Strategi Dekonstruksi Pemikiran Radikal Tokoh Eks Radikalis dan Eks Teroris

Lebih dari sepuluh tahun terakhir, fenomena radikalisme dan terorisme di Indonesia semakin menguat. Sejumlah kejadian terror terjadi dan merugikan banyak pihak, baik dari kalangan umat beragama maupun dari kalangan sipil dan pelaku ekonomi. Merespons kuatnya gerakan kelompok radikal dan aksi teror yang terus meresahkan masyarakat, Negara melalui BNPT bersinergi dengan sejumlah kementerian untuk melakukan berbagai upaya pencegahan, perlindungan, dan deradikalisasi.

BNPT menggunakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan keras (hard approach) dengan mengawasi dan menangkap langsung para pelaku aksi teror, dan pendekatan lunak (soft approach) pada para mantan narapidana terorisme dan keluarganya.

Pendekatan lunak ini diyakini mampu mencegah dan menanggulangi terorisme di Indonesia, khususnya pada para mantan teroris sehingga tidak lagi melakukan tindakan ekstrem yang sama. Selain BNPT sebagai kepanjangan tangan pemerintah, masyarakat pun turut berpartisipasi dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme di Indonesia.

Terdapat sejumlah lembaga non pemerintah yang secara intens mendampingi para mantan teroris agar tetap konsisten dalam kesadaran yang telah diperolehnya. Penelitian tentang gerakan radikal telah banyak dikaji dan diteliti, misalnya Sugiarto (2015) telah mengkaji profil keagamaan napiter dan A’la (2009) mengelaborasi konsep dan pemikiran para kelompok radikal.

Metode Penelitian

Penelitian Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini merupakan penelitian kebijakan dengan pendekatan kualitatif. Karena menggunakan tipe penelitian studi kasus, maka dipilihkan 4 kasus utama yang spesifik dan unik, yaitu 4 tokoh eks radikalis dan eks teroris dari 4 wilayah, yaitu 1) Abdurrahman Ayyub, tinggal di Kota Tangerang Selatan dengan kelompok dampingan narapidana terorisme yang masih ada di penjara, 2) Ali Fauzi, mengembangkan pesantren di Lamongan sebagai basis deradikalisasi pada eks narapidana terorisme, 3) Zainal Muttaqien, tinggal di Sukabumi dengan kelompok dampingan eks narapidana teroris berbasis komunitas, serta 4) Khairul Ghazali, mengembangkan pesantren di Deli Serdang Sumatera dengan kelompok dampingan anak-anak para narapidana terorisme.

Baca juga :  Nasionalisme dan Islam di Indonesia: Belajar dari Bakri Syahid dalam Tafsir Al-Huda

Pengambilan data dilakukan dengan tiga metode, yaitu 1) wawancara mendalam pada tokoh utama, pejabat pemerintah, pendamping, binaan, dan jamaah; 2) observasi yang dikonsentrasikan di lokasi riset, baik pesantren, yayasan, maupun komunitas; serta 3) penelusuran dokumen, seperti hasil-hasil penelitian terkait, rekaman ceramah informan utama, buku karya informan utama, video dalam youtube, serta pemberitaan di berbagai media massa.

Dengan menggunakan teori dekonstruksi, indoktrinasi, individual disengagement, dan gerakan sosial, data penelitian ini dianalisis dan dikaji. Analisis data juga menggunakan metode reflektif analysis sehingga lebih menguatkan gambaran refleksi diri dari pengalaman para tokoh deradikalisasi ini.

Temuan Penelitian

Keterlibatan dalam Gerakan Teroris, dan Tumbuhnya Kesadaran Para Radikalis Keterlibatan empat tokoh mantan radikalis dan teroris dalam studi kasus ini terjadi dalam alur yang hampir sama. Latar belakang keempat tokoh ini bukanlah dari jebolan pesantren, tetapi dari pendidikan umum dengan varian tingkat pendidikan yang berbeda. Awal mulai terlibat terjadi di masa pendidikan yang berbeda-beda, yaitu ketika masih berstatus siswa SMK, mahasiswa fakultas ekonomi, dan siswa yang terpaksa putus sekolah di tingkat SMP.

Keterlibatan dalam jaringan radikalis diawali dengan rasa tidak puas atas pelajaran agama di sekolah, kajian marxis yang mengkritisi relasi kuasa, serta pemikiran radikal yang diperoleh dari orang tua. Keempat tokoh ini mengawali pemahaman tentang Islam radikal dari kajian di luar sekolah dan pesantren. Melalui kajian agama, pengajian rutin, liqa’, dan kursus dakwah, mereka mulai terpengaruh pemikiran radikal hingga terus menguat melalui berbagai kegiatan dalam jaringan tersebut.

Baca juga :  Kajian Tematik Naskah Keagamaan Nusantara

Setelah berbaiat bergabung dalam NII, para tokoh ini mengikuti serangkaian kajian mendalam dan kegiatan militer, baik di Gunung Janto Aceh maupun sekolah militer di Afganistan. Tidak hanya sebagai partisipan, keempat tokoh ini menduduki jabatan penting dalam jaringan radikal, di antaranya sebagai konsultan JI, pimpinan Mantiqah 4 wilayah Australia, koordinator persenjataan, koordinator rekrutmen calon anggota ISIS maupun instruktur pelatihan perang di Janto Aceh Darussalam.

Empat tokoh penting ini berada dalam satu jaringan yang sama. Mereka hampir sama berada di generasi kedua setelah generasi guru mereka, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Di antara mereka juga pernah belajar dan bersama-sama dengan Imam Samudra dan Gaos Taufik dalam berbagai gerakan yang dilakukan.

Strategi Deradikalisasi Yang Dikembangkan

Sejatinya, empat tokoh ini tidak memiliki desain khusus dalam melakukan deradikalisasi. Mereka mengembangkan strategi dan pendekatan secara spontan mengikuti kebutuhan dan kepentingan yang ada. Desain deradikalisasi dilakukan sebagai bagian dari panggilan jiwa, dilakukan tanpa pamrih, serta diterapkan secara berbeda- beda. Sebagian tokoh menggunakan cara sebagaimana pengalaman saat dirinya direkrut oleh jaringan gerakan radikalisme, baik saat kuliah atau sekolah. Cara yang sama tampak digunakan sebagai metode para tokoh dalam mendapatkan kelompok dampingan deradikalisasi.

Terdapat dua pendekatan utama dalam melakukan deradikalisasi, yaitu pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung. Pada pendekatan langsung, dilakukan dengan 4 strategi, yaitu pertama, metode refleksi dan testimoni diri. Strategi ini digunakan para tokoh dengan menjadikan contoh pengalaman dirinya sebagai contoh kongkrit bagaimana proses radikalisme dan atau terorisme terjadi pada dirinya.

Baca juga :  Respons dan Kesiapan Pesantren Menghadapi Ancaman Covid-19 di Era New Normal

Selanjutnya, refleksi atas pengalaman pribadi tersebut disampaikan dalam berbagai kesempatan dengan harapan dapat menggugah kesadaran orang lain, baik bagi yang masih dalam tahap terpapar maupun sudah menjadi pelaku aktif. Kedua, strategi dialog personal.

Strategi ini dilakukan dengan dua metode, yaitu dialog interaktif dan dialog kultural/informal. Ketiga, strategi dialog kolektif dilakukan dengan metode pengajian, ceramah umum, dan diskusi kelompok kecil dengan tema-tema yang
terfokus. Keempat, strategi pendampingan dan keterbukaan akses pendidikan dan ekonomi dengan metode refleksi kritis pengalaman & sejarah, dialogis intensif, sekolah alernatif (green school), trauma healing, psikososial, dan life skill untuk penguatan ekonomi.

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.