Sifat Sombong dan Cara Menghindarinya

Dalam sebuah pengajian di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) beberapa waktu lalu, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Burhany 1 Mranggen, Demak, KH. Helmi Wafa, menerangkan bahaya sifat sombong dan beberapa cara untuk menghindarinya.

Sombong dalam bahasa Arab disebut takabbur. Takabbur ini adalah salah satu sifat Allah Swt., sehingga dalam asmaul husna kita kenal dengan nama al-mutakabbir. Allah al-mutakabbir.

Kita sebagai hamba Allah yang lemah dan hina tidak pantas untuk menyanding sifat takabbur, karena ini merupakan sifat Allah, Tuhan Semesta Alam yang tidak boleh menjadi sifat seorang makhluk.

Allah berfirman di dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairoh ra: Kemuliaan itu adalah pakaianku dan keagungan adalah selendangku, maka barang siapa yang mengambil dari-Ku salah satu darinya atau kedua-duanya, maka aku sungguh mengazab orang tersebut.”

Banyak contoh terkait makhluk-makhluk yang berlaku sombong kemudian dihancurkan oleh Allah Swt. Contoh yang paling awal adalah iblis yang sombong karena merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam as.

Ketika diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam dia tidak mau sujud dan hormat kepadanya karena merasa bahwa penciptaan diriya lebih hebat dan lebih mulia daripada Nabi Adam. Sebagaimana perkataan iblis dalam QS. Al-A’raf: 12 dan QS. Shad: 76 : Khalaqtani min nar wa khalaqtahu min tin.

Engkau (Allah) telah menciptakanku dari api, sedangkan Engkau telah menciptakannya (Nabi Adam as) dari tanah.”

Contoh lain adalah Firaun yang sombong dengan kekuasaannya. Adapula Qorun yang sombong dengan hartanya. Abu Jahal sombong dengan nasabnya. Maka semua itu kemudian dihancurkan oleh Allah.

Baca juga :  Istighfar ala Sari al-Saqthi
Dua Kategori Sombong

Dalam beberapa hadits Rasulullah, meskipun dengan lafadz yang berbeda-beda tetapi intinya sama, pengertian sombong dibagi menjadi dua kategori. pengertian sombong yang pertama adalah Ihtiqor an-nnas (meremehkan manusia atau orang lain).

Penyebab seseorang meremehkan orang lain, menurut para ulama’ ada empat (4) hal, yaitu pertama, ujub atau sifat bangga terhadap diri sendiri, bangga terhadap amal-amalnya dan apa yang ada pada dirinya sehingga dia merasa lebih tinggi dari orang lain yang kemudian membuat dia merendahkan orang lain.

Kedua, riya atau pamer. Jika  seseorang suka pamer berarti dia suka dipuji. Kemudian jika sudah dipuji dia akan merasa hebat selanjutnya dia menganggap orang lain rendah. Oleh sebab itu, riya dapat menjadi sebab terjadinya kesombongan.

Ketiga, benci. Jika seseorang sudah benci kepada orang lain, maka ia tidak akan tawadu, hormat apalagi menerima nasihat dari orang tersebut. Sifat ini juga menyebabkan perilaku ihtiqor an-nnas.

Keempat, hasad atau iri hati. Tidak suka ketika seseorang mendapatkan sesuatu kenikmatan. Orang iri selalu ingin mendapatkan apa yang orang lain dapatkan. Hal ini menjadi sebab kesombongan karena ia merasa bahwa seharusnya dialah yang mendapat kenikmatan tersebut, karena dialah yang lebih hebat, pintar, kaya, dan lain-lain.

Pengertian sombong yang kedua adalah Roddu Al-Haq (menolak kebenaran). Ketika Abu Jahal ditanyai para shahabat, “Apakah kamu pernah mendengar  Nabi Muhammad Saw. berbohong?” Dia menjawab, “Tidak pernah. Muhammad jujur dari sejak kecil sampai menjadi nabi tidak pernah berbohong sampai-sampai disebut oleh penduduk Makkah dengan sebutan Al-Amin (orang yang sangat amanah).”

Baca juga :  Ain al-Qudzat; Sufi Martir dari Hamedan

Kenapa ketika Muhammad mengaku sebagai nabi dia (Abu Jahal) tidak percaya bahkan ia mengingkari? Kesombongan itu menutupi hatinya. Dia mengatakan, “Kalau saja Muhammad itu keturunan Abu Syams, maka aku akan mempercayainya sebagai seorang nabi.”

Sama halnya dengan kisah Bani Israil pada saat mereka menanti-nantikan kehadiran nabi akhir zaman. Hinga akhirnya Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan bertemu dengan orang-orang yahudi di sana. Awalnya mereka menyambut kedatangan Rasulullah dengan gembira.

Namun ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah di Madinah, mereka berbalik memusuhi nabi karena iri, dengki, dan sombong. Mereka bertanya, “Kenapa nabinya berasal dari Arab bukan keturunan Bani Israil? Kalau  saja dari keturunan Bani Israil, maka kami akan beriman.”

Dua kisah di atas menunjukkan bahwa roddu al-haq menjadi puncak kesombongan yang merupakan akibat dari ihtiqor an-nas.

Cara Menghindari Sombong

Ada paling tidak dua cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari sombong, yakni pertama, mengisi hati dengan sifat-sifat yang positif yang berkebalikan dengan sifat takabbur. Lawan dari takabur adalah tawaduk atau rendah hati. Kedua, membersihkan hati kita dengan memperbanyak berdzikir.

Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 menjelaskan:

أَلَا بِذِكْرِالّٰلهِ تَطْمَىِٔنُّ الْقُلُوْبُ

Iingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Ada tiga jenis dzikir yang bisa kita lakukan, yaitu pertama dzikir dalam makna khusus, yaitu setiap ucapan yang ditujukan untuk memuji Allah dan memohon kepada-Nya. Seperti memuji Allah dengan lafadz tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illallah), takbir (allahu akbar), atau dengan menyebut asmaul husna yakni nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik.

Baca juga :  Teks Sholawat Nariyah PDF

Bisa juga dengan beristighfar kepada-Nya dan bershalawat kepada Rasulullah. Sebagian ulama menambahkan membaca Al-Qur’an juga termasuk sebagai dzikir pada makna yang khusus ini. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Adz-dzikro, dan sesugguhnya Kami pula yang benar-benar menjaganya.”  (QS Al-Hijr:9)

Dalam ayat ini, Allah menyebut kata adz-dzikro yang mayoritas ahli tafsir menafsirkannya dengan Al-Qur’an. Sehingga oleh sebagian ulama, membaca Al-Qur’an adalah termasuk bentuk dzikir.

Kedua, dzikir dalam makna umum, yaitu rangkaian aktivitas ibadah yang di dalamnya ada dzikir khusus sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Contohnya shalat, thawaf, dan menghadiri majelis-majelis pengajian.

Ketiga, dzikir dalam makna yang lebih luas lagi, yaitu mencakup semua jenis ibadah. Karena semua ibadah pada hakikatnya adalah untuk mengingat Allah (dzikrullah). Wallahu a’lam bis shawab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.