Sekularisasi pada Sains-Filsafat serta Ruang Sakral Agama

Wiliam Daniel Philips, seorang pemenang nobel fisika di tahun 1997. Sumbangannya di bidang atom dan sinar leser tak perlu diragukan lagi. Pastilah Philips seorang ilmuwan yang sangat ketat dengan prinsip keilmuan. Namun Philips juga seorang agamawan yang saleh. Setiap minggu dia pergi berdoa ke gereja. Dia menikmati doa sebagaimana menikmati rumus matematika. Dia percaya pada Tuhan, sebagaimana dia percaya pada hukum fisika.
Suatu hari dia ditanya, mengapa dia percaya pada Tuhan? Bukankah kepercayaan itu tidak ilmiah?
Dengan santai dia menjawab, tak semua yang kita yakini harus ilmiah. Saya pun percaya pada cinta. Saya percaya pada kebaikan. Tuhan, cinta, kebaikan itu juga tidak ilmiah. Menurut Philips, yang tidak ilmiah tak berarti tak ada. Yang tidak ilmiah kadang justu sangat berarti.
Wiliam Daniel Philips adalah sosok pertama yang saya ingat ketika merenungkan perdebatan soal agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. Philips menjadi sosok yang fenomenal. Dalam dirinya, dia memberikan tempat yang luas bagi sekulerisasi ilmu pengetahuan dan filsafat. Tapi dia juga menyediakan ruang yang sakral untuk keyakinan agama.
Sejak beberapa hari lalu, saya mengikuti sebagian tulisan para pendekar di FB yang saling bersahutan soal sains, filsafat, dan agama. Semuanya menarik dan asik dibaca saat pandemik, masing masing punya ciri khas ketika bicara posisi sains. Namun saya kira, para pemikir hebat ini, di ujung perdebatan akan punya pemahaman sama. Sama sama sudah tahu bagaimana akhir perdebatan tua ini. Yang membedakan hanya sisi psikologisnya.
Ada pihak yang dikira nampak ragu pada sains, ada yang menunjukan keyakinan penuhnya, ada yang rendah hati, ada pula yang menganalogikan sains seperti sport. Dan masih banyak lainnya yang belum sempat saya baca.
Pihak yang ragu nampaknya sangat hati hati sekali. Ketika menempatkan sains sebagai solusi yang harus terus menerus menjawab tanpa jeda.
Pihak yang yakin, ingin menyatakan bahwa sains selama ini menjawab pertanyaan tentang realitas dan persoalannya. Itu bisa dibuktikan betapa sains memberikan banyak informasi yang akhirnya mengubah banyak pandangan dan wajah zaman.
Pihak yang rendah hati, menjaga jarak agar tidak terjebak pada kutub-kutub manapun secara berlebihan. Semua kutub baik agama, sains, dan filsafat bisa melahirkan keangkuhan yang jatuh pada menuhankan dirinya. Menjadi isme isme yang merasa paling benar.
Balasan yang menarik juga adalah pihak yang menganggap sains layaknya sport. Punya sisi sportivitas. Selama sains bisa membuktikan dirinya mampu memberikan solusi, mengapa tidak sains merasa unggul dari yang lain? Apa salahnya jika kamu memang mampu membuktikan dirimu unggul, lalu kamu menyatakan keunggulanmu?
Ini bagi saya sangat menggairahkan! Para pendekar pemikiran ini semua adalah satu, terikat oleh perkawanan. Saya ingin menyederhakan istilah perkawanan itu dengan ‘satu kubu’. Semoga tidak disalahpahami melebar ke mana mana.
Perdebatan dalam satu kubu biasanya memang jauh lebih sengit ketimbang perdebatan dengan kubu lain yang jauh bersebrangan. Namun perdebatan sengit semacam ini harus disambut dengan gembira. Bagi para pembaca, ini memberikan efek merangsang pengetahuan yang bagus.
Media sosial menjadi lebih bermanfaat karena menjadi bagian yang membakar semangat pengetahuan dan mencerahkan. Jika dulu para filsuf saling membalas dengan buku, kiranya FB kali ini menggantikan posisi itu.
Kembali pada topik perdebatan, yang tua tapi selalu mampu dihangatkan kembali itulah sains, filsafat dan agama. Sebagai pembaca yang kapasitas keilmuannya sangat jauh di bawah para pendekar itu, saya tergelitik juga. Saya ingin menulis pandangan pribadi tentang topik perdebatan yang sama. Tentu saya tak bisa sepenuhnya berangkat dari ruang kosong.
Latar belakang dilahirkan dari agama yang telah dianut oleh orangtua saya, membuat saya secara otomatis memiliki kecenderungan sudut pandang yang bisa bermula dari sana. Unsur psikologis sulit dilepaskan, walau bisa dikontrol ketebalannya. Tidak ada yang sungguh sungguh netral 100%. Kendati demikian selalu ada standar universal sebagai alarm.
Pertama saya ingin bertanya pada diri sendiri, apakah yang disebut dengan realitas? Apakah hanya yang terjangkau indrawi? Bagaimana dengan yang tak bisa terjangkau oleh indra, apakah bisa dikatakan realitas juga atau bukan sama sekali? Sementara segala yang ada di kehidupan ini yang kita sebut realitas, mengandung kedua unsur tersebut.
Kedua, saya ingin meminjam istilah yang digunakan GM pada perdebatan itu. Katakanlah sains bisa melakukan dua hal, menafsirkan dan mengubah kehidupan -tatanan sosial dan segala macamnya-. Tentang menafsirkan, sains bisa melakukan itu, tapi apakah kita sadar bahwa ‘menafsirkan’ itu berarti memberikan pandangan yang bukan realitas itu sendiri, bukan yang sebenarnya. Ada pengetahuan yang sebenarnya dan tersembunyi yang sulit dijangkau.
Tentang mengubah, baik filsafat, agama, dan sains, saya kira punya porsi masing masing untuk mendapatkan topik tertentu sesuai kapasitas mereka, yang tentu juga tak terbatas. Misalnya, bagaimana sains bisa saja menjumpai batas lintasannya. Ketika harus menafsirkan dan mengubah realitas. Sementara realitas itu sendiri mengandung hal hal abstak juga yang tidak bisa dijangkau indrawi. Misalnya ideologi dan keyakinan hal ihwal surga.
Begitu juga agama dan filsafat yang sewaktu waktu berjumpa pada batas lintasannya. Mereka tak bisa menemukan vaksin bagi beragam penyakit seperti yang berhasil dilakukan oleh sains, yang melahirkan teknologi.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, maafkan saya, saya tak bisa berangkat dari posisi netral. Sebab orangtua saya sudah menjejali agama sejak kecil.
Untuk itu dalam keyakinan agama saya ada kalimat tauhid, ‘La Ilaha Illallah’ yang berarti tidak ada Tuhan selain Allah. Ini sangat dalam bagi saya karena banyak memberikan makna, pengetahuan dan pijakan dalam memandang batas-batas.
Ada unsur desakralisasi dan sekularisasi yang tercermin jelas di sana. Selalu ada ‘entah’ dan ketidaktahuan sebuah kebenaran. Sebuah realitas yang sesungguhnya dan tak terjangkau di ujung ujung sana. Itu berlaku untuk banyak konteks, termasuk pilihan cara pandang dan alat bantu seperti agama, filsafat, dan sain untuk menjadi solusi kehidupan.
Sampai kapan pun, mungkin sains tidak akan sampai pada kejelasan hal hal metafisik, soal kehidupan setelah kematian dan hal hal abstrak lainnya, yang sering kali ini menjadi wilayah keyaninan atau agama yang kemudian mengambil alih. Begitu juga filsafat.
Kiranya di sini sekularisasi perlu dilakukan, biarkan sains berjalan pada lintasannya, biarkan agama bermain pada arenanya, dan biarkan filsafat asik menari di panggungnya. Sekularisasi juga berlaku pada mereka. Walau sesekali akan ada permasalahan yang menjadi titik temu ketiganya yang nampak bersinggungan.
Memang tak cukup satu formula untuk menjawab persoalan hidup. Tak bisa hanya satu pilihan untuk semua. Kolaborasi beberapa formula itu jauh lebih baik ketimbang masing masing merasa unggul. Walaupun sah sah saja jika masing masing bisa membuktikan keunggulannya.
Namun ada baiknya tak berlebihan sehingga menjadi sumber kepongahan. Ada konteks tertentu yang kita boleh menunjukan keunggulan. Cukup dalam konteks dan situasi itu saja, selebihnya kembali rendah hati. Begitu juga sains, filsafat dan agama.
Bukankah persoalan tak pernah selesai, kebenaran tak pernah final, dan ketidaktahuan selalu ada di tiap sudut sekalipun sains telah memberikan banyak informasi.
Tuhan, kebenaran dan proses kehidupan adalah sama. Sama sama ‘Yang Maha Tak Pernah Selesai’.
Sains tak memerlukan lagi agama dan filsafat untuk tumbuh. Filsafat juga tidak memerlukan lagi sains atau agama untuk mekar. Agama pun tak lagi memerlukan sains atau filsafat untuk diyakini. Tapi manusia yang multi dimensional memerlukan ketiganya.
Baca juga :  Kopi dan Kerumitan dalam Beragama
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *