Sosrokartono dan Falsafah Kejawen

sosrokartono

Sosrokartono di Eropa dijuluki Javanese Prince (Pangeran Jawa). Hal ini tidak berlebihan sebab Ia adalah putra bupati Jepara yang bernama Aryo Sosroningrat. Kakak pahlawan perempuan asal Jawa, RA Kartini ini adalah tokoh yang akrab dengan budaya dan pemikiran Barat.

Ia lama mengembara di Belanda, menyampaikan orasi ilmiah dalam kongres bahasa dan sastra Belanda di Belgia. Lama pula menjadi wartawan Perang Dunia I dan menjadi penerjemah Liga Bangsa-Bangsa (Nations League).

Dalam buku “Leiden Oriental Coonections”, Sosrokartono tercatat tiba di Belanda pada tahun 1896 saat ia kuliah di politeknik Deft. Kemudian pada 1901 ia masuk di Leiden University di jurusan Sastra sebab ia menyadari bakatnya bukan di teknik, tapi di humaniora.

Oleh karena kecerdasan dan bakatnya yang luar biasa, terutama di bidang bahasa, nama Sosrokartono semakin dikenal di Eropa. Bahkan Jan Bank dan Martin Van Buuren bercerita dalam bukunya, “Dutch Culture in European Perspective” bahwa ketika Sosrokartono menyampaikan orasi ilmiahnya di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda di Belgia, bahasa Belandanya sangat fasih hingga mengejutkan semua pendengarnya.

Mereka bahkan heran ada orang Jawa yang pada saat itu masih dalam penjajahan dan keterbelakangan mampu menembus panggung ilmiah dunia yang maju. Sosrokartono menyampaikan, “Anda adalah penguasa dengan Injil perdamaian di satu sisi dan tongkat Peradaban di sisi lain.  Bantu Bina persaudaraan antara dirimu dan subjekmu”.

Baca juga :  Sosrokartono, Pangeran Jawa yang Mendunia
Falsafah Kejawen Sosrokartono

Meskipun demikian, Sosrokartono tidak serta-merta lupa dengan nilai-nilai kejawen yang diwariskan oleh leluhurnya. Sebagaimana dikenal, Jawa merupakan bangsa adiluhung yang menjunjung tinggi nilai kearifan. Ini pula yang dilakukan oleh Sosrokartono.

Dalam perjalanan hidupnya, ia lebih memilih untuk mengabdikan dirinya pada abdi Tuhan. Sosrokartono lebih memilih melayani manusia dari pada hidup glamor di Eropa, meskipun semestinya ia mampu mendapatkan kemewahan itu semua karena memang kariernya di Eropa terbilang sukses.

Setelah ia memutuskan pulang ke Bumi Nusantara, ia bertransformasi menjadi seorang spiritualis dan membantu menyembuhkan masyarakat melalui kelebihan yang ia miliki secara alami. Hal ini dicatat oleh Muhibbuddin dalam bukunya, “RMP Sosrokartono”.

Setelah kembali dari Eropa, Sosrokartono tinggal di sebuah kontrakan yang ia beri nama Dar Oes Salam (Darus Salam) di daerah Bandung. Di sanalah ia mengabdikan dirinya untuk mengobati orang-orang yang sakit. Ia pun tidak memungut biaya atas pengobatan yang ia lakukan.

Laku spiritualnya itu sejalan dengan falsafah kejawen yang ia lakoni. Beberapa falsafah Jawa yang melekat pada dirinya hingga menjadi laku spiritualnya di antaranya adalah.

Sugih tanpo Bondo (Kaya tanpa Harta)

Bagi Sosrokartono, kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta seperti emas dan permata. Kekayaan yang dikumpulkan oleh Sosrokartono adalah kekayaan hati dan luasnya ilmu. Kekayaan inilah yang digunakannya sebagai modal mengabdi pada abdi Tuhan.

Baca juga :  Telaah Citra Perempuan dalam Budaya Jawa

Walaupun ia adalah anak bangsawan dan seorang intelektual dunia, Sosrokartono ternyata tidak memiliki banyak harta dan ia hidup sederhana dan bersahaja. Meski demikian, ia selalu mendermakan waktu, ilmu dan kemampuan miliknya untuk kemanusiaan.

Di saat banyak orang yang menilai kekayaan dengan materi, Sosrokartono justru sebaliknya. Ia hanya menginginkan jiwanya selalu tenang dengan ketiadaan, dan berkontribusi terhadap kemanusiaan.

Meskipun pada dasarnya memiliki harta banyak itu tidak salah asalkan untuk kemaslahatan banyak orang. Akan tetapi intinya Sosrokartono memilih jalan lain, yakni menjadi kaya tanpa tumpukan harta.

Digdoyo tanpo Aji (Sakti tanpa Aji)

Sosrokartono berprinsip bahwa tidak selamanya kekuatan muncul dari ajian-ajian atau mantra-mantra. Meskipun ia seorang ahli tirakat dan spiritual, Sosrokartono bukanlah orang yang suka mengumpulkan jimat dan ilmu kesaktian.

Ia lebih memilih menyandarkan hidupnya pada Sang Maha Kuasa. Baginya perisai paling kuat adalah perisai Tuhan, bukan ajian apalagi ilmu kesaktian. Ia pernah berkata, “Tanpa aji, tanpa ilmu. Saya tidak takut sebab payung saya Gusti saya, perisai saya juga Gusti saya.”

Terima mawi Pasrah (Terima dengan Pasrah)

Dalam hidupnya, ridla dan pasrah atas apa yang menjadi kehendak Tuhan adalah salah satu prinsip yang selalu diamalkan olah Sosrokartono. Singkatnya adalah ridla atas apa yang telah terjadi, menerima apa yang sedang terjadi dan pasrah atas apa yang akan terjadi.

Baca juga :  Ajaran Sufisme Jawa dalam Khazanah Mistik Islam Kejawen

Apa yang ia lakukan pada orang lain, ia serahkan sepenuhnya pada Tuhan. Ia tidak peduli apakah yang ia lakukan menyenangkan atau menyusahkan dirinya. Yang ia harapkan adalah kecintaan Tuhan padanya.

Prinsipnya “Terima Mawi Pasrah” sesungguhnya adalah manifestasi nyata dari konsep tawakal dalam Islam. Dan inilah derajat tertinggi seorang Muslim.

Itulah sedikit falsafah kejawen yang Sosrokartono lakukan. Ia mengamalkan prinsip-prinsip tersebut dalam rangka menjalani laku spiritual tingkat tinggi. Ia memang bukan Agamawan. Ia justru seorang intelektual dunia dan ilmuan yang brilian.

Akan tetapi nilai-nilai kearifan lokal warisan bangsanya selalu ia pegang hingga akhir hayat. Di antara banyak orang yang justru kehilangan jati dirinya, Sosrokartono malah memegang teguh identitas aslinya sebagai orang Jawa.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.