Silsilah Raja-Raja Kesultanan Demak dalam Kitab Ulama Nusantara

Silsilah nasab seseorang, selain agama, menempati posisi penting dalam kajian sejarah Jawa. Terlebih lagi bila dua hal ini menyangkut kehidupan raja-raja, yang membicarakannya akan mengundang perhatian dari kalangan luas. Silsilah leluhur seorang raja akan menentukan pantas atau tidaknya dalam menyandang posisi sebagai penguasa.

Jelasnya, seorang raja Jawa haruslah keturunan seorang raja, atau orang yang memiliki kedudukan luhur. Dengan demikian, nasab dalam tradisi masyarakat Jawa merupakan integritas seseorang, dan juga menerangkan derajat dalam kehidupan sosialnya.

Dalam hubungannya dengan kesultanan Demak Bintara (1475-1554 M), selama ini berita tentang relasi kekerabatan istana kesultanan Demak telah didominasi oleh narasi tunggal yang bersumber dari kitab babad, yang selanjutnya tersebar di masyarakat melalui berita lisan dan pertunjukan seni-seni tradisional. Riset Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini secara spesifik ingin mengkaji silsilah raja-raja kesultanan Demak Bintara yang berdiri atas inisiasi oleh para wali, dan pengaruhnya terhadap pemahaman masyarakat umum terhadap sejarah Islam di Indonesia hari ini.

Dalam penelusuran peneliti, para ulama dan kaum santri juga telah melahirkan karya sejarah yang merekam peristiwa di masa lalu. Sayangnya, keberadaan karya ini masih belum diketahui khalayak. Di antara literatur karya para ulama Nusantara yang menyuguhkan detail silsilah pendiri kesultanan Demak adalah Tarikh al-Auliya: Tarikh Wali sanga (1372 H) karya Kiai Bisyri Musthofa Rembang4, kitab Ahla al Musamarah fi Hikayat al-Auliya’ al-Asyrah (1420 H) karya Kiai Abu al-Fadhal Tuban, dan manuskrip Syeh Anom.

Baca juga :  Kesiapan Kelembagaan di Daerah dalam Pelayanan Sertifikasi Halal

Narasi sejarah masa lalu mengabaikan nalar dan pengetahuan para pelaku (pemilik sejarah). Di sana ada hal-hal yang tidak elok dalam penggambaran kehidupan para tokoh di masa lalu. Kesultanan Demak Bintara berdiri di bawah pengarahan dewan wali yang memegangi tata-nilai. Di antara mereka terdapat ikatan untuk saling menghargai dan welas asih, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak. Dalam konteks ini, setiap kebijakan, apalagi yang menyangkut persoalan rakyat akan melalui nasehat dan fatwa dewan wali.

Kesultanan Demak Bintara merupakan kelanjutan dari dinasti Majapahit. Raden Fatah memiliki garis keturunan langsung (nasab) dari raja-raja Majapahit. Karena dorongan dan pengarahan dari para guru spiritual (wali) serta dukungan dari raja Brawijaya, ayahandanya sendiri, Fatah kemudian menapaki jalan panjang hingga menjadi seorang sultan di Tanah Jawa.

Sisa-sisa pekerjaan rumah Majapahit akan diwarsikan pada Demak Bintara. Masih ditambah dengan tantangan baru yang harus dihadapi kerajaan Demak, yaitu kedatangan orang asing yang ingin menguasai kekayaan bumi Nusantara. Selain itu, Demak Bintara memiliki tugas yang tidak ringan: menata, membenahi, dan mempertahankan wilayahnya. Butuh strategi jitu dan kerja keras untuk semua itu.

Faktanya, serdadu Portugis tidak pernah benar-benar menyentuh benteng pertahanan istana Demak. Anggapan sementara pihak yang meyakini Raden Fatah memiliki ambisi untuk menjadi seorang raja, bahkan sampai memerangi orang tuanya sendiri perlu dikoreksi. Apalagi jika memperhatikan ajaran di lingkungan kaum santri tradisional—mereka umumnya memiliki ketaatan yang tinggi kepada guru, dan melawan penguasa yang sah adalah terlarang—rasanya mustahil terjadi peperangan antara Fatah dengan ayahnya sendiri.

Baca juga :  Hasil Survei Indeks Kesalehan Sosial di Indonesia Tahun 2019

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Islamtoday

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *