Si Pendongeng

Perahu dan Batas Istirah Abah Kohar

Tawa ombak bergulung-gulung, larung-melarung seribu satu zikir. Mabuk-peluk, hanyut –larut. Di antara susunan balok-balok kayu, lelaki kekar si penyaji kelalakar tiap hari membakar kulit tubuhnya. Lelah dan luka ia lupa. Sedari dulu ia punya cita-cita satu bertemu anak perempuannya, perempuan lugu berpita ungu. Di usia 16 tahun ia meninggalkan rumahnya untuk sebuah ingatan perjalanan tentang masa lalunya.

Karena susah terlalu lama ia lupa menyisir rambut, menggosok gigi pula melarung sesaji untuk orang-orang yang dicintainya. Di kampung orang ramai berdebat tentang kepergiannya. Ada yang bilang ia dipersunting “sing mbhaurekso laut”. Ada yang bilang ia mulai akrab membaca ayat-ayat laut yang tak ada jam tayang di layar televisi. Hingga tahun pun berlalu melapukkan kisah Aliyah si anak Abah Kohar.

Bertahun-tahun ia menunggu datangnya si penjual karomah, tapi sia-sia saja. Ia pun pergi membawa laju perahu dengan berbekal sekantong manisan. Ia berpesan “Istriku, jagalah lelap pintu tidurku, pergilah bersama takdirmu.”

Mengapa pertemuan meski berujung di garis kerapuhan?

Di tengah perjalanan Abah Kohar berdoa “Aliyah, masihkah kau tunggu hijau tahun berjalan dengan kejutan?”

Di rumah istrinya tak lagi mampu berbagi mimpi. Ia santap manisan terakhir  suaminya.

“Abah Kohar, kusisakan manisan ini sebelum malam. Aku ingin belajar membaca kesepian. Lalu apa yang layak dicatat? Apa aku, Abah dan Aliyah hanya tamzil pepatah waktu? ”

Baca juga :  Tafsir Lahad Penyair Binhad

Lalu ia pun menandai kisahnya di bangku kayu. Beberapa tahun kemudian kehidupan adalah sebuah kebisuan  sunyi.

Ibu Rumah Tangga Berambut Pirang

Sering kali ia pakai tangga tetangga untuk menenggok seperti apa halaman surga. Bocah itu belum mampu mengenapi ulang tahunnya yang ke tujuh. Pada hari Minggu si ibu menyempatkan  bermain game sambil sesekali bertanya “Nak, besok apa cita-cita  yang akan kau bawa pulang?”

“Aku ingin menjadi seorang nabi!”

“Kenapa kau pilih cita-cita yang tak semestinya?”

“Bunda, kehidupan serupa keajaiban. Bukankah rasa takut adalah hal sepele yang kita rawat sejak masa kecil? ”

“Ahh… persetan dengan itu semua! Bunda sudah lupa seperti apa cara berbahagia. Bunuh cita-citamu. Apa kau tak tahu kita adalah bagian dari orang-orang pinggiran kota yang berbahagia?”

Apa ini juga bagian dari kegembiraan?

“Anakku besok pagi pakailah mantel hitam, pada saatnya kau akan tahu hidup tak layak untuk direncanakan.”

Di luar cuaca tak melulu dingin. Aku mau keluar sebentar sekedar menyapa angin.

Perlu bertahan ataukah ber-Tuhan?

 Surau dan Hikayat Guru

Surau itu usianya sudah renta, entah sudah berapa ratus tahun, tetapi lelaki yang disebut Guru itu masih setia tidur setikar-bertikar pandan. Suatu hari ia bermimpi kedatangan seorang perempuan bersayap kupu-kupu. Di sekujur tubuhnya tercium parfum aroma swalayan. Ia memberi salam lembut dan hangat.

“Apa kabar Tuan Guru?”

Di tiap –tiap bait-bait doa yang kau bunyikan kenapa masih kau simpan kisah kecewa dan putus asa? Tidakkah kau ingat sepekan kemudian kau harus pulang ke kampung halaman ?”

Baca juga :  Tuhan dan Kebebalan Berdemokrasi

Guru tua tersebut membiarkan pesan itu membekukan seluruh tubuhnya. Ia tak ingin menggubrisnya, sebab ia telah memutuskan hubungan dengan dunia mimpi. Bukankah mimpi selalu punya batas-batasan logika tersendiri ? Pelan-pelan ia mulai membuka matanya. Dan kesadarannya mampu mengatasi rasa yang tak semestinya.

Sore itu setelah mengalami beberapa peristiwa, ia mulai menyusuri jalanan kota sambil sesekali menyeka kedua matanya. Di perempatan jalan ia berhenti tepat di depan angkringan. Ia lihat seorang pengemis buta sedang menghirup kopi. Pengemis itu bangkit menghampirinya sambil menawari sebatang rokok.

“Terima kasih. Kok Mbah tahu yang aku butuhkan? ” tanyanya keheranan.  “Pulanglah!” seru kakek itu.

“Susunlah naskah perjalanan di setiap putaran roda-roda sepeda yang kau naiki.” Separuh malam kemudian Guru  mulai meninggalkan Alun-alun kota. Ia tak lagi ingin sisakan sisa usia di bilik Surau.

“Ini entah perjalanan ke berapa?” Tiba-tiba ia tersentak. Ia ingat sesuatu. “Ahh! di rumah Emak dan Bapak tak punya cukup duit untuk membayar sewa kontrakan.”

“Mak, tunggu sebentar. Aku akan pulang!”

Lelaki Berbaju Koko itu selalu mengitung hujan satu-dua-tiga hingga hitungan ke 99. Ia selalu mengikuti kata-hati. Sehari –sebulan –bertahun-menahun tak ia temukan jalan ke halaman rumah Tuhan. Lalu ia berkata pendek, “Sinting!” Lelaki itu mulai gelisah.

Baca juga :  Ajengan Aban

Ia mulai memasukkan tubuhnya di bilik kamar sambil bersiul, merapikan baju koko, tak lupa membawa kitab-kitab di saku baju. Lelaki itu tak bahagia. Tapi ia ingin terlihat tampak bahagia (baru saja ia membaca satu-dua-doa). Telepone genggam di saku bajunya berbunyi. Kring…. kring…. kring… “Astaga!”

Layanan iklan- layanan iklan- pesan ke rumah Tuhan tak perlu jauh-jauh terbang ke negeri sebrang. Ada jalan instan (cara cepat menuju rumah Tuhan) sekali lagi lelaki itu berkata pendek “Sinting!”

Tuhan diiklankan ? Iapun menghitung satu-dua-tiga – 99, sampai membanting telepon genggamnya. Prak….! ia pun kembali menari mengikuti kata hati. Kapan kita berhenti bertanya tentang sebuah jalan? Lamat –lamat lelaki itu bergerak menjauh dan semakin jauh.

 Kitab itu Bernama Face-book

Baru saja ia menulis status di beranda. Katanya ini zaman semakin keren. Di sepi pagi ia tulis  biar miskin asal perut kenyang. Facebook masih saja ia genggam dan aneh ia terus geleng-geleng, manggut-manggut, tertawa sendirian hingga lupa di dapur tak ada sisa makanan yang bisa dimakan. Ini zaman memang semakin keren. Maka kita pun perlu belajar menikmati rasa lapar.

Ia pun melirik arlojinya, “Ah, masih ada waktu untuk pergi ke pasar.”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *