Syekh Nawawi al-Bantani, Sayyidul Hijaz dari Tanah Nusantara

Dalam sejarah peradaban Islam, ulama-ulama besar dunia Islam tidak hanya berasal dari dunia Arab saja. Tetapi banyak juga ulama besar Islam yang berasal dari luar dunia Arab, diantaranya adalah dari bumi Nusantara. Salah satu ulama besar Islam yang berasal dari bumi Nusantara adalah Syekh Nawawi Al-Bantani.

Syekh Nawawi Al-Bantani adalah ulama yang lahir dari kampung Tanara, sebuah desa kecil yang ada di kabupaten Serang, Banten pada tahun 1815 M atau 1230 H. Silsilah beliau sampe kepada Rasulullah saw, melalui jalur Sunan Gunung Jati, dari Husein binti Sayyidah Fatimah.

Ketika berumur 15 tahun, Syekh Nawawi sudah meninggalkan kampung halamannya untuk berhaji dan menuntut ilmu di Haromain (Mekkah Madinah). Selama di Haromain, Syekh Nawawi Al-Bantani berguru kepada ulama besar Haromain, dan juga kepada beberapa ulama dari Nusantara yang sudah menjadi ulama besar disana, seperti Syekh Ahmad Khatib Asy-Syambas, Syekh Abdush Shomad Al-Falimbani, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dan lain sebagainya.

Nama Syekh Nawawi Al-Bantani mulai terkenal, ketika beliau mulai menetap di Syi’ib A’li Mekkah, dan membuka halaqoh pengajian di rumahnya. Murid beliau pada awalnya hanya berjumlah puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya semakin banyak. Bahkan yang mengikuti pengajian Syekh Nawawi datang dari berbagai penjuru dunia. Dimana saat itu, Haromain merupakan pusat kajian keilmuan Islam.

Syekh Nawawi dikenal sebagai sosok ulama yang piawai dalam khazanah Islam, khususnya dalam bidang tauhid, fikih, hadis, tafsir, dan tasawuf. Nama Syekh Nawawi semakin terkenal, ketika beliau ditunjuk untuk menggatikan Syekh Ahmad Khatib Asy-Syambas untuk menjadi Imam Masjidil Haram.

Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu diantara para ulama Nusantara yang mempunyai kiprah besar dalam  sejarah khazanah keilmuan Islam, beliau mempunyai banyak murid yang tersebar di berbagai dunia. Adapun murid-murid Syekh Nawawi yang berasal dari Indonesia adalah Syekh mahfudz at-tarmasi, syekh kholil bangkalan. Beliau juga merupakan ulama yang produktif dalam menulis, yang karyanya dalam berbagai disipilin keilmuan Islam mencapai 100 kitab lebih.

Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Umar Abdul Jabbar, dalam kitabnya Al-Durus Min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirin bi al-Masjidil Haram. Beliau mengatakan bahwa Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan ulama yang sangat produktif dalam menulis, hingga karyanya mencapi 100 lebih. Selain itu beliau juga mempunyai peran besar dalam khazah keilmuan Islam di Haromain pada waktu itu. Sehingga beliau dianggap sebagai sang penjaga Haromain dan Hijaz.

Selain mempunyai peran besar di Haromain, Syekh Nawawi juga mempunyai peran besar di tanah kelahirannya. Sehingga beliau dijuluki sebagai pelopor pertama intelektualisme Islam di Nusantara. Dan tidak hanya disitu, Syekh Nawawi juga mempunyai sederet gelar lainnya. Misalnya Sang Penjaga Hijaz (Sayyidul Hijaz), Nawawi Tsani, Al-Imam wa al-Fahm al-Mudaaqiq (tokoh dengan pemahaman yang sangat dalam), Tokoh Ulama abad 14 Hijriyah, Imam Ulama dua kota suci, bapak kitab kuning Indonesia.

Diantara karya beliau yang terkenal adalah Tafsir al-Munir, Tafsir Mar’ah Labib, Nashohihul Ibad, Maraqiyul Ubudiyah, Qami’ al-Tuhgyan, Sulam Munajah, Kasyifatus Saja, dan kitab-kitab lainnya yang berjumlah 100 lebih. Dan kebanyakan kitab karya Syekh Nawawi Al-Bantani, dikaji hampir di semua pesantren yang ada di Indonesia.

Syekh Nawawi Al-Bantani wafat pada tahun 1897 M, saat berumur 84 tahun. Dengan meninggalkan warisan intelektual diberbagai disiplin keilmuan Islam.

Baca juga :  10 Nilai Kesalehan Anjing Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: English

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *