Sifat Perfeksionis Menurut Al-Qur’an

Sikap Perfeksionis Menurut Al-Qur'an

Setiap orang mempunyai prinsip hidup masing-masing. Ada orang yang masa bodoh dengan keadaan hidupnya, ada pula orang yang berambisi kuat untuk selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidup. Sehingga terkadang terdapat perbedaan usaha yang dilakukan antara orang yang benar-benar ambisius dengan orang yang tidak terlalu peduli dengan kehidupannya.

Salah satu sifat yang menunjukkan seseorang sangat berkeinginan selalu menjadi yang terbaik adalah sifat perfeksionis. Sifat perfeksionis merupakan sifat yang biasanya didorong oleh ketakutan akan kegagalan menyenangkan orang lain.

Tak hanya itu, orang perfeksionis memiliki perasaan takut ditolak dan dikritik. Tak heran, keinginan untuk menjadi sempurna tanpa ada cacat dan celah dapat membuatnya merasa cemas dan stres begitu kesempurnaan itu gagal tercapai (https://hellosehat.com).

Contoh saja dalam pekerjaan, orang yang perfeksionis selalu menginginkan hasil pekerjaan tersebut sempurna tanpa ada cacat sedikit pun. Sehingga terkadang ia bekerja sangat keras dan akan menyalahkan dirinya sendiri bahkan orang lain ketika hasil pekerjaannya tidak sempurna. Oleh sebab itu, sifat perfeksionis tidak selalu dapat diartikan sebagai suatu sikap yang positif.

Nafsu Lawwamah

Lalu bagaimanakah al-Qur’an memandang sifat orang yang perfeksionis dalam hidup? Sejatinya Allah menyebutkan tentang sifat perfeksionis ini dengan sebutan nafsu lawwamah (jiwa menyesal) sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qiyamah [75]: 2 sebagai berikut.

وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ 

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah [75]: 2)

Baca juga :  3 Prinsip Ekonomi dalam Al-Qur’an

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Juwaibir mengatakan, kami pernah mendapat kabar dari al-Hasan bahwasanya dia pernah berkata mengenai firman Allah “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesal,” dia mengatakan: “Tidak ada seorang pun dari penghuni langit dan bumi ini melainkan akan mencela dirinya sendiri pada hari Kiamat kelak.”

Ibnu Jarir juga mengatakan: “Yang lebih dekat dengan lahiriah ayat bahwa jiwa mencela pemiliknya atas kebaikan dan keburukan, serta menyesali segala hal yang telah berlalu.”

Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa maksud dari nafsu lawwamah dalam ayat tersebut adalah jiwa orang yang beriman yang tidak melihatnya kecuali  menyesali  dirinya.  Dia berkata,   “Maa aradtu bikadzaa?” (Apa yang aku inginkan dengan ini?) Artinya, dia tidak melihat kecuali dia mencela dirinya sendiri. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, dan lainya.

Maksudnya adalah yang mencela apa yang telah lalu dan menyesalinya. Dia mencela dirinya atas kejahatan, `Kenapa kamu melakukannya?’ dan atas kebaikan,`Kenapa kamu tidak memperbanyaknya?’ Sementara orang-orang yang fasik tidak akan mengintrospeksi dirinya sendiri.

Quraish Shihab kemudian menguatkan bahwa nafsu lawwamah adalah jiwa yang mencela atau menyalahkan diri sendiri. Jika orang yang menyimpang dari jalan yang benar yang digariskan Allah dalam agama, seketika timbul rasa penyesalan dalam batinnya. Rasa penyesalan yang jujur atas tindakan yang salah sangat penting dalam rangka kembali (tobat) kepada Allah, untuk selalu berada di atas jalan-Nya.

Baca juga :  Prinsip Etika Komunikasi dalam Islam Menurut Al-Qur’an

Adapun menurut Robert Frager sebagaimana dikutip oleh Solihin dan Naan, makna lawwamah adalah tidak menerima amalan tercela dan meminta ampunan Allah manakala menyadari perbuatan jeleknya. Pada maqam ini seseorang dapat memahami efek perbuatan negatif dari ego yang lebih condong pada dunia. Perbuatan buruk dirasa memalukan, merasa berdosa, menyesal, namun kembali pada perbuatan salah.

Bolehkah Memiliki Sifat Perfeksionis?

Jika mengamati penafsiran QS. Al-Qiyamah [75]: 2 di atas, maka nafsu lawwamah atau sifat perfeksionis dalam amal kebaikan adalah sebuah anjuran. Sebab akan ada jiwa-jiwa yang menyesal ketika di akhirat kelak semua amal manusia akan dipertanggung jawabkan. Ketika amal buruk lebih banyak dari amal baik maka muncullah penyesalan yang amat dalam.

Oleh sebab itu, memiliki sifat perfeksionis ketika mengerjakan amal-amal baik adalah suatu kewajaran dan juga sebuah keharusan. Sebaliknya, ketika mengerjakan sesuatu yang buruk maka harus ditinggalkan. Namun ada perbedaan antara selalu menjadi yang terbaik dengan perfeksionis yang terlalu ekstrem.

Sebagai contoh dalam mengerjakan sebuah proyek di tempat kerja. Seseorang boleh perfeksionis dengan pekerjaannya, tetapi jangan sampai ambisi menjadi yang terbaik tersebut dapat menyalahkan diri sendiri bahkan orang lain ketika mendapat hasil yang tidak sesuai. Mengupayakan pekerjaan yang perfect adalah amal perbuatan yang baik, tetapi tidak menerima hasil akhir juga merupakan sikap yang keliru.

Baca juga :  Prinsip Perdamaian dalam Islam Menurut Al-Qur’an

Sebab dalam setiap ikhtiar yang dilakukan, ada tawakkal yang tidak boleh dilupakan. Dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 159, Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Maksudnya adalah ketika kita telah menyelesaikan suatu urusan pekerjaan, maka serahkanlah urusan kapada Allah dengan segenap ikhtiar yang telah dilakukan.

Maka dapat dipahami bahwa ketika mengerjakan sesuatu, kerjakanlah dengan usaha yang maksimal dan sebaik mungkin. Namun setelah itu, bertawakkal kepada Allah mengenai hasil yang akan didapat. Dengan demikian akan memunculkan ketenangan batin ketika hasil yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.

Tetap Tawakal

Demikian bahwa al-Qur’an mengingatkan tentang sikap perfeksionis yang dianjurkan ketika mengerjakan amal kebaikan. Sebab di akhirat kelak akan ada penyesalan ketika perbuatan-perbuatan baik tidak dilakukan dengan maksimal. Namun dalam mengerjakan perbuatan baik tersebut harus diimbangi dengan sikap bijak yang lain yakni dengan bertawakkal kepada Allah.

Sebab sesempurna apapun suatu usaha, Allah pula yang menentukan hasil akhirnya. Hanya Allah yang mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Oleh sebab itu, perfeksionis adalah hal yang baik, tetapi harus dilakukan secara wajar tanpa memaksakan hasil akhir selalu sesuai ekspektasi. Wallahu A’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *