Sinta Nuriyah Wahid: Perempuan Pejuang Perempuan (Bag. I)

Suatu ketika Keluarga Kiai Wahid Hasyim, Pahlawan Nasional mantan Menteri Agama Republik Indonesia pertama, menikahkan salah seorang putranya yang bernama Abdurrahman Wahid dengan perempuan yang masih kerabat dekatnya. Pernikahan dilaksanakan seperti umumnya tradisi keluarga pesantren.

Namun yang menjadi sorot perhatian banyak orang adalah mempelai laki-laki tidak ada di lokasi. Gus Dur, Panggilan Abdurrahman Wahid ketika itu sedang belajar di Mesir. Praktis yang ada hanyalah mempelai perempuan.

Dalam aturan fikih, hal yang demikian sebenarnya bukan hal aneh. Ia memiliki landasan normatif yang kuat. Disebut bahwa proses ijab-qabul bisa diserahkan kepada pihak lain yang lumrah disebut taukil.

Selama ini mewakilkan untuk menikahkan mungkin sudah biasa. Yang tak biasa adalah mewakilkan untuk menerima pernikahan. Dan itu dilaksanakan oleh Gus Dur ketika menikahi perempuan terkasihnya, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Sinta menjadi rujukan publik terutama dalam isu-isu kesetaraan gender, toleransi dan hak asasi manusia bukan hanya karena ia istri Gus Dur. Sinta tampil seperti hari ini karena ia memang tipikal perempuan pejuang.

Kesetaraan, toleransi, dan hak asasi perempuan ia perjuangkan semenjak remaja. Ia memang dikenal sebagai perempuan kritis. Ia selalu merasa was-was ketika peminggiran, subordinat terus menimpa pada perempuan.

Baca juga :  Martha Christina Tiahahu, Pahlawan Perempuan Termuda di Indonesia  
Pendidikan dan Dapur Pergerakan

Mula-mula Sinta belajar di pesantren milik keluarganya di daerah Tambak Beras Jombang. Ia belajar di Sekolah Rakyat kemudian Madrasah Muallimat Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Setelah menamatkan pendidikan menengah ia kemudian menimba ilmu di kota gudeg, Yogyakarta, tepatnya di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kali Jaga Jogjakarta jurusan Fakultas Syariah (Qodho’).

Ketika sudah merasa cukup secara usia, ia akhirnya menikah dengan Gus Dur yang dulu masih bernama Abdurrahman Ad-Dakhil. Ketika pertama kali mengarungi rumah tangga, ia masih tinggal di Jombang, yakni di Pesantren Manbaul Maarif, Denanyar Jombang. Di sela-sela sebagai istri ia juga mengajar di Pesantren Denanyar, Tebuireng, dan Rejoso.

Kira-kira pada tahun 1980 kedua pasangan itu kemudian hijrah ke Jakarta. Di Ibu Kota keduanya memulai karir masing-masing. Gus Dur mulai aktif di Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang masih didirikan kakeknya.

Ia mulai sering bertemu dengan beberapa kiai-kiai pesantren. Hingga 4 tahun setelahnya secara resmi pertama kali Gus Dur naik menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar ke 27 di Sukorejo Situbondo.

Sementara Sinta memulai karir sebagai wartawan di beberapa media. Misal Majalah Zaman, Majalah Mantra. Ia juga aktif di beberapa organisasi perempuan seperti KNKWI (Komisi Nasional Kedudukan Wanita di Indonesia), Konawi (Kongres Wanita Indonesia), dan menjadi rohaniawan di rumah tahanan.

Baca juga :  Karimah al-Marwariyah, Ulama Hadis yang Enggan Menikah

Padatnya aktivitas ketika awal mula di Jakarta, tak membuat Sinta berhenti untuk menambah cakrawala pengetahuannya. Ia kemudian mendaftar di Pascasarjana Universitas Indonesia tepatnya pada departemen Kajian Perempuan dan Gender.

Sialnya ketika awal kuliah, Sinta mengalami kecelakaan hingga menyebabkan dirinya cedera. Secara otomatis cedera itu mengganggu mobilitas pergerakannya. Namun ia tetap memaksa kuliah. Kira-kira selama satu semester ia harus ditandu dari lantai 1 ke lantai 4 Universitas Indonesia.

Di tengah perkuliahan itu, ia mulai merasakan banyak kegelisahan. Ia merasakan bahwa betapa tidak enak menjadi perempuan. Banyak kendala baik budaya, sosial bahkan penafsiran agama yang menghambat kehidupan perempuan.

Kegelisahan itu terus menghantuinya. Hingga akhirnya Sinta menginisiasi mendirikan forum Kajian Kitab Kuning. Forum yang secara khusus mengkaji dan membedah pemikiran-pemikiran yang dianggap bias gender.

Bersama Kiai Husein Muhammad dan beberapa tokoh lain mula-mula membedah kitab yang amat kesohor di pesantren, Uqud al-Lujain karya Kiai Nawawi al-Bantani, seorang ulama Nusantara yang membangun karir keilmuan di Makkah. Dari hasil kajian itu kemudian dirilislah buku “Wajah Baru Relasi Suami Istri: Telaah Kitab Uqud al-Lujain” dan “Kembang Setaman Perkawinan”.

Rilis buku ini benar-benar membikin heboh kajian Islam di Indonesia, khususnya kaum tradisionalis. Berbagai penolakan mengemuka tetapi Sinta terus berjalan sesuai dengan pendiriannya memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan.

Baca juga :  Nyi Ageng Serang, Perempuan Penasihat Perang Diponegoro

Tidak berhenti di situ, pada tahun 2000, atas beberapa pertimbangan ia mendirikan organisasi Puan Amal Hayati. Tujuan utamanya adalah agar gerakan dan perjuangan membela kaum perempuan lebih efektif dan terurus. Agenda membebaskan perempuan dari belenggu, ketertindasan dan keterbelakangan diharapkan bisa segera terwujudnya dengan lembaga swadaya ini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *