Tafsir Santri Milenial Terhadap Bait-Bait Alfiyah

Alfiyah adalah kitab berisi 1002 bait (nadham) yang disusun oleh Syekh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay. Ia merupakan seorang ulama kelahiran Andalusia (Spanyol) pada tahun 600 H, dan wafat pada tahun 672 H atau 22 Februari 1274 di Damaskus, Syam (Syiria).

Hingga sekarang, kitab Alfiyah masih begitu populer di kalangan santri Indonesia. Banyak pesantren atau madrasah di Indonesia yang bahkan memberlakukan hafalan Alfiyah sebagai salah satu aturan wajib.

Jika tidak hafal maka tidak naik kelas. Aturan semacam ini bisa dimaklumi karena keunggulan Alfiyah karya Ibnu Malik yang mengupas tuntas ilmu gramatikal bahasa Arab secara ringkas. Dengan menghafal Alfiyah, santri diharapkan memiliki modal ilmu gramatikal Arab yang kuat, sehingga mampu memahami secara mandiri kitab-kitab agama berbahasa Arab.

Di tengah perkembangan media informasi, harapan ideal semacam itu tampaknya bukan lagi menjadi satu-satunya atau tujuan utama dari menghafal Alfiyah. Kegiatan hafalan Alfiyah dalam praktiknya, sudah bercampur baur dengan harapan-harapan lain yang sama pentingnya.

Dalam bahasa Samuli Schielke (2009) disebut “moral registers”; bukan hanya moral agama yang membentuk kehidupan anak-anak muda, namun juga ada banyak moral lain yang ikut berkontribusi.

Dalam kasus hafalan Alfiyah, cukup banyak moral-moral ideal yang muncul dan tampak saling melengkapi satu sama lain. Hal ini bisa disimak melalui foto dan video beserta quote-nya, yang banyak disebarkan oleh santri-santri milenial di media-media sosial seperti Instagram.

Baca juga :  Filosofi Budaya "Sendiko Dawuh" di Pesantren

Tagar #alfiyahibnumalik adalah salah satunya. Tagar yang berisi lima ribu unggahan status ini banyak memberi potret penting tentang tafsir santri milenial terhadap bait-bait Alfiyah. Pemahaman model milenial ini bisa menjadi metode untuk merepresentasikan ekspektasi ideal mereka, salah satunya tafsir Alfiyah dalam persoalan roman atau asmara sebelum nikah.

Dalam pandangan kaum santri, salah satu membangun cinta yang ideal sebelum nikah adalah dengan cara diam. Sebagaimana quote yang tertulis dalam foto yang diunggah oleh akun santriputri.xxxx;begitu pula manusia, terkadang mencintai dalam diam”. Pandangan ini merupakan tafsir terhadap bait Alfiyah nomor 229, yang menjelaskan tentang kedudukan fa’il tatkala fi’il –nya disimpan.

وَيَرْفَعُ الفَاعِلَ فِعْلٌ أُضْمِرَا * كَمِثْلِ زَيْدٌ فِي جَوَابِ مَنْ قَرَا

Dan fi’il yang tersimpan merafa’kan fa’ilnya * seperti contoh (fa’il) zaidun (yang dirafa’kan oleh fi’il yang tersimpan Qara`a) sebagai tanggapan dari pertanyaan man qara`a?

Selaras dengan itu, pandangan berikutnya adalah bahwa hubungan cinta pra-nikah itu tidak harus saling mengenal lebih dahulu. Hal ini karena “adakalanya pasangan yang cocok itu berawal dari orang yang tidak pernah kenal sama sekali”.

Pandangan ideal ini merupakan quote yang terdapat dalam foto yang diunggah oleh akun halaqah.saxxxx, yang ditafsirkan dari bait Alfiyah nomor 537. Bait yang menjelaskan tentang bentuk “athaf bayan” dan “isim yang dijelaskannya”, yang mana keduanya terkadang sama-sama berupa isim nakirah.

فَقَدْ يَكُونَانِ مُنَكَّرَيْنِ * كَمَا يَكُونَانِ مُعَرَّفَيْنِ

Baca juga :  Pemerintah Sediakan Dana 2,6 Triliun untuk Pesantren dalam Hadapi Covid-19

Terkadang “athaf bayan” dan “isim yang dijelaskannya” itu sama-sama berupa isim nakirah * seperti halnya ketika sama-sama berupa isim ma’rifat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa asmara yang ideal itu tidak harus dibangun dengan cara mengenal akrab lebih dahulu. Bisa jufa cukup dengan diam atau tidak perlu mengenal sama sekali.

Pengidealan semacam ini tentunya sangat cocok untuk kondisi santri yang masih belajar, sebab  “ketika kenal dan suka wanita maka semangat belajar dapat turun”. Quote yang terdapat dalam foto yang diunggah oleh akun salafstoxxx ini merupakan penafsiran dari bait nomor 650. Bait ini yang menjelaskan tentang status alif tatsniyah yang secara mutlak bisa mencegah tanwin pada isim.

فَأَلِفُ التَّأْنِيثِ مُطْلَقًا مَنَعْ * صَرْفَ الَّذِي حَوَاهُ كَيْفَمَا وَقَعْ

Alif tastniyah secara mutlak mencegah * tanwin pada isim yang terdapat alif tastniyahnya, bagaimanapun kondisinya.

Selain idealnya sebuah percintaan pra-nikah, idealisasi lainnya adalah tentang pertemanan dan kewajiban sosial. Idealnya sebuah pertemanan sudah seharusnya mengetahui mana yang perlu diutamakan lebih dahulu antara yang sudah dikenal atau sudah akrab, dan yang belum dikenal sama sekali.

Perihal ini, yang paling utama adalah yang paling dekat lebih dahulu, seperti quote yang terdapat dalam foto yang diunggah oleh akun halaqah.sanxxxx. Pandangan demikian ditafsirkan dari bait nomor 66 yang menjelaskan tentang susunan yang tepat ketika ada dua domir bertemu.

Baca juga :  Mengenal Nyai Abidah, "Ibu Kartini" dari Jombang

وَقَدِّمِ الأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ * وَقَدِّمَنْ مَاشِئْتَ فِي انْفِصَالِ

Dahulukanlah yang paling khusus ketika (ada dua domir) muttashil * dan dahulukanlah apa yang kamu kehendaki ketika (kedua domir adalah) pisah (muttashil dan munfashil).

Meskipun demikian, seorang santri tetaplah harus fleksibel ketika menjalin pertemanan. Bisa merangkul semua elemen tanpa harus menanggalkan identitas ke-santri-annya.

Pemahaman semacam ini ditafsirkan oleh akun alkholilaxxxx dari bait nomor 58. Bait ini menjelaskan tentang kedudukan domir “نَا” yang selalu ajeg dalam semua posisi, apakah rafa’, nasab, atau jer.

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّ نَا صَلَحْ * كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا المِنَحْ

Dalam keadaan rafa’, nasab, dan jer, domir نَا  itu tetap * seperti contoh i`rif binaa fainnanaa nilnaa al-minah.

Deskripsi singkat di atas adalah potret sederhana tentang kompleksitas moral ideal yang melandasi karakter santri milenial. Mereka mencoba merumuskan nilai-nilai ideal yang selaras dengan kebutuhannya dengan cara menafsirkan bait-bait Kitab Alfiyah yang dihafalkannya.

Dengan kata lain, Alfiyah sebagai salah satu ilmu Nahwu, bukan semata digunakan untuk membantu memahami teks-teks agama berbahasa Arab. Lebih dari itu, Alfiyah juga berfungsi untuk menopang moral-moral ideal yang dibutuhkan oleh santri dalam kehidupan sehari-hari.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *