Simbiosis Mutualisme [Cerpen]

Warung gorengan Mak Ijah pagi itu sudah ramai dipenuhi pemburu gorengan anget ala Mak Ijah yang sudah termasyhur kelezatannya di lidah para sarkub. Sarkub adalah akronim dari Sarjana Kuburan, sebutan bagi orang-orang yang gemar berziarah ke makam-makam keramat.

Warung Mak Ijah memang menjadi destinasi favorit para sarkub memanjakan lidah. Sebab selain harganya terjangkau, gorengan dan kopinya yang maknyus, warung Mak Ijah bertempat di areal salah satu makam keramat yang menjadi jujugan para sarkub melepas dahaga rohaninya; makam Mbah Nafis.

“Mat, nanti siang kamu ikut aku sowan ke Gus Salik,” ujar Sholeh, setengah berbisik.

“Gus Salik itu siapa?” tanya Mat Gozi.

“Gus Salik itu cucu Mbah Nafis yang disemayamkan di pemakaman keramat ini. Konon katanya, Gus Salik itu mewarisi segala karomah dan keistimewaan yang dimiliki oleh kakeknya. Beliau ini bisa membaca isi hati orang seperti membaca koran. Ada yang bilang juga, tiap malam tertentu, beliau rutin menghadiri majelis para wali asuhan Nabi Khidir,” tukas Sholeh.

Kopi panas yang baru saja diminum Mat Gozi hampir muncrat saking takjubnya. “Wah, berarti Gus Salik itu seorang wali, ya?”

“Waduh, kalau itu sih aku ya nggak tahu, Mat. Soalnya yang bisa mengetahui pangkat kewalian seseorang adalah seorang wali juga. Lha aku bukan wali kok,” jawab Sholeh. “Tapi banyak orang yang bilang kalau Gus Salik itu seorang wali. Padahal umurnya baru 32 tahun.”

Mat Gozi manggut-manggut. Ia bingung antara harus percaya atau tidak. Mat Gozi memiliki latar belakang berbeda dengan Sholeh, kawannya yang seorang sarkub tulen. Mat Gozi pernah nyantri beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan kuliah. Sedangkan Sholeh, sejak usia belasan sudah hidup dari makam satu ke makam lain. Sholeh menjadi sarkub karena almarhum ayahnya juga seorang sarkub. Turun temurun.

***

Siang itu ndalem Gus Salik juga ramai, bahkan melebihi ramainya warung Mak Ijah. Ratusan orang mengantre untuk bisa sowan menghadap beliau, mencurahkan segala persoalan hidup dan meminta solusinya sekaligus. Gus Salik pinarak di kamarnya. Di pintu ndalem, tiga orang khodam alias santri Gus Salik tampak cekatan menertibkan antrean panjang manusia.

“Mat, kamu yakin nggak mau menanyakan persoalan apa gitu sama Gus Salik?” tanya Sholeh, di tengah-tengah antrean.

“Nggaklah, mau tanya apa? Hidupku lagi nggak ada persoalan berarti akhir-akhir ini,” ujar Mat Gozi, cengengesan.

Penjaga pintu ndalem mempersilakan Sholeh dan Mat Gozi. Mereka dituntun masuk ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar Gus Salik. Di tembok, terpajang kaligrafi Arab bertuliskan ayat Alquran, surah Yunus  ayat 62: Alaa inna auliyaa allahi laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Tepat di bawah ukiran kaligrafi indah itu, foto Mbah Nafis semasa muda terpampang. Di bawahnya lagi foto Gus Salik sendiri.

“Namanya siapa?” tanya Gus Salik, membuka percakapan.

“Saya Sholeh, Gus. Dari Madura. Ini teman saya, Ahmad Gozi, biasa dipanggil Mat Gozi,” jawab Sholeh.

“Hmm… Iya, iya. Sering ke makam Mbah Nafis, ya?” tukas Gus Salik dengan suara yang tampak berwibawa.

“Iya, Gus. Tadi pagi saya juga baru dari ziarah ke makam Mbah Nafis,” suara Sholeh tampak gugup. Gus Salik seakan mengetahui bahwa tamunya ini tadi pagi ziarah ke makam kakeknya, Mbah Nafis. Semakin mantaplah Sholeh akan kewalian Gus Salik seperti yang dikabarkan orang-orang.

Baca juga :  Si Pendongeng [Cerpen]

“Lalu, ada apa gerangan yang membawa Kang Sholeh menghadap saya saat ini?”

“Anu, Gus. Pertama, saya bermaksud silaturrahmi. Kedua, saya hendak matur soal kesulitan keuangan saya akhir-akhir ini. Hutang saya semakin menumpuk. Motor juga sudah saya gadaikan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, sawah sudah saya jual, tapi belum laku juga,” tutur Sholeh.

“Oh, itu…” Gus Salik mengangguk pelan. Sesekali matanya terpejam, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tak kasat mata.

“Yang jelas, kerja dan ibadah Kang Sholeh yang sudah diistiqomahkan harus tetap dilaksanakan. Ziarah ke makam Mbah Nafis juga sesempat mungkin tetap dilakukan, jangan sampai putus. Dan saya sarankan Kang Sholeh untuk sowan kepada Gus Chitam di daerah Grobogan. Beliau itu orang baik. Gus Chitam ini yang pegang kunci wilayah rejeki dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti persoalan yang menimpa Kang Sholeh sekarang.”

“Iya, Gus. Terima kasih. Kalau begitu, saya undur diri. Insyaallah saya akan sowan ke Gus Chitam Grobogan,” ujar Sholeh. Dengan takzim, Sholeh menciumi tangan Gus Salik sembari menyelipkan ‘amplop’ sebagai tanda terima kasih kepada Gus Salik.

“Oh, iya. Kalau mau sowan ke Gus Chitam, tepat satu minggu dari sekarang, ya. Berarti hari Sabtu depan. Soalnya beliau itu agak sibuk orangnya. Sampaikan juga salam saya ke Gus Chitam nanti,” pesan Gus Salik, sembari memberi kertas bertuliskan wirid berbahasa Arab karangannya sendiri.

Saat meninggalkan ruangan, Mat Gozi sempat bertanya kepada salah satu santri yang menjaga pintu ndalem tentang aktifitas dan pengajian yang diasuh oleh Gus Salik. Santri itu menjawab bahwa Gus Salik tidak mengasuh pengajian apapun. Beliau berdakwah dengan cara membantu orang-orang melalui pemecahan solusi yang diberikannya. Mat Gozi mengadukan hal ini kepada Sholeh.

“Masa seorang gus besar seperti Gus Salik tidak ada pengajiaannya?” tanya Mat Gozi.

“Ya kan gak semuanya harus ngaji, Mat. Cara untuk wushul atau menjadi kekasih Tuhan itu tidak melulu melalui ngaji. Makanya sering-sering nyarkub, biar tahu hal-hal kayak gitu,” pungkas Sholeh.

***

Sholeh meluluskan saran Gus Salik. Tepat seminggu pasca sowan ke Gus Salik, Sholeh berangkat ke Grobogan, sowan Gus Chitam. Mat Gozi yang awalnya menolak untuk mendampingi Sholeh menghadap Gus Chitam akhirnya menyerah karena terus menerus dipaksa dan diyakinkan oleh Sholeh bahwa Gus Chitam ini juga seorang wali yang tak kalah tersohor namanya dengan Gus Salik. Sebab Gus Chitam direkomendasikan oleh Gus Salik. Seorang wali pasti juga merekomendasikan wali lainnya, pikir Sholeh.

“Siapa namanya?” tanya Gus Chitam, sembari menata letak kacamatanya senyaman mungkin.

“Saya Sholeh, Gus. Dari Madura. Ini teman saya, Mat Gozi,” jelas Sholeh, memperkenalkan diri.

“Kalau saya lihat, kamu sedang dililit hutang. Dan meski motormu sudah kaugadaikan, kesulitanmu tetap saja belum teratasi,” tegas Gus Chitam, mantap dan meyakinkan.

Sholeh takjub luar biasa. Bagaimana bisa Gus Chitam mengetahui segala permasalahannya? Padahal sepatah kata pun belum ia ceritakan. “I, iya, Gus. Betul, betul sekali,” ucap Sholeh, terbata-bata.

“Ya sudah. Itu soal mudah. Tiap malam sebelum tidur, kamu baca Surah Waqiah sebelas kali sembari menghadap kiblat. Tiap-tiap selesai baca sekali, kamu baca wirid yang saya berikan ini,” Gus Chitam menyodorkan selembar kertas. “Wirid itu saya ijazahkan khusus untuk kamu. Insyaallah, masalahmu segera terurai dan terselesaikan.”

Baca juga :  Ajengan Aban [Cerpen]

“Terima kasih, Gus. Kalau begitu saya sekalian pamit undur diri saja,” ujar Sholeh, sembari menciumi dengan takzim tangan Gus Chitam. Tak lupa ‘amplop’ disisipkan sebagai ucapan terima kasih.

Sepanjang perjalanan pulang, Sholeh tak hentinya mengungkapkan kekagumannya terhadap Gus Chitam yang disebutnya memiliki daya linuwih, ngerti sakdurunge winarah atau tahu sebelum diceritakan. Wirid pemberian Gus Chitam segera menjadi serupa barang keramat yang begitu berharga di tangan Sholeh. Ia menggenggamnya erat-erat sembari sesekali menciuminya. Mat Gozi hanya diam menyaksikan tingkah laku kawannya itu.

***

Urusan pekerjaan menyeret Mat Gozi ke Jakarta. Bersama beberapa rekan kerjanya, malam itu Mat Gozi ngopi di salah satu kedai kopi branded sebuah mall Ibu kota. Di tengah asyik bercengkerama, perhatian Mat Gozi teralihkan kepada dua orang pemuda yang duduk di meja sebelahnya.

“Mereka ini siapa, ya? Rasanya wajah mereka tidak asing,” pikir Mat Gozi.

Demi menuntaskan rasa penasarannya, Mat Gozi menggeser kursinya sedikit demi sedikit untuk mendapatkan jarak dengar yang baik. Layaknya seorang telik sandi, Mat Gozi menajamkan telinganya, mencuri-dengar percakapan dua orang yang membuatnya penasaran.

“Bagaimana kabar Gus Salik sekeluarga? Sehat, kan?” seorang yang berkacamata membuka percakapan.

“Alhamdulillah, baik. Gus Chitam sendiri?”

“Sama. Sehat seger waras semuanya, hamdalah.”

Mat Gozi terkesiap. “Oiya. Mereka ini Gus Chitam dan Gus Salik. Ada urusan apa mereka di Jakarta?” ujar Mat Gozi, dalam hati.

Rasa penasaran Mat Gozi terhadap dua sosok manusia yang dikeramatkan di daerahnya masing-masing ini semakin tinggi. Kembali ia menguping pembicaraan Gus Salik dan Gus Chitam.

“Gus, menurut sampean, apakah yang kita lakukan selama ini benar?” tanya Gus Salik.

“Maksudnya?” Gus Chitam menata letak kacamatanya.

“Ya tentang relasi kita. Simbiosis mutualisme di antara kita,” kata Gus Salik.

Gus Chitam meraih macchiato di mejanya. “Begini, Gus. Simbiosis mutualisme ini kan sudah menjadi komitmen di antara kita. Gus Salik harus menjaga rahasia saya, saya juga akan menjaga rahasia Gus Salik. Jadi…”

“Tapi, Gus…” potong Gus Salik, “Bukankah dengan begini, kita telah berdosa karena membohongi umat?”

“Hm…” Gus Chitam mengelus janggut, “Praktik ini kan sudah kita rencanakan sejak dulu. Sejak kita masih sama-sama nyantri ke Kiai Zaini. Dan ingat, Gus. Kita berkongsi melakukan praktik ini karena kita sama-sama bodoh. Baik aku maupun kamu, sama-sama tidak bisa membaca kitab kuning. Kita tidak pandai soal hukum fikih, nahwu shorof apalagi tafsir, hadis dan lain-lainnya. Modal kita satu-satunya hanyalah kemampuan meyakinkan orang lain dan kebetulan termasuk keturunan orang besar.”

“Seperti yang kamu bilang dulu, Gus. Kita memakai media karomah sebagai alat. Setiap orang yang datang ke Gus Chitam akan diarahkan sowan ke Gus Salik dan sebaliknya. Kita sudah berhasil membuat orang-orang yakin bahwa kita memiliki karomah, bahwa kita bisa tahu sesuatu sebelum orang tersebut menceritakannya. Ya, meski kenyataannya, kabar tentang kondisi, permasalahan dan keluhan orang-orang yang sowan ke aku ini sudah kau kabarkan sebelumnya melalui sms, dan begitu pula yang kulakukan kepadamu. Kebutuhan hidup kita terpenuhi, sebagian orang menganggap kita wali, kata-kata yang keluar dari mulut kita selalu ditaati. Kurang apa lagi, Gus? Bukankah ini sudah sangat bagus?”

Baca juga :  Pertemuan Kala Langit Sedang Biru [Cerpen]

“Ya itu maksudku, Gus. Bukankah dengan berpura-pura tampil sebagai wali dan memiliki karomah, kita telah melukai hati banyak orang?” tanya Gus Salik.

“Setelah bertahun-tahun praktik ini berjalan dan kita sudah mendapat milyaran uang dari amplop-amplop umat, kau baru kali ini mempertanyakannya, Gus? Haha, betapa naifnya dirimu, Gus Salik,” jawab Gus Chitam.

“Pikirkanlah, Gus. Pikirkan apa kata umat jika praktik ini tiba-tiba bubar. Orang-orang tetap akan mencari Gus Salik yang sakti, Gus Chitam yang doanya langsung terkabul tanpa aling-aling. Terus kita mau sembunyi di mana? Mau pindah hidup di luar negeri? Apa mau bertapa di gunung-gunung?”

“Ya. Tapi…”

“Begini, Gus Salik. Ingat apa yang pernah diucapkan Kiai Zaini dulu, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Praktik kita ini kan bermanfaat bagi orang lain. Mereka dapat solusi. Mereka lega setelah bertemu kita. Intinya kan cuma itu, Gus. Ini persis dengan praktik dokter. Orang datang ke dokter karena mereka percaya bahwa dokter yang didatanginya sanggup memberikan solusi bagi penyakitnya. Dan karena percaya itu, mereka disembuhkan oleh Tuhan. Kita juga begitu, Gus. Orang-orang sudah terlanjur percaya kalau kita adalah wali. Maka apapun yang kita berikan kepada mereka, mereka akan melaksanakannya dengan mantap. Dan lantaran kemantapan hati mereka itu, pada akhirnya Tuhan berkenan menyelesaikan beragam permasalahan yang menimpa mereka. Toh, kita juga tidak pernah memaksa orang-orang yang sowan ke kita untuk memberi amplop. Tarif juga nggak ada patokan, seikhlasnya mereka saja, kan? Jadi aku rasa, praktik ini baik-baik saja. Sebab praktik ini memang terbukti bermanfaat bagi orang lain,” tukas Gus Chitam.

“Ya, tapi bermanfaat dan memanfaatkan itu beda, Gus,” ujar Gus Salik.

“Kita memangnya memanfaatkan apa? Siapa?” tanya Gus Chitam.

“Umat. Kebodohan umat,” tegas Gus Salik.

Percakapan antara Gus Salik dan Gus Chitam masih berlangsung. Namun Mat Gozi tidak mendengarkannya lagi–memilih untuk tidak mendengarkan. Isi kepala Mat Gozi dipenuhi berbagai hal. Ia tidak tahu harus menyikapi fenomena simbiosis mutualisme antara Gus Salik dan Gus Chitam dengan cara seperti apa. Tatapannya kosong. Kopinya terasa semakin pahit. Lebih pahit dari sebelumnya.

***

“Alhamdulillah, Mat. Alhamdulillah.” Sholeh tiba-tiba memeluk Mat Gozi.

“Ada apa, Kang Sholeh?”

“Sawahku yang sudah berbulan-bulan aku tawarkan untuk dijual itu akhirnya laku. Utang-utangku lunas semua sekarang. Ini berkat amalan dari Gus Salik dan Gus Chitam. Luar biasa memang jika waliyullah langsung yang memberi ijazah atau amal-amalan. Padahal amalannya baru aku lakukan selama tiga hari, tapi khasiatnya langsung cespleng,” terang Sholeh, sembari tak henti-henti mengucap syukur.

Mat Gozi mematung. Ia mengurungkan maksud utama kedatangannya pagi itu ke rumah Sholeh: mengungkap rahasia di balik simbiosis mutualisme antara Gus Salik dan Gus Chitam. Namun, setelah menyaksikan apa yang terjadi kepada Sholeh pagi ini, ia merasa tidak tega menghapus kegembiraan kawannya itu dengan memberi tahu kenyataan sebenarnya yang baru diketahuinya tempo hari di Ibu kota.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *