Syarat Menjadi Kiai Menurut Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

IQRA.ID, Jakarta – Cendekiawan muslim Ulil Abshar Abdalla mengisahkan pengalamannya saat diundang memberikan ceramah secara online di masjid An-Nur di Kebayoran, Jakarta. Sebab memberikan ceramah, dirinya saat itu disebut sebagai “kiai”. Ia berpikir, mungkin karena sebagian jamaah pengajian ewoh (sungkan) kalau tidak menyebut seorang penceramah dengan sebutan ini.

“Ada perasaan ‘merinding’ dalam diri saya ketika menerima panggilan seperti ini. Kepada jamaah, saya tekankan bahwa saya ini bukan kiai, dan belum memenuhi syarat sebagai kiai,” ungkap founder dan pengasuh Ngaji Ihya’ itu melalui akun Facebook pribadinya, Ahad (9/8/2020).

Pria yang akrab disapa Gus Ulil itu menerangkan selama ini memang ngaji Ihya’ yang ditulis dalam bahasa Arab itu. Tetapi, seseorang yang mampu membaca kitab berbahasa Arab tidak langsung membuat seseorang layak disebut “kiai”.

“Menjadi ‘kiai’ mensyaratkan banyak hal, bukan sekadar bisa membaca kitab berbahasa Arab saja.  Hingga sekarang ini, saya masih merinding dan ketakutan jika ada yang menyebut saya ‘kiai’. Saya jelas masih jauh dari maqam kekiaian, baik dari segi ilmu, amalan, maupun (apalagi) ‘ahwal’ atau pengalaman-pengalaman rohaniah,” terangnya.

“Jika selama ini saya membaca kitab Ihya’, itu tidak secara otomatis membuat saya layak menjadi kiai. Sama sekali tidak,” tambah Gus Ulil yang baru saja merilis buku terbarunya yang berjudul Sains Religius, Agama Saintifik, yang ditulis bersama Haidar Bagir.

Baca juga :  KH Ulil Abshar Abdalla: Manusia, Sejarah, dan Akidah Asy'ariyyah
Syarat Menjadi Kiai

Ulil Abshar menceritakan bahwa dirinya membuka pengajian kitab Ihya’ sebab ada dua alasan yang menurutnya sederhana. Pertama, ia ingin menyebarkan informasi atau ilmu tentang kekayaan peradaban rohaniah dalam Islam seperti tercermin dalam kitab-kitab al-Ghazali. Ia juga merasa belum mampu mengamalkan isi kitab Ihya’ secara konsisten.

Kedua, ya karena kebetulan saja saya bisa bahasa Arab, gara-gara pernah belajar kitab di pondok dulu,” lanjutnya.

Dari segi syarat-syarat kekiaian, Ulil menilai dirinya jelas belum layak menjadi atau disebut kiai. Baginya, orang-orang yang benar-benar layak disebut kiai, yakni seperti gurunya sendiri almarhum KH Sahal Mahfudz.

“Inilah sosok yang benar-benar layak disebut kiai. Dari segi ilmu, amalan, dan ahwal, Kiai Sahal mumpuni semuanya. Contoh kiai-kiai lain bertebaran di seluruh penjuru Nusantara. Mereka ini, dengan gaya dan caranya masing-masing, menunjukkan kualitas kekiaian yang mumpuni,” ujarnya.

Ulil menambahkan salah satu syarat kekiaian yang amat berat, selain aspek keilmuan, adalah istiqamah dalam amalan, baik amalan ubudiyyah, maupun amalan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat tanpa pamrih apapun.

“Kata kuncinya adalah istiqamah, konsistensi, bukan tindakan yang angot-angotan, dang-thek,” kata Ulil.

Baca juga :  Istighfar ala Sari al-Saqthi

Syarat-syarat ini, lanjut Ulil, masih belum bisa diraihnya. Oleh karena itu dirinya mengakui secara jujur saja, bahwa ia belum layak disebut kiai.

“Kalaupun saya selama ini disebut kiai, itu saya anggap sebagai ismun bila musamma, sekedar sebutan saja, tanpa isi,” tutup Gus Ulil. (MZN)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *