Serutan Takdir

Serutan Takdir

Pagi ini hujan lebat mengguyur

kembali tidur bagi yang lembur

suara gemericik air menyanggah panca indraku

di sela semilir angin menusuk

ingatanku kembali padamu; kita bukan lagi siapa siapa

ini takdir

ini bukan hendakku hendakmu

sebab kita masih ingin sama sama

jarak jadi pembatas antaraku antaramu

kau yang di sana

air hujan ini petanda air mataku

menangisi rasa yang tak rela bermuara ke mana pun selainmu

hanya doa tanpa ikhtiar

pasrah pada Sang Mahakuasa

Baca juga :  Mereguk Rasa Lewat Cerpen Pilihan #ProsaDiRumahAja Pandemi
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *