Sungai, Tumbuhan, dan Peradaban Kapsul

Iman digoda sungai dan tetumbuhan. Balasan kepada orang beriman paling sering digaungkan hanya berurusan lendir. Ada lusinan bidadari di surga yang siap memuaskan Anda jika Anda termasuk orang-orang terpilih. Kita jarang ingat, sungai dan tetumbuhan juga jadi balasan orang-orang bajik.

Di Al-Quran, misalnya, tertulis, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa bagi mereka tersedia taman-taman surga, di dalamnya mengalir sungai setiap waktu mereka mendapat karunia berupa buah-buahan,” (Al-Baqarah, 25, tafsir Yusuf Ali, 2009). Di surga, manusia termuliakan sebab sungai dan tetumbuhan mendapat tempat terhormat.

Konon, pada dahulu kala, malaikat bertanya kepada Tuhan buat apa manusia diciptakan. Pertanyaan itu terlontar di halaman surga, tempat yang terbayangkan penuh kerindangan tetumbuhan dan sungai-sungai. Angin barangkali ada di sana dan membuat tetumbuhan bergoyang dan berbunyi gemerisik.

Malaikat pikir manusia hanya akan berbuat kerusakan di muka bumi. Jika malaikat mengetahui, mereka juga akan bertanya mengenai tetumbuhan. Di surga, tumbuhan mungkin memang bikin teduh, tetapi di bumi, tetumbuhan malah bikin gaduh.

Tanaman sering jadi petaka. Untuk menyebut satu contoh, sampai akhir abad XX, Suriah adalah negeri aman pangan. Mereka adalah pendar cerah di daratan gersang yang labil. Urusan perut, negara Suriah tak perlu bergantung pada impor. Mereka berdikari.

Sayangnya, akibat bencana alam pada 2007 dan 2011, negara ini hancur. Kekeringan melanda, biaya produksi naik, panen sedikit, dan liberalisasi pasar menyebabkan warga perdesaan menganggur. Protes bergaung dan berujung pada perang.

Untuk membungkam pemberontak, pemerintah mengebom antrean panjang toko roti yang mestinya memberi makan 45.000 orang. Daniele Donati, wakil direktur Divisi Keadaan Darurat dan Rehabilitasi dari Organisasi Makanan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa, berpendapat, mengatasi masalah pertanian tak cuma perkara mengisi perut, ini jalan menuju perdamaian. Sebab, “sejak awal konflik, biji-bijian, gandum dan roti telah menjadi pusat dari masalah” (Vice.com, 13 September 2016).

Kini kita makin mahfum, pemberian Nobel Perdamaian 2020 memang layak diberikan kepada Progam Pangan Dunia (WFP). “Makanan adalah vaksin terbaik untuk melawan kekacauan,” kata Reiss-Andersen, Ketua Komite Nobel (Kompas, 10 Oktober 2020).

Di medan tempur, makanan memang jadi paradoks. Sebab, tumbuhan sering hadir pula di tiap-tiap alutsista. Di pucuk senjata itulah kita melihat hasrat manusia menguasai alam. Mungkin itu sebabnya Tuhan menyuruh hambanya menghindari kenyang.

Baca juga :  Menggali Khazanah Manusia dalam Balutan Musim (1)

Sitor Situmorang, dalam puisi Bukan karena nasi saja (2016), meneruskan kata-kata Tuhan ke puisinya: Hidup ini bukan karena nasi saja/ Kebenaran ajaran Kristus, sehari-hari/ Sering terlupa, sampai tiba saatnya/ Orang kenyang dan sehat, tapi jiwanya mati.

Tumbuh-tumbuhan itu, yang membuat rindang surga, ketika di bumi malah bikin jiwa mati. Di larik-larik puisi Sitor, kita melihat peperangan dalam bayang-bayang tumbuhan. Padi yang sedap dipandang dan kelak jadi nasi yang lezat disantap itu memang bakal mematikan jiwa, jika ia diairi gumpal darah, bukannya air sungai.

Di kitab suci, kita mengerti tanaman mendapat tempat terhormat melalui sungai. Dari sungailah tumbuhan memasok “makanan”. Namun di bumi, sungai melayani semua makhluk, tak cuma tetumbuhan. Menjadikan sungai, bukan hanya berdua, melainkan “sepiring bersama” makhluk-makhluk lain.

Tumbuhan tak punya tangan dan kaki, dan itu bikin pembagian jadi tak adil. Di “piring” itu, manusia lupa “tangan-tangan” lain. Apesnya, manusia ke sungai tak cuma membawa gelas (dan gelasnya besar banget!), mereka juga membawa hasrat yang mesti disemburkan lewat saluran di sela-sela selangkangan dan menggotong timbunan limbah. Sungai jadi dispenser sekaligus tempat sampah raksasa.

Ketidakhormatan pada sungai semacam itu berarti penistaan pada kehidupan. Sebab peradaban berputar dengan sungai sebagai porosnya. Pada suatu masa di tahun 4500-4000 SM, suku bangsa petani hidup di bagian hilir daerah bernama Mesopotamia, yang punya arti “tanah di antara sungai-sungai”.

Daerah itu diapit sungai Tigris dan sungai Eufrat. Kemudian berbondong-bondong suku lain menyusul menetap di sana, bercocok tanam di tanah yang subur, dan saling berbaur. Mereka belajar membangun sistem irigasi ke tanah yang jauh dari sungai, menjadikannya desa-desa dan kota-kota. Sungai juga menghubungkan satu daerah ke daerah lain. Di atasnya, kapal-kapal berlayar membawa barang dagangan, di atasnya air mengalir bakal terlahap tanaman. Sungai dan tanaman mendapat tempat penting dan mulia (James C. Davis, 2018).

Kesadaran pembagian “jatah sungai” makin kesini makin pudar. Sungai seolah jadi milik pribadi umat manusia. Padahal dahulu, kata Iman Budhi Santosa (2017), “anak-anak dilarang kencing di sungai dan parit, karena sungai juga rumah bagi ikan, cacing, ketam, anggang-anggang, lumut, yang hidupnya bisa terganggu oleh air kencing itu. Air sungai atau parit juga dibutuhkan tumbuhan serta manusia di hilir, yang artinya air tersebut adalah milik bersama banyak makhluk.”

Baca juga :  Kisah Pak Raden dan Sosok Sang Pencerita

Sungai dihormati karena ia memberi makan tetumbuhan, sang sumber segala gerak di muka bumi. Dengan keberadaan teknologi yang dapat menampung air, kita tetap takkan bisa menjadikan sungai sebagai peninggalan sejarah belaka.

Membawa sungai ke halaman belakang peradaban berarti membawa tiap-tiap hal yang bergantung pada alirnya juga ke gudang. Tanaman jadi korban pertama. Dan kita sepertinya memang sedang mengarah ke sana.

Di hadapan lidah manusia, kini tumbuhan tak jarang seumpama obat belaka. Mereka cuma dihadirkan berkat memiliki khasiat yang diperlukan manusia.

Pada 1941 buku karangan J.J Ochse terbit ulang, kali ini berbahasa Melayu, setelah dulu sempat terbit dalam bahasa Belanda. Buku diterjemahkan Nur Sutan Iskandar berjudul Sajoer-Sajoeran Negeri Kita, memuat informasi mengenai sayur-mayur dan penamaannya dalam bahasa Latin, Sunda, Jawa, dan Madura. Cetakan terbaru juga memuat “pendahoeloean” dari Dr. S. Postmus, Directeur Instituut voor Volksvoeding.

Pada kalimat pertama pada “pendahoeloean”, pamrih terhadap sayur sudah terlihat. “Sajoer-sajoeran masoek bilangan barang makanan jang penting sekali,” tulis Dr. S. Postmus. Tanpa makan sayur, tubuh bakal jadi sarang mudarat.

Waktu itu, di Jawa Barat, gara-gara tak rajin makan sayur, anak-anak terjangkit buta malam. Bocah-bocah itu perlu membaca buku Sajoer-Sajoeran Negeri Kita. Memilah sayur-mayur yang baik buat mata. Salah satunya ubi jalar.

Keterangan ubi jalar berada di halaman 48-51. Mata harus awas! Jangan sampai kelewatan ke halaman 82-86. Di halaman itu terdapat umbi-umbian pula, tapi itu gadung (Dioscorea hispida). Memakan secara serampangan tumbuhan ini dapat mengancam tubuh. “Oembi gadoeng jang mentah memaboekkan, bahkan kadang-kadang orang mungkin mati karena ratjoen jang ada di dalamnja.” Bukannya jadi awas, salah-salah, mata malah jadi merem terus.

Kita mengingat novel Kura-Kura Berjanggut (2018). Novel setebal 960 itu di dalamnya juga ditanami gadung. Setelah para bangsawan dan kongsi dagang Ikan Pari Itam dibantai persekutuan bandit, pekerja, dan orang hamba, Istana Darud Dunya berada di masa sulit. Darud Dunya dikucilkan para pedangang, padahal selama berabad-abad mereka mengandalkan perniagaan samudra. Bahan pangan langka.

Serdadu istana jadi berbuat semena-mena. Mereka menjarah bahan pangan milik orang hamba. Akhirnya orang hamba menanam gadung. Itu cara terakhir mereka bertahan hidup. Para serdadu tak mau ambil risiko, mereka memilih menahan lapar ketimbang mati konyol. Sedangkan orang hamba memilih mati konyol ketimbang kelaparan. Memakan gadung butuh keberanian.

Baca juga :  Ini Budaya dan Metode Masyarakat Maroko dalam Menghafal Alquran

Malaikat Maut tak nangkring di ubi jalar (Ipomoea batatas), yang nangkring di sana adalah vitamin A dan itu bagus buat mata. Menurut Dr. S. Postmus, sayur sering diabaikan karena tak enak rasanya, padahal manfaatnya banyak.

Di buku, J.J Ochse memberi panduan cara menyantap sayur-mayur, termasuk ubi jalar. “Oembi jang moeda agak manis rasanja, dan dipergoenakan oentoek berbagai-bagai makanan. Oembi boleh diboeat kolak, keripik atau roedjak, atau disembam atau direboes.”

Panduan bersantap ubi masih mulia. Ubi menjadi pengalaman ketubuhan. Mata melihat anatomi, tangan merasakan tekstur, dan lidah mencecap rasanya.

Kini kita mendapati ‘ubi’ disantap dengan cara lebih praktis. ‘Ubi modern’ mudah dikupas. Penyantap tinggal membuka tutup botol atau menyobek plastik pembungkus. ‘Ubi’ tak cuma dijajakan di pasar tradisional, tapi juga di toko dan apotek ber-AC dan berlantai. Oh, ‘ubi’ berbentuk kapsul!

Kapsul-kapsul berisi vitamin yang diambil dari tetumbuhan. Alih-alih repot menyantap ubi, wortel, brokoli, dll, untuk mendapat vitamin A, kita cuma perlu menelan kapsul saja. Efisien. Pilihan warna kapsul berwarna-warni, membuat mata mudah terpincut. Pilihan kapsul vitamin juga beragam. Kita mudah menjumpai kapsul berisi vitamin C, E, B1, dll. Kapsul tertelan, badan jadi bugar.

Menelan kapsul asal dosis tepat tak menyebabkan keracunan seperti gadung. Kapsul juga tak terlalu membikin perut kenyang seperti ubi jalar. Beberapa produk kapsul juga berhati mulia. Mereka memberi gambar sayur-mayur di bungkus produk mereka, walaupun dalam ukuran mini. Kita menyantap kapsul sambil memandangi gambar sayur-mayur.

Berharap sambil menelan kapsul kita mengingat tekstur, aroma, dan rasa dari tetumbuhan. Ingatan juga diharapkan sampai ke pohon, tanah, matahari, dan sungai yang memasok bahan pangan. Kelak, ketika kita mulai bosan memakan kapsul yang praktis, efisien, dan penuh vitamin itu, mungkin akan ada seseorang yang mengajari kita cara membuat  kolak kapsul atau keripik kapsul.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *