Tafsir La Ilaaha Illallah Menurut Quraish Shihab

Tafsir La Ilaaha Illallah Menurut Quraish Shihab

Kalimat tahlil (la ilaaha illallah) adalah kalimat prinsip nan absolut dalam keyakinan umat Islam. Dengan mengucapkan kalimat tersebut dalam syahadat, seseorang dinilai sebagai Muslim dan itu memberinya jaminan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.

Kalimat ini menjadi bacaan inti dari rangkaian dzikir bersama dalam tradisi ‘tahlilan’ yang diselenggarakan mayoritas umat Muslim di Indonesia pada acara-acara tertentu. Di samping penting membacanya dengan dawam, penting pula memahami makna kalimat tahlil tersebut agar meneguhkan aqidah serta menambah penghayatan dalam menjalankan ajaran Islam.

Sebagaimana dalam ibadah salat, penghayatan akan sulit diperoleh apabila kita tidak memahami bacaan-bacaan yang ada di dalamnya.

Makna Laa ilaha illallah

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, pakar tafsir kenamaan Indonesia menjelaskan makna kalimat tersebut menggunakan pendekatan kebahasaan dalam sebuah unggahan audio visual di kanal Youtube resminya. Berikut ulasannya:

“Populer menurut para ulama dari dulu hingga sekarang bahwa makna la ilaaha illallah adalah tiada Tuhan (yang wajib disembah) selain allah. Apabila diterjemahkan secara harfiah, sebenarnya kalimat la ilaha illallah artinya tiada Tuhan selain Allah.

Akan tetapi, karena kenyataannya banyak Tuhan yang disembah oleh manusia, maka ulama perlu memberi tanda kurung untuk menjelaskan bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang wajib disembah. Jadi selain Allah tidak wajib disembah.”

Baca juga :  3 Prinsip Ekonomi dalam Al-Qur’an
Kata Allah dan Ilah

Abi Quraish, begitu sapaan akrab anak-anak beliau, lantas menjelaskan makna kata ‘Allah’ dalam kajian kebahasaan. Allah sendiri berasal dari kata ilah. Menurut para ulama, ilah berasal dari alihaya’lahu yang bermakna sesuatu yang disembah.

Namun, berdasarkan penelitian tidak sedikit ulama, kata ilah juga bermakna penguasa alam raya atau pengatur segala sesuatu. “Jika mengikuti makna ini, la ilaaha illallah berarti tiada penguasa atau pengatur alam raya kecuali Allah.”

Penulis Tafsir al-Misbah dan al-Lubab tersebut tampaknya cenderung memilih makna yang kedua karena lebih sesuai dengan prinsip kebahasaan.

“Menurut kaidah prinsip kebahasaan, sebuah ucapan atau kalimat yang maknanya dapat dipahami dengan lurus dan jelas tanpa dibubuhi penjelasan tambahan, lebih baik daripada kalimat yang maknanya harus dipahami dengan tambahan penjelasan.” Terangnya.

Memang, penerjemahan la ilaaha illallah dengan ‘tiada sesembahan selain Allah’ tidak sesuai dengan fakta bahwa ada Tuhan yang disembah selain Allah. Sehingga, perlu tambahan penjelasan bahwa yang dimaksud adalah tiada sesembahan yang wajib disembah selain Allah.

Jika memilih menerjemahkan dengan ‘tiada penguasa atau pengatur alam raya selain Allah’, maknanya sudah jelas tanpa membutuhkan tambahan penjelasan.

Baca juga :  Prof. Dr. M. Quraish Shihab Berdakwah di Perth Western Australia

Dua makna dari kata ilah di atas dapat dibandingkan untuk memahami firman Allah berikut:

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ … الأية

“Seandainya di langit dan di bumi ini ada Tuhan-Tuhan selain Allah, pastilah keduanya hancur…” (QS. Al-Anbiya: 22)

Merujuk pada penjelasan di atas, ayat tersebut bisa bermakna ‘seandainya di langit dan di bumi ada Tuhan (yang wajib disembah) selain Allah, pastilah keduanya hancur’. Bisa pula bermakna ‘seandainya di langit dan bumi ada penguasa atau pengatur alam raya selain Allah, pastilah keduanya hancur’.

Sama-Sama Mungkin Benar

Dua makna ini sama-sama mungkin benar. Hanya saja, makna pertama masih membutuhkan tambahan penjelasan, sedangkan makna kedua tidak membutuhkannya lantaran sudah jelas.

Dua makna la ilaaha illallah itu ternyata dapat memberikan kesan berbeda dalam jiwa. Menurut ayah Najwa Shihab tersebut, jika memilih makna ‘tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) selain Allah, itu akan mendorong untuk menyembah-Nya, tetapi kalau memilih ‘tidak ada yang berkuasa di alam raya kecuali Allah’, itu dapat menanamkan ketenangan dalam jiwa.

Itulah mengapa Rasulullah tetap tenang saat tersudut hendak dibunuh oleh musuhnya dan menyatakan bahwa Allahlah yang berkuasa atas segalanya. Keyakinan bahwa hanya Allah yang mengatur segalanya mendatangkan ketenangan dan membuat Rasulullah selamat dari ancaman pembunuhan musuh.

Baca juga :  Tafsir QS Al Ahzab Ayat 33; Benarkah Perempuan Dilarang Keluar Rumah?

Dengan demikian, apabila kita memahami secara mendalam kalimat tahlil sebagaimana di atas, selain memantapkan keyakinan bahwa hanya Allah yang wajib disembah, kita juga memperoleh ketenangan jiwa sehingga bisa selamat dalam mengarungi lika-liku kehidupan di dunia lebih-lebih memperoleh kebahagiaan di akhirat.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *