Siti Rachmah Herlina, Srikandi di Balik Operasi Trikora

Siti Rachmah Herlina

Siti Rachmah Herlina, atau yang populer disebut Herlina Kasim lahir di Malang, Jawa Timur, 24 Februari 1941. Ia mengawali pendidikan sekolah dasar di Malang (1953), kemudian melanjutkan pendidikan SMP (1956) dan SMA (1953)  di Jakarta.

Selanjutnya, ia meneruskan ke pendidikan militer korps wanita angkatan darat pada tahun 1963-1964, pendidikan atase pers departemen luar negeri. Sebelum terjun dalam perjuangan Trikora, ia tercatat sebagai pegawai departemen pertanian di Jakarta pada tahun 1955-1956, anggota militer korsp wanita angkatan darat 1964 dan  komandan batalyon sukarelawati dwikora 1964.

Sebagaimana dikutip dari Naning Pranoto, Herlina merupakan satu-satunya perempuan yang menjadi pilar tegaknya NKRI, khususnya pada masa perebutan wilayah Irian Barat. Soekarno pun menjulukinya sebagai srikandi Irian Barat sebab keberaniannya dalam menembus belantara Irian Barat yang pada waktu masih dikuasai oleh Belanda.

Kontribusi Herlina menarik untuk diungkap karena ketika ia tergabung dalam Komando Mandala, ia masih berstatus mahasiswa dan aktif di media pers. Di usianya yang masih belia, ia berhasil mengalahkan rasa takutnya dan dominasi patriarki. Bahkan ia mampu meyakinkan Pangdam XVI Pattimura, agar ia dapat menjadi salah satu relawan yang terjun ke hutan belantara Irian Barat dalam misi operasi militer Trikora.

Sebagaimana dilansir dari Kedaulatan Rakyat Jogja, ketika Herlina diwawancarai mengenai apa yang membuat Pangdam Pattimura mengizinkannya ikut terjun dalam operasi militer Irian Barat? Herlina pun menjawab bahwa kepandaiannya dalam menulis menjadi nilai tersendiri dari dirinya.

Perjuangan

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pipin Ariyanti, dkk. disebutkan bahwa Herlina Kasim memiliki kontribusi yang nyata dalam perjuangan merebut Irian Barat. Di antaranya yakni pertama, sumbangsih  pemikirannya berupa upaya menerbitkan surat kabar selama operasi pembebasan Irian Barat.

Baca juga :  Ummu Salamah dan Gerakan Protes Kaum Perempuan di Masa Rasulullah

Menurutnya, tulisan merupakan senjata yang ampuh dalam merebut Irian Barat. Setidaknya dalam hal ini ia bisa menerbitkan surat kabar atau minimal berbentuk selebaran untuk mengobarkan semangat rakyat melawan Belanda.

Dalam upayanya tersebut, ia kemudian berhasil menerbitkan surat kabar seperti Gelora Kotabaru di Pulai Gebe berupa stensilan. Surat Kabar lain yang berjudul Tjendrawasih berhasil diterbitkan di Kotabaru dan Tjendrawasih di Kepulauan Raja Ampat yang berisi tentang perjuangan merebut Irian Barat, dalam surat kabar tersebut tak lupa diselipkan lagu Indonesia raya.

Sebagai seorang perempuan, ia pun berjasa dalam mengobarkan semangat perjuangan di kalangan perempuan. Menurut Herlina, kedudukan perempuan tidak dapat diabaikan, bahkan justru sebaliknya.  Kaum perempuan dinilai punya kelebihan dalam perjuangan turut menyuarakan dukungan pembebasan Irian Barat.

Salah satu cara yang ditempuh Herlina yakni dengan memberikan edukasi tentang kewanitaan kepada mereka. Dengan demikian, kaum perempuan akan memahami dirinya sebagai manusia yang utuh, serta memiliki rasa perjuangan yang tinggi untuk kemerdekaan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Lebih lanjut, Herlina Kassim melakukan perjuangan dalam bidang pendidikan, yakni turut membantu mendirikan Universitas Cenderawasih. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh tokoh pejuang di bidang pendidikan sebelumnya.

Akan tetapi proses pendirian universitas tersebut selalu diperlambat oleh pihak-pihak tertentu. Herlina pun menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mempercepat proses pendirian universitas ini, sehingga diharapkan Irian Jaya menjadi kota yang mandiri ke depannya.

Selain itu, ia mendirikan sekolah sederhana bagi anak-anak. Herlina bersama teman-temannya mendatangi beberapa pulau seperti pulau Gebe, Kepulauan Raja Ampat, Sorong dan Kotabaru untuk mendirikan sekolah sederhana.

Baca juga :  Ummu Haram binti Milhan; Pejuang Perempuan Pertama di Lautan

Ia mengajarkan anak-anak bernyanyi, mengenal para pahlawan Indonesia, presiden, bendera Indonesia, pulau-pulau di Indonesia dan lain sebagainya. Pendidikan sederhana ini bertujuan untuk mengobarkan semangat kemerdekaan wilayah Irian barat.

Selain kontribusi dalam bidang pemikiran, Herlina juga tercatat turut menyumbangkan tenaganya dalam penyusupan ke wilayah Irian Barat, khususnya di pulau Gebe pada tanggal 15 Juli 1962.

Penyusupan ini dilakukan oleh pasukan PG-500 yang dipimpin oleh Jonkey Hobert Rumontoy. Selama penyusupan ini, Herlina dua kali terlibat pertempuran dengan Belanda. Pertama, Herlina bersama kawan-kawannya terpaksa masuk hutan untuk mendirikan tenda bayangan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pertahanan diri dari Belanda yang berhasil mengelabui gerilyawan.

Kedua, pertempuran ini terjadi karena belanda mengetahui para gerilyawan mengangkut bahan bakar dan makanan ke pulau Waigeo. Dalam aksi penyusupan ini, Herlina juga bergerak ke pelosok pemukiman warga untuk meyakinkan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia, serta berani bersatu melawan Belanda.

Tidak berhenti sampai situ. Berkat kecerdasan yang dimiliki oleh Herlina dalam berbahasa asing, ia diperbantukan sebagai pihak penghubung antara Indonesia dan PBB bersama dengan Letnan Wim Saleki untuk melakukan perundingan, untuk memutus pertempuran. Serta mengkomunikasikan hal-hal yang terkait dengan kebutuhan gerilyawan.

Dengan dijalinnya perundingan dengan PBB, maka dibentuklah  UNTEA, sebagai pemerintahan sementara Belanda di Irian Barat. Namun, Herlina tetap menyuarakan kemerdekaan dan semangat persatuan untuk membebaskan Irian Barat. Sehingga pada tahun 1963 Belanda akhirnya menyerah. Selanjutnya pada tahun 31 Desember 1962, bendera Belanda resmi diturunkan dan sang Merah Putih dikibarkan.

Baca juga :  Tawakkul Karman, Perempuan Arab Pertama Peraih Nobel Perdamaian
Penghargaan

Atas jasanya yang turut andil dalam pembebasan Irian Barat, Presiden Soekarno kemudian memberikan penghargaan berupa “pending emas” yakni berupa sabuk emas seberat setengah kilogram dan uang senilai sepuluh juta rupiah.

Namun Herlina menggegerkan publik karena mengembalikan tanda jasa tersebut. Menurutnya, pengorbanan yang telah ia lakukan tersebut atas dasar cinta terhadap tanah air dan bukan cinta terhadap iming-iming hadiah.

Dari sosok Herlina kita dapat belajar bahwa perempuan punya juga punya keberanian dan kecerdasan. Perempuan memiliki peran untuk melawan penjajahan yang tidak hanya diartikan sebagai perlawanan fisik, akan tetapi juga pemikiran.

Herlina berhasil memberikan makna diri perempuan sebagai manusia yang utuh memiliki kekuatan pikiran dan fisik di tengah-tengah wacana perempuan yang masih dikesampingkan. Oleh karena itu, sosok Herlina perlu disoroti atas inspirasi serta kontribusinya melalui perjuangan merebut Irian barat.

 

 

 

Referensi:

ensiklopedia nasional-dia.jakarta-tourism.go.id

Pipin Ariyanti, dkk. “Kontribusi Herlina Kasim dalamupaya pembebasan irian barat dan penjajahan belanda tahun 1962-1963 “, Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah (PESAGI), Vol. 5, no. 8, 2017.

Naning Pranoto. 2010. Her Story: Sejarah Perjalanan Payudara. Yogyakarta: Kanisius.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *