Tafsir Ma’anil Qur’an Ditulis Karena Permintaan Seorang Sahabat

Tafsir Ma’anil Quran ini ditulis oleh Abu Zakariya Yahya bin Ziyad bin Abdillah bin Mansur al-Dailami atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan al-Farra’. Menurut Abu Fadhl al-Falaki, sebutan al-Farra’ menunjukkan pada orang yang pandai dalam berbicara. Sedangkan menurut Ibn al-Anbari, sebutan al-Farra’ adalah penghargaan baginya karena kepandaiannya dalam mensintesis persoalan. Intinya, fakta sejarah telah membuktikan bahwa sebutan al-Farra’ merepresentasikan kualitas intelektual beliau, khususnya dalam bidang bahasa.

al-Farra’ merupakan tokoh dalam bidang sastra Arab yang lahir di Kufah pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Perjalanan intelektualnya di mulai dari kota kelahirannya sendiri. Kota Kufah merupakan salah satu kota pelajar yang mempunyai banyak cabang ilmu dan ulama yang mumpuni. Bahkan, pada abad kedua dan ketiga hijriyah, kota Kufah mencapai masa keemasan dalam bidang keilmuan filsafat, leksiografi, dan gramatika.

Di Kufah, al-Farra’ berlajar kepada beberapa ulama, seperti: Qois bin Rabi’, Mandal bin Ali, Abu Bakar bin Ayyas, Ali bin Hamzah al-Kissa’i, Sufyan bin Uyainah, serta Yunus bin Habib al Bisri. Selain tempat yang kondusif, al-Farra’ juga mempunyai daya hafal yang sangat kuat, sehingga sangat menunjang dalam pengembangan keilmuannya.

Keilmuan yang dimiliki al-Farra’ berkembang dengan pesat, ia kemudian menjadi salah satu tokoh besar Kufah setelah al-Kisa’i. Hal ini dapat dibuktikan oleh perkataan Sa’lab bahwa jika al-Farra’ tidak ada maka bahasa arab tidak dapat mempertahankan originalitasnya. Al-Farra’ telah meringkas dan menyelamatkannya. Jika tidak, maka bahasa arab akan lenyap disebabkan oleh pertentangan dan klaim dari tiap individu.

Baca juga :  Kontestasi Tafsir Atas Kekuasaan

Al-Farra’ menghabiskan hidupnya di Baghdad dan setiap akhir tahun beliau kembali ke Kufah. Setelah mencapai usia 63 tahun dengan pengalaman keintelektualan yang luas, Al-Farra’ menutup hidupnya. Ia wafat dalam perjalanan pulang dari Mekkah pada tahun 207 Hijriah. Ia meninggalkan banyak karya di antaranya: Alatul kitab, al-Ayyam wa al-layalil, al-Buha al-hudud, Huruf al-mu’jam, al-Fakhir fi al-Amtsal. Ada juga  Fi’lun wa af’al al-Lugat, al-Muzakkar wa al-Muannats, al-Musykil as-Shoghir, dan al-Musykil al-Kabir.  Yang lainnya al-Mashodir fi al-Quran, Ma’anil Quran, al-Maqshur wa al-Mamdud, An-nawadir, dan al-Waqfi wa al Ibtidai.

Salah satu kitab al-Farra’ yang terkenal dalam bidang tafsir al-Qur’an adalah kitab Ma’anil Qur’an. Penulisan kitab ini berangkat dari seorang sahabat al-Farra’ bernama Umar Bin Bakir. Ia yang meminta untuk menuliskan sebuah kitab tentang kaidah-kaidah al-Qur’an. Lalu diberi nama Ma’anil Qur’an yang berarti kupasan makna kata-kata tertentu dalam al-Qur’an.  Kitab ini sebagai pedoman dalam menjawab persoalan yang mungkin timbul di masyarakat menyangkut al-Qur’an.

Sejak saat itu, al-Farra’ mulai mendiktekan tafsirnya kepada murid-muridnya. Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang bernama Muhammad Ibn al-Jahm al-Siamarri yang memiliki minat lebih tinggi untuk mencatat apa yang disampaikan al-Farra’. Hasil catatannya juga pernah dicek langsung oleh al-Farra’, sehingga tidak heran jika al-Siamarri menjadi salah satu perawi populer kitab Ma’anil Qur’an. Menurutnya, kitab Ma’anil Qur’an didiktekan al-Farra’ dari hafalannya setiap hari selasa dan jum’at sejak Ramadhan 202 H hingga beberapa bulan di tahun 204 H.

Baca juga :  Ath-Thabari dan Produktivitas Menulis yang Luar Biasa

Terkait sumber penafsiran yang digunakan oleh al-Farra’ dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, setidaknya terdapat empat sumber. Pertama, Nahwu sebagai sumber utama karena bidang keilmuan yang didalaminya adalah ilmu kebahasaan (khususnya Nahwu). Kedua, Qira’at untuk mengetahui suatu bacaan. Ketiga, Asbabun Nuzul untuk mengetahaui konteks ketika suatu ayat diturunkan. Keempat, Keindahan-keindahan susunan Bahasa al-Qur’an seperti kinayah, majaz dan lain-lain.

Bidang keilmuan al-Farra’ yang sangat mencolok adalah dari segi linguistik (kebahasaan), sehingga tidak mengherankan jika di dalam kitabnya banyak mengupas gramatikal bahasa al-Qur’an. Salah satu contohnya pada kata bismillah di awal surat al-Fatihah, beliau fokus pada kata bismi yang tidak memakai alif, sedangkan pada kata sabbihismirabbika di awal surat al-A’la memakai alif.

Menurutnya, peniadaan alif pada kata bismillah karena kata ini sudah dikenal dan diketahui maknanya oleh banyak orang, bahkan jika dibaca pun tidak mempengaruhi. Terlebih lagi, kata bismillah hampir selalu dibaca ketika memulai berbagai kegiatan. Kasus seperti ini di kalangan Arab disebut sebagai ijaz (meringkas ketika diketahui maknanya). Adapun penyebutan alif pada kata sabbihismirabbika, karena kata ini asing dalam penggunaannya jika dibandingkan dengan kata bismillah.

Selanjutnya, Al-Farra’ mendapatkan beberapa pujian, dari Hannad bin Sirri misalnya, “al-Farra’ tidak pernah sekalipun menulis apa yang beliau dengar, kecuali jika mendengar pernyataan yang berhubungan dengan tafsir dan bahasa, maka beliau akan berkata kepada sang guru: “Ulangilah sekali lagi untukku, wahai Guru.” Menurut Hannad, al-Farra’ menghapalkan setiap hal yang beliau butuhkan”.

Pada suatu kesempatan, Tsumamah pernah menguji al-Farra ia berkata: “Aku melihat al-Farra’ adalah seorang penyair, lalu aku berdiskusi tentang bahasa Arab, ternyata beliau adalah pakar sastra arab dan juga ahli nahwu. Kemudian, aku berdiskusi tentang fiqh, ternyata beliau adalah pakarnya dan mengetahui perdebatan-perdebatan di antara ulama fiqh. Kemudian, aku berdiskusi tentang ilmu nujum, kedokteran, sejarah Arab, dan sastra-sastra Arab, ternyata beliau adalah pakarnya”.

Baca juga :  Asal Usul Penciptaan Perempuan: Telaah Tafsir “Nafs Wahidah” dalam Surah An Nisa Ayat 1

Pada akhirnya, Setiap sesuatu pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak terkecuali kitab Ma’anil Al-Qur’an ini. Diantara kelebihannya, kitab ini dapat dijadikan sebagai rujukan tentang kaidah-kaidah nahwu, kebahasaan, I’rab al-Qur’an, jenis-jenis qira’at, dan asbabun nuzul. Selain itu, diperkuat juga dengan bentuk-bentuk perkataan yang didengar dan diriwayatkan dari orang arab.

Adapun di antara kekurangannya, kitab  ini masih terkesan parsial-atomistik karena hanya menaruh minat pada unit-unit tertentu pada sebuah ayat. Selain itu, jika dilihat dari ruang historisitas dan motif dari penulisan kitabnya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kitab ini lebih cocok disebut sebagai tafsir linguistik al-Qur’an (tafsir lughawy) karena bangunan penafsirannya berorientasi secara mayor kepada penafsiran-penafsiran ahli bahasa dan ahli qira’at al-Qur’an.

Terlepas dari hal itu, kitab Ma’anil Al-Qur’an karya al-Farra’ adalah salah satu kitab tafsir al-Qur’an yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kajian keilmuan selanjutnya, terutama dalam kajian linguistik.

Wallahu A’lam.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *