah”. Sebagian guru masih terbelenggu gaya lama pembelajaran; menulis di papan tulis, lalu murid mencatat ke buku. Guru tidak memanfaatkan multimedia dengan maksimal. Begitu pun dalam ujian, sebenarnya murid hanya menulis kembali apa yang mereka baca. “Ujian berbasis menyalin bukan berbasis produksi”.

Di sekolah, siswa masih dituntut belajar secara individual (isolated learning); akhirnya mereka bermental egois. Seharusnya, mereka belajar dengan prinsip “kerjasama” (collaborative learning), memecahkan masalah, sekaligus belajar kehidupan sosial yang “mesra”. Kebersamaan di sekolah adalah pelajaran sosial yang menggembirakan bagi anak-anak. Di sekolah mereka belajar makna kesetaraan. Salat berjamaah, makan bersama, dan nongkrong bareng menjadi motivasi untuk belajar dan berprestasi bersama.

Anehnya, hingga kini masih ada sistem sekolah dan guru yang menyekat-nyekat siswa-siswanya dengan peringkat kelas, bahkan mengelompokkan mereka dalam “predikat” pintar dan bodoh. Padahal, semua siswa adalah pintar dan potensial dengan bakat masing-masing. Jadi, sebenarnya sekolah ngajarin apa sih?

Saya akhiri dulu tulisan ini dengan sajak berikut:

 

Aku (Bukan) Generasi Bebek

Wek, wek, wek…..

Dulu nyanyianku begitu

Ke mana pun indukku lari

Aku mengikuti

Ke lumpur, ke selokan, bahkan ke jurang sekali pun

Aku tak peduli

Tapi sekarang “tak”, karena aku bukan generasi bebek!

Aku mengintip di televisi, banyak penegak hukum yang dihukum. Para pejabat terjerat karena tertangkap mencuri uang rakyat. Sekarat! Keparat! Blangsat! Bangsat!

Aku “ogah” begitu, karena aku bukan generasi bebek!

Sistem pemerintahan negeri ini, katanya demokrasi? Demokrasi untuk siapa sih? Hanya untuk tikus-tikus berdasi? Ekonomi, dan pasar bebas tanpa batas, yang menikmati limpahan rahmat hanya konglomerat. Politik multi partai dipertahankan, bagi-bagi jabatan adalah borok yang pertontonkan.

Mau ‘ku tak begitu, karena bangsaku bukan bebek barat!

Sistem pendidikan kita adalah kapitalis gila latah. Orientasinya pada komoditas semata. Miris, anak orang miskin dilarang sekolah, mereka hanya boleh melihat teman-teman sebaya dari pintu gerbang sekolah yang berlapis baja dan kaca.

Aku tak mau sekolahku seperti itu, karena sekolahku bukan sekolah bebek!

Anak membebek pada Ortu. Santri membebek pada kiai. Murid membebek pada guru. Guru membebek pada kepada sekolah. Kepala sekolah membebek pada sistem pendidikan yang tak jelas arah. Seorang motivator membujuknya, “Ayo berubah! Ayo berbeda!” “Enggak ah…!” Katanya. Hanya takut dipecat rupanya.

Mahasiswa membebek pada dosen. Dosen membebek pada rektor. Rektor membebek menteri. Menteri membebek pada presiden. Presiden membebek pada partainya. Apa yang dibanggkan darinya?

Sekali lagi, aku ogah begitu, karena aku bukan generasi bebek! 

#Hanya bebek yang tersinggung!

 

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.