Tahirih; Pejuang Hak-Hak Perempuan dari Iran

Tahirih

Sebagaimana laki-laki, kaum perempuan juga mempunyai peran penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Jika ditelusuri lebih mendalam, kita akan menemukan berbagai tokoh perempuan yang mempunyai peran yang tersebar dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah Tahirih. Sosok perempuan yang menjadi seorang penyair, teolog sekaligus aktivis hak-hak perempuan.

Tahirih lahir di Iran tahun 1814 M. Namanya berasal dari bahasa Persia Tehere (yang murni) dan mempunyai arti dalam bahasa Arab sepadan dengan Qurratul Ayn sebagaimana dijelaskan oleh Tetty Yukesti dalam bukunya 51 Perempuan Pencerah Dunia.

Tahirih merupakan anak sulung dari empat bersaudara dari keluarga Mulla Muhammad Salih Baraghani. Yang merupakan tokoh besar di Iran pada saat itu. Sedangkan ibunya adalah sosok yang berasal dari bangsawan Persia, dan saudara dari Imam Masjid Shah di Qayzin pada waktu itu.

Sejak kecil, Tahirih dididik langsung oleh ayahnya. Pada waktu kecil inilah, bakatnya sebagai seorang penulis sudah mulai terlihat. Walaupun tinggal di rumah dengan pendidikan yang ketat, tetapi ia masih bisa belajar tentang teologi, hukum, sastra Persia dan puisi. Bahkan ia juga diizinkan oleh ayahnya untuk mendalami kajian Islam dan menghafal Alquran.

Ketika ayahnya mengajar para laki-laki, Tahirih juga diperkenankan untuk ikut belajar dan mendengarkannya walaupun dari balik gorden. Namun kegiatan belajar yang dilakukan olehnya tidak ketahui oleh banyak orang.

Dalam hal ini, Tahirih menjadi sosok perempuan yang mendapatkan pendidikan yang baik dibanding para perempuan saat itu. Karena pada masa itu, perempuan yang berpendidikan sangat jarang.

Tahirih mempelajari dan memahami masalah teologi serta masalah pendidikan di saat gadis-gadis yang lainnya pada waktu itu tidak diizinkan untuk mengenyam pendidikan. Apa yang terjadi dalam diri Tahirih adalah sebaliknya. Ia menempuh pendidikan di Qazyin hingga akhirnya menginspirasi tren baru di kalangan perempuan pada saat itu.

Baca juga :  Rahmah el-Yunusiyah, Ikhtiar Mendidik Anak Bangsa

Secara fisik, Tahirih memancarkan daya pikat yang luar biasa. Dia adalah sosok perempuan dikagumi karena kecantikannya. Bahkan ahli sejarah kontemporer maupun modern di Iran mengagumi kecantikan fisiknya yang jarang dimiliki perempuan lain.

Dia disebut memiliki wajah seperti ‘bulan purnama’. Salah seorang anak didik ayahnya bahkan merasa heran dengan adanya seorang perempuan yang cantik namun juga mempunyai kepandaian.

Pendidikan Tahirih yang diperoleh dari ayahnya membawanya menjadi seorang yang benar-benar religius. Dia selalu haus ilmu pengetahuan dan selalu menyibukkan dirinya dengan membaca sastra religius, dan sastra bentuk lainnya.

Namun, perjalanan pendidikannya harus berhenti ketika dia harus dijodohkan oleh ayah dan pamannya. Tahirih menikah pada umur belasan tahun. Pernikahannya pun penuh dengan gejolak, karena menikah dengan sepupunya sendiri yaitu Muhammad Baraghani.

Dari pernikahan tersebut Tahirih dikaruniai 3 anak. Namun di usia 26 tahun, ia harus berpisah dengan suaminya. Sehingga dalam perjalanan kehidupannya, dia ditemani oleh para saudara perempuannya.

Seorang Penyair

Kemampuannya dalam menulis dan menyair, membuat Tahirih diperkenalkan dengan ajaran Shaykhi di perpustakaan oleh sepupunya yaitu Javad Valiyani.

Pada mulanya, Javad malas mengizinkan sepupunya belajar kesusastraan karena ayah Tahirih dan pamannya adalah musuh besarnya dalam kegiatan gerakan di Iran pada waktu itu.  Namun, karena Tahirih sangat tertarik dengan ajaran tersebut, akhirnya dia melakukan surat-menyurat dengan Sayyid Kazim untuk bertanya banyak tentang agama.

Sayyid merasa beruntung mendapat dukungan dari keluarga Baraghani yang kuat. Dia membalas surat Tahirih dengan sebutan, Solace of the Eyes (Qurat-ul-Ayinn) dan the soul of my heart. Akan tetapi Tahirih merahasiakan keyakinan barunya kepada keluarga. Adanya ketegangan agama antara Tahirih dan keluarganya membuatnya diberi izin untuk berziarah ke Karbala.

Di Karbala inilah, Tahirih ingin bertemu dengan gurunya yaitu Sayyid Kazim. Sayangnya, sesampainya di sana, Sayyid Kazim ternyata meninggal. Karena sudah belajar dengan Sayyid Kazim dengan surat menyurat sejak tahun 1840 M dan dianggap telah menyerap banyak ajaran yang diajarkan oleh Sayyid Kazim, istri Sayyid Kazim mengizinkan Tahirih untuk mengajar para pengikut Sayyid Kazim walaupun dari balik gorden.

Baca juga :  Sayyidah Nafisah, Ulama yang Sering Diminta Doanya oleh Imam Syafi’i

Istri Sayyid Kazim memberikan kesempatan seluas-luasnya pada Tahirih untuk mempublikasikan ajaran-ajarannya yang didapat dari sang guru. Walaupun pada zaman tersebut bukan hal yang umum perempuan mengajar di publik apalagi mengajar para lelaki, tapi dia mendapat dukungan dari kaum perempuan termasuk Hurshid Begum (yang menjadi istri Raja Martyrs) dan saudaranya Mulla Husayn.

Kiprah dan Perjuangan

Ketika berusia 27 tahun, Tahirih mendalami sebuah ajaran yang meyakini bahwa manusia diciptakan sama, perbedaan budaya dan ras harus diterima sebagai sebuah kehormatan. Ia pun mengajarkan keyakinan itu dalam setiap kesempatan.

Para agamawan Persia merasa resah dan mengancam akan memenjarakan dan menghentikan aktivitasnya. Bahkan Tahirih juga berani menentang keinginan keluarganya supaya kembali ke keyakinan tradisi keluarga.

Hingga suatu ketika Tahirih secara tebuka berbicara di sebuah acara pertemuan di depan laki-laki selama Konferensi di Badast. Keterbukaan tersebut pun menimbulkan kontroversi. Dia ditangkap dan menjadi tahanan rumah di Teheran.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada pertengahan 1852 M dia dieksekusi karena keyakinannya pada Babysme. Sejak itu, dia dianggap sebagai perempuan pertama yang menjadi martir karena perjuangan hak-hak suara perempuan. Dia disebut dalam sastra Baha’i sebagai contoh keberanian dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Dalam hidupnya, Tahirih adalah sosok yang mengajarkan tentang keyakinannya bahwa manusia diciptakan sama. Perbedaan ras, budaya dan perbedaan lainnya adalah sebuah kehormatan yang harus diterima.

Dia juga menjadi sosok yang merubah tren baru di kalangan perempuan pada masanya. Bahwa perempuan berpendidikan itu penting. Pendidikan bagi perempuan penting karena perempuan akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik anak-anaknya. Peran perempuan bukan hanya di dalam rumah saja. Perempuan juga bisa menjadi agen perubahan dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga :  R.A. Lasminingrat; Sastrawan Perempuan Pertama dari Tanah Sunda

Tahirih adalah penyair dan feminis pertama dari Iran yang dieksekusi mati karena mempertanyakan praktik poligami, jilbab dan berbagai larangan kepada perempuan sebagaimana dikatakan oleh M. J. Rahardjo dalam bukunya Sanih, Kamu Tidak Perawan!; Seksualitas dan Ayat-Ayat yang Dipelintir.

“Kalian bisa segera membunuh saya, tapi kalian tidak dapat emansipasi perempuan.” Tahirih.

Tahirih dianggap sebagai salah satu perempuan terkemuka dalam Bábísme dan tokoh penting dalam perkembangannya.  Sebagai individu karismatik, dia mampu mengatasi batasan yang biasanya ditempatkan pada wanita dalam masyarakat tradisional di tempat dia tinggal, dan dengan demikian menarik perhatian.

Dia banyak menulis tentang masalah Bábí dan dari volume itu ada sekitar selusin karya penting dan selusin surat pribadi yang masih ada. Mereka diuraikan (termasuk isi dari beberapa risalah lebih lanjut yang telah hilang) oleh Denis Mac Eoin dalam “The Sources for Early Babi Doctrines and History”.

Pengaruh Tahirih telah melampaui komunitas Baháʼí itu sendiri, karena hidupnya telah menginspirasi generasi setelahnya. Ia bisa dikatakan sebagai wanita pertama yang mengungkap dan mempertanyakan ortodoksi politik dan agama.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *