Surat at Tiin: Perihal Musa As, Isa As, dan Muhammad saw.

Membincang perihal Q.S at Tiin, sudah dipastikan pikiran kita akan tertuju pada dua nama buah yang disimbolkan dalam surat tersebut; yaitu buah tin dan buah zaitun.

Dua nama buah yang disebut Alquran ini rupa-rupanya memiliki banyak sekali kandungan nutrisi dan gizi yang sangat berkhasiat dalam mengobati berbagai jenis penyakit.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang khasiat dari buat tin maupun zaitun; akan tetapi kali ini akan membahas tentang penafsiran dari Q.S at Tiin 1-3.

Dalam Surat ini ada hal yang menarik untuk dikaji. Kira-kira sisi yang manakah yang menarik? Mari kita kaji bersama-sama.

Kali ini kita akan mengkajinya dengan menggunakan kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuti. Sekaligus kita akan mengkajinya menggunakan buku Atlas Al Quran karya Syauqi Abu Khalil.

Ayat pertama Q.S at Tiin berbunyi:  وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ “Demi buah tin dan buah zaitun.”

Dalam kitab Tafsir Jalalain ayat pertama ini, pengarangnya memberikan penafsiran sebagai berikut:

أي المأكولين او جبلين بالشام ينبتان المأكولين

Yang artinya: “dua makanan (buah tin dan zaitun) atau dua gunung yang terletak di negeri Syam yang ditumbuhi dua makanan (buah tin dan zaitun”.

Sementara itu dalam buku Atlas Al Quran, ayat ini merujuk pada negeri Syam secara umum dan Baitul Maqdis secara khusus. Tempat dimana buah tin dan zaitun tumbuh. Seakan-akan Allah SWT bersumpah atas nama risalah yang diturunkan kepada Nabi Isa Al Masih putra Maryam AS.

Baca juga :  Menjaga Kehidupan; Isyarat Kemerdekaan dalam Alquran

Selanjutnya pada ayat kedua Q.S at Tiin Allah SWT berfirman:   وَطُورِ سِينِينَ  “Demi bukit Sinai.”

Ayat kedua surat at Tiin ini dalam kitab Tafsir Jalalain ditafsiri sebagai berikut:

الجبل الذي كلم الله تعالى عليه موسى ومعنى سينين المبارك أو الحسن بالأشجار المثمرة

Yang artinya: “(Dan demi bukit Sinai) nama sebuah bukit tempat sewaktu Allah swt. berfirman kepada Nabi Musa. Arti lafal Siiniina ialah yang diberkahi atau yang baik karena memiliki banyak pohon yang menghasilkan buah”.

Sementara dalam Atlas Al Quran, Bukit Sinai terdapat di Sinai. Seakan-akan Allah SWT bersumpah atas nama risalah yang diturunkan kepada Nabi Musa As di Bukit Sinai. Kata Siniin didalam ayat ini berarti yang diberkahi.

Berlanjut pada ayat ketiga  وَهَٰذَا ٱلْبَلَدِ ٱلْأَمِينِ  “Dan demi kota (Mekah) ini yang aman”

Ayat ketiga surat At-Tiin ini dalam kitab Tafsir Jalalain ditafsiri sebagai berikut:

مكة لأمن الناس فيها جاهلية وإسلام

Artinya: “(Dan demi kota ini yang aman) yaitu kota Mekah, dinamakan kota amankarena orang-orang yang tinggal di dalamnya merasa aman, baik pada zaman jahiliah maupun di zaman Islam”

Dalam buku Atlas Al Quran ayat ketiga ini merujuk pada kota Mekah Al mukarromah, tempat dimana risalah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam kajian semiologi –semiotika bahasa, bahasa merupakan tanda yang memiliki arti.

Jika Al Quran yang berbahasa Arab ini kita analisis menggunakan semiotika bahasa; maka apa yang dijelaskan kitab tafsir Jalalin dan buku Atlas Al Quran karya Syauqi Abu Khalil, menandakan bahwa dalam Q.S at Tiin ayat 1-3 Allah SWT bersumpah atas tiga risalah yang diturunkan kepada Nabi Musa As, Isa As, dan Muhammad Saw.

Jika begitu maka surat ini tidak mengandung hanya persoalan buah tin, zaitun, bukit sinai, dan negeri yang aman saja; melainkan ayat ini mengandung ruhul ukhuwah (semangat persaudaraan) diantara para nabi.

Baca juga :  Mufassir yang Menghindari Huruf Bertitik

Jadi pada dasarnya risalah yang diterima oleh para nabi adalah sama, hanya saja kemudian syariatnya yang berbeda-beda.

Wallahu A’lam


Sumber:
– Tafsir Jalalain karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuti
– Atlas Al Quran karya Syauqi Abu Khalil, Syauqi Abu Khalil. 2006.

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *