Tadarus Spiritual Pasca Ramadhan

Di bulan ramadhan semuanya nampak religius, kita bisa menyaksikan ramadhan benar-benar berhasil merubah perilaku umat Islam dalam sekejap meskipun mungkin hanya musiman. Betapa tidak, orang yang semula malas shalat lima waktu, akhirnya menjadi rajin.

Mereka yang jarang kelihatan di masjid, kembali sadar melaksanakan shalat berjamaah bahkan hadir lebih awal daripada muadzin. Orang yang sesekali baca Al-Qur’an, akhirnya bisa mengkhatamkan Al-Qur’an. Dan masih banyak lagi kegiatan religi yang dilakukan secara dadakan.

Menariknya, semua aktivitas tersebut dilakukan tanpa ada paksaan atau pengawasan orang tertentu. Semua dilakukan semata-mata karena dorongan keimanan atau sekedar ikut-ikutan meramaikan fastabiqul khairaat (fenomena ini yang terjadi secara umum).

Banyak cara dilakukan demi meraih keberkahan dan pahala sebanyak-banyaknya di bulan suci Ramadhan. Kita telah berusaha semampunya melakukan pengendalian diri dari beberapa hal pokok yang esensial bagi kehidupan selama Ramadhan dalam rangka “tadarus spiritual”, yaitu menahan diri dari lapar dan dahaga, menahan diri dari dorongan kebutuhan biologis di siang hari, serta menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak kualitas ibadah puasa kita melalui panca indra.

Di samping itu, selain menahan hawa nafsu, kita pun berusaha keras mendekatkan diri kepada Allah dengan menyibukkan diri dalam berbagai ibadah ritual maupun ibadah sosial, dengan kata lain kita berusaha meningkatkan puasa kita dari puasa “Badani/awam” ke level puasa “Nafsani/khusus”.

Baca juga :  Bahaya Mendoakan Buruk kepada Orang Menzalimi Kita

Puasa dipercaya dapat menertibkan keinginan-keinginan yang dapat merusak hati dan perilaku.  Sebagaimana yang diterangkan oleh Imam al Ghazali bahwa hikmah puasa yang paling dalam adalah dekatnya sifat manusia dengan sifat Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang

Orang yang telah dapat mencapai hikmah ini, maka keharmonisan dalam diri dan hubungan dengan masyarakat akan selalu terbina. Karena manfaat puasa yang sebenarnya adalah melemahkan tenaga yang biasanya digunakan untuk mengajak kita ke arah kejahatan. Dan tujuan puasa adalah menaklukkan hawa nafsu dan meningkatkan kemauan untuk berbuat baik.

Puasa sejatinya merupakan “kurikulum lama” yang diperintahkan Tuhan kepada seluruh manusia untuk kembali meningkatkan kualitas rohani. Hal ini kita dilaksanakan pada  bulan suci bernama Ramadhan sebagai madrasah induknya.

Indikator yang harus dicapai adalah “taqwa sepanjang hayat”. Dengan kata lain setelah Ramadhan kita harus menjadi manusia “rabbaniyyin”, yaitu pribadi yang saleh ritual dan saleh sosial tanpa batas. Tentu bukan hanya menjadi manusia “ramadhaniyyin” dalam arti kesalehan musiman.

Proses menggembleng kemampuan spritual ini biasanya berlangsung begitu semangat selama bulan suci. Namun muncul pertanyaan, bagaimana setelah Ramadhan? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan suci itu akan pudar setelah puasa berakhir? Apakah kita sudah siap menyandang gelar taqwa dan menjalankan tugas selanjutnya sebagaimana indikator yang telah ditetapkan oleh Allah setelah melalui pendidikan dan pelatihan sebulan penuh?

Baca juga :  Kisah Cinta Jalaluddin Rumi dan Setangkai Bunga untuk Kara Khatoon

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu perenungan yang mendalam dan usaha keras untuk mewujudkan “kontinuitas” amal Islami kita. Namun, pada kenyataannya sering muncul kesenjangan amal Islami kita dalam praktik kehidupan sosial.

Kita seringkali gagal mempertahankan makna Ramadhan. Kita hanya mampu menjaga diri selama bulan puasa, bahkan terkadang di bulan puasa pun kita kecolongan. Kesalehan hanya muncul setahun sekali. Hal ini lebih mirip dengan “kesalehan musiman” atau “taqwa jangka pendek”.

Kita berharap setelah keluar dari bulan Ramadhan kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Selain itu, bertambah baik pula di bulan-bulan yang akan datang demi mewujudkan misi utama Nabi Muhammad SAW yaitu menyempurnakan akhlak mulia agar manusia tahu cara memanusiakan dirinya dan orang lain.

Sekuat apapun seseorang menjalankan ritual agama dan sehebat apapun pengetahuan yang dimilikinya tetapi jika akhlaknya bermasalah, maka dia bisa menjadi masalah bagi orang lain.

Walhasil, saleh pasca Ramadhan bukanlah hal fiktif, sebab kita baru saja meninggalkan “terminal ruhiy”, kita sudah men-charger diri kembali. Battery full dan power bank motivasi yang kita miliki ditargetkan bertahan untuk sebelas bulan berikutnya demi menjaga ketahanan amal kita dan menjaga “eksistensi Taqwa” di dalam diri kita masing-masing. Aamiin..!

Baca juga :  Mengamalkan Pancasila Adalah Puncak Spiritualitas Beragama di Indonesia
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *