Tafsir Surat Al-Fatihah Menurut KH Sholeh Darat

Tafsir Surat Al-Fatihah

KH Sholeh Darat merupakan ulama Nusantara yang mengarang kitab Tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa yang berjudul Faidhur Rahman Fi Tarjuman Tafsir Kalam Malik al-Dayan. Nama lengkapnya adalah Muhammad Sholeh Ibnu Umar  lahir di desa Kedung Jemblung kecamatan Mayong Kabupaten Jepara pada tahun 1820 M wafat 29 Ramadhan 1903 M umur beliau kira-kira 86 tahun.

Tafsir Kiai Sholeh Darat ini menggunakan nalar shufi-isyari dalam rangka negosiasi dan mediasi konflik antara Islam Kejawen yang cenderung anti syari’at dan kaum ahli fiqih yang terlalu berorientasi formalis dalam mengajarkan Islam.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Prof Abdul Mustaqim dalam Tafsir Jawa: Eksposisi Nalar Shufi-Isyari Kiai Sholeh Darat tentang Kajian Surat Al-Fatihah dalam Kitab Faidl Al-Rahman pada bab ketiga menjelaskan tentang perbedaan ulama tafsir tentang turunnya Al-Fatihah.

Imam Baidhowi mengatakan Al-Fatihah termasuk ayat Makkiyah, sedangkan bagi Imam Mujahid, surat itu merupakan ayat Madaniyah. Dalam tafsir Surat Al-Fatihah ini, KH Sholeh Darat mengkompromikan dua pendapat tersebut, bahwa Al-Fatihah turun dua kali di Makkah dan Madinah sebagai petunjuk tentang kemuliaan surah tersebut.

Al-Fatihah berjumlah tujuh (7) ayat, lafalnya terdapat dua puluh tujuh (20), dan hurufnya seratus empat puluh (140) selain huruf yang ada tasydid-nya.

Ayat Pertama

Pada ayat Bismillahirrahmanirrahim (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), KH Sholeh Darat menafsirkan adanya konsep empat martabat; Asma, Dzat (Lafazd Allah), Jalal (berkuasa penuh), Jamal (sempurna). Keempat martabat ini lalu melahirkan empat martabat lagi yaitu: Uluhiyyah, ruhiyyah, jasmaniyyah dan hayawaniyyah.

Selanjutnya, huruf ba pada bismillah artinya (menyimpan makna tertentu), Aku mulai dengan asmaku dan sifatku  dan Aku adalah Allah yang memiliki sifat al-rahman dan al-Rahim.

Adapun pada kata bismillah kenapa huruf alif tidak terlihat dan kenapa dipanjangkan secara penulisan?

Baca juga :  Makna Iqra dan Qalam dalam Al-Qur'an [2]

Suatu ketika, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut.  Maka, Rasul menjawab, huruf alif pada kalimat bismillah dicuri Iblis kemudian Rasul menyuruh kalimat bismillah dipanjangkan secara penulisan. Hal ini memberi isyarat bahwa Nabi Muhammad adalah Insan Kamil. Maka dalam tafsirnya, alif adalah menunjukkan Allah dan ba adalah menunjukkan Nabi Muhammad.

Ayat Kedua

Selanjut tafsir ayat Alhamdullihirobbil alamin (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), bahwa pujian kepada Allah ada tiga macam; (1) tsana, yakni pujian dengan lisan, (2) syukr, yakni pujian kepada Allah dengan anggota badan ketiga, (3) madh, yakni menetapkan segala sifat kesempurnan Allah dan menafikan segala sifat kekurangan Allah. Sementara dalam pandangan kaum sufi, kesadaran akan ketidakmampuan seseorang untuk benar-benar mensyukuri nikmat Allah.

Ayat Ketiga

Lalu pada ayat Arrahmanirrahim (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), Kiai Sholeh Darat menafsirkan pujian kepada dzat-Nya dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Kerena, tidak ada makhluk yang mampu memujinya dengan sempurna sehingga memuji dengan menafikan segala sifat kekurangan dari Dzat Allah.

Allah yang memelihara jasmani dengan berbagai kenikmatan dan Allah yang memelihara ruhani. Sehingga kalimat alhamdullah dibaca bagi seorang yang bersyukur bagi yang mendapatkan nikmat.

Nikmat terbagi dua; nikmat dunia dan nikmat agama. Sehingga dalam melafalkan kalimat alhamdulillah tidak diucapkan ketika mendapatkan nikmat dunia kecuali nikmat dunia yang bisa mendapatkan nikmat agama dan kemuliaan akhirat. Hal ini karena dunia dianggap kotor, sementara kalimat alhamdulillah kalimat suci.

Baca juga :  Al-Qur'an Melarang Kita Menghina Agama Lain: Tafsir Surah Al-An'am Ayat 108

Sedangkan orang yang mendapat nikmat dunia seharusnya mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun, karena mewarisi warisan Fir’aun dan Haman.

Ayat Keempat

Untuk tafsir ayat Maliki yaumiddin (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ), diterangkan bahwa Allah swt yang merajai dan menjadikan hari seseorang menjadi terang jasmani dan ruhani dengan cahaya yang haqiqi (nur Islam haqiqi).

Ayat Kelima

Iyyaka na’budu wa iyyaka Nasta’in (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ), artinya “hanya kepada-Mu kami menyembah dan minta tolong”. Menurut Kiai Sholeh Darat, tidak ada tempat menyembah dan meminta pertolongan kecuali kehadapan Allah dan terus menerus meraih makrifat Allah.

Alasan iyyaka menggunakan kata jamak adalah memberi dua makna isyari. Pertama, bahwa muslim tidak semestinya mengerjakan shalat sendirian melainkan shalat berjamaah. Kedua, sesungguhnya manusia tidak pernah sendirian kecuali dikawani para malaikat kiroman katibin hafazah. Dan tafsirnya dengan pendekatan tasawuf adalah bahwa manusia bukan sendiri kecuali terdiri empat nafsu, hati, ruh dan sir.

Ayat Keenam

Ihdina al-shirath al-Mustaqim (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ),  artinya “Engkau memberikan kami petunjuk yang lurus”. Tafsir pada ayat ini yakni hidayah yang kita minta kepada Allah adalah hidayah yang telah diberikan kepada Nabi.

Imam Al-Ghazali membagi hidayah tiga macam. Pertama, hidayah untuk orang umum (hidayah amm). Kedua, hidayah untuk orang khusus (hidayah al-Khash). Ketiga, hidayah khusus di antara orang-orang khusus (Hidayah khawash al-khawash).

Ayat Ketujuh

Selanjutnya, pada ayat Shirathalladzina an’amta ‘alaihim ghairi al-maghdhubi ‘alaihim wa laddhallin (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ), artinya jalan yang ditempuh para Rasul, Nabi, syuhada wali dan para ulama.

Baca juga :  Ajaran Silaturahim Menurut Tafsir Al-Qur'an

Lafal al-Maghdlubi adalah orang yang dimurkai Allah tidak mendapatkan cahaya dari Allah, sehingga tersesat dan bingung. Bisa juga berarti orang yang tidak mendapatkan taufiq sehingga terhinakan.

Adapun lafal al-dhallin, tafsirnya yakni orang yang menyimpang dari jalan yang lurus. Walhasil, mereka yang meninggalkan ilmu syariat, hakikat, dan tauhid, sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang menyembah hawa nafsunya dan dunia.

Untuk lafal Amin (أمين) yang biasa dibaca setelah Al-Fatihah, ulama sepakat bahwa kata ini bukan bagian dari surah al-fatihah. Sedangkan hukum membacanya adalah sunnah. Adapun arti Amin adalah engkau mengabulkan doa (permohonan ) kami.

Demikian tafsir Surat Al-Fatihah menurut KH Sholeh Darat. Kesimpulannya, di dalam surah Al-Fatihah pokok kandungan ajarannya adalah berkaitan dengan al-Hamdu (pujian kepada Allah) dan berita tentang Hari Kiamat, dan doa permohonan untuk meminta hidayah serta rahmat. Wallahu a’lam.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.