Tahqiqul Hayawan, Kitab Fikih Fauna Karya KH. A. Yasin Asymuni

KH Ahmad Yasin Asymuni adalah seorang ulama langka yang sangat produktif. Ia lahir di Dusun Petuk Desa Pahrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, pada tanggal 8 Agustus 1963. Kemudian wafat tanggal 11 Januari 2021.

Selain menempuh pendidikan formal, Ahmad Yasin kecil juga menghabiskan waktunya untuk mengaji Al-Qur’an, dasar-dasar fikih, tauhid, dan lain-lain. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo Kota Kediri hingga menamatkan pendidikan tingkat Madrasah Aliyah. Karena rasa hausnya akan ilmu, ia tetap bermukim di Lirboyo untuk menelaah kitab-kitab kuning yang berfokus pada cabang ilmu fikih.

Adapun prinsip yang dipegang oleh Kiai Yasin Asymuni, yaitu dalam menuntut ilmu itu tidak ada batas umur dan tidak kenal waktu. Tidak heran jika beliau sangat gemar menelaah kitab-kitab kuning serta buku klasik hingga kontemporer.

Keistiqomahan beliau tak sia-sia, karena pada tahun 2011 mendapat penghargaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia dalam bidang keilmuan sebagai penulis inventif dalam kajian kitab di pondok pesantren.

Kitab Tahqiqul Hayawan

Kegemarannya dalam mengkaji kitab kuning dan tidak jarang diundang dalam berbagai forum bahtsul masail. Kadang, datang pertanyaan tentang beragam masalah dari masyarakat yang membuat KH. Ahmad Yasin Asymuni senang dalam menciptakan karya hingga mengoleksi sampai ratusan karya.

Baca juga :  Dua Kitab untuk Sang Sultan: Hubungan Kerajaan Banten dan Mekah Abad ke-17

Salah satu karya Kiai Ahmad Yasin yaitu Tahqiqul Hayawan fi Bayan ‘Ahkam wa Khawas al-Hayawan wa ‘Ahkam ghairihi wat Tadawa bin Najasi wa Bayani tadzkiyyatihi wa suwarihi (تحقيق الحيوان في بيان أحكام وخواص الحيوان وأحكام غيره والتداوى بالنجس وبيان تذكيته وصوره).

Ia selesai menuliskan kitab bergenre fikih ini pada 19 September 1989 yang bertepatan pada 17 Safar 1410 H.  ketika masih bermukim di Lirboyo. Kemudian kitab tersebut baru dicetak saat Kiai Ahmad Yasin sudah mendirikan Pondok Pesantren Hidayatut Thullab di Petuk, Semen, Kediri pada tahun 1993 M.

Dalam kolofon:

وقد تمت هذه الرسالة المسامة بتحقيق الحيوان في بيان أحكام و خواص الحيوان و أحكام غيره و التداوي بالنجس و بيان تذكيته و صوره بعون الله الذي جعل الحيوان طعاما لعباده يوم الأحد السابع عشر من صفر سنة ألف و أربعمائة و عشرة من الحجرة النبوية

Naskah ini ditulis menggunakan aksara Arab dengan tinta berwarna hitam. Jenis tulisan yang dipakai sebagian besar memakai khat naskhi, ada juga beberapa kata yang memakai khat riq’ah yang menunjukkan penjelas dari kata sebelumnya dan akhir kalimat penutup. Ukuran naskah ini 25 cm x 20 cm, kertas tidak bergaris, ukuran besar teks 15 cm x 12 cm,  jumlah garis dalam setiap halaman ada 24.

Baca juga :  Asrar al-Khitan, Kitab yang Membuktikan Manfaat Khitan Menurut Ilmu Kedokteran

Pada kesimpulannya, isi kitab Tahqiqul Hayawan adalah kumpulan kajian fikih fauna secara terperinci, seperti hewan-hewan yang halal dan haram dikonsumsi. Terdapat juga hukum berburu hewan dan tata cara menyembelihnya, serta membahas ilmu farmakologi dengan beberapa jenis hewan dan benda-benda yang dihukumi najis.

Secara lengkap, naskah ini berisi beberapa bab, meliputi; Bab 1 hukum selain binatang, Bab 2 tentang hukum berobat dengan najis; Bab 3 tentang pembagian binatang; Bab 4 tentang kategori pertama binatang yang hidup di darat dan tidak di laut, seperti binatang darat yang halal dan khasiatnya, burung yang halal dan khasiatnya, binatang darat yang haram dan khasiatnya, burung yang haram dan khasiatnya. Sedangkan pada Bab 5 tentang binatang yang terlahir dari binatang yang boleh dimakan dan telur yang rusak.

Adapun Bab 6 menerangkan kategori kedua binatang yang hidup di laut dan tidak hidup di darat; Bab 7 tentang kategori ketiga binatang yang hidup di darat dan di laut (amfibi); Bab 8 tentang buruan dan sembelihan; Bab 9 tentang hukum menggambar binatang.

Kitab Tahqiqul Hayawan ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh cetakan Pesantren Hidayatut Thullab Petuk, Semen Kediri. Kitab ini juga mendapat kesempatan taqrizh dari KH. Ahmad Idris Marzuqi Dahlan (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sekaligus keponakan dari Syaikh Ihsan Dahlan Al-Jamfasi Al-kediri).

Baca juga :  Jawahirul Qur’an wa Duroruhu, Karya al-Ghazali Tentang Rahasia Alquran
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.