Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Berikut Penjelasannya

Seluruh umat Islam di dunia selalu bersuka cita tatkala hari raya tiba, baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha. Pada perayaan dua hari raya inilah Muslim dianjurkan untuk mengumandangkan takbiran. Akan tetapi, waktu takbiran keduanya berbeda. Dalam konteks ini, waktu Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Berikut Penjelasannya.

Waktu Takbiran

Mengenai waktu Takbiran Idul Adha berapa hari, dalam kitab Fathul Qorib Al-Mujib, takbiran Idul Adha dimulai sejak waktu subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Sedangkan waktu berakhirnya, yakni saat datangnya waktu Ashar pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

Berbeda dengan Takbir Idul Fitri yang mana waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan hingga menjelang imam memimpin sholat Id. (Lihat keterangan selengkapnya di Fathul Qorib Al-Mujib, h. 19)

Jadi, dalam tempo waktu sekitar 4 hari, yaitu dari tanggal 10-13 Dzulhijjah, umat Muslim boleh mengumandangkan takbiran dan menyembelih hewan qurban. Di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, setelah malam takbiran 10 Dzulhijjah, tradisi membaca takbir Idul Adha seusai menunaikan shalat Fardhu 5 waktu, paling sedikit minimal 7 kali bacaan.

Baca juga :  Idul Adha, Momentum Menyembelih Sifat Kebinatangan Manusia
Al-Qur’an dan Hadits tentang Takbiran Hari Raya

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Beberapa mufasir Al-Qur’an menerangkan ayat 185 Al-Baqarah ini berkaitan dengan takbiran pada malam Idul Fitri.  Namun, Muslim sebelumnya berpuasa terlebih dahulu pada bulan Ramadhan. Hal ini kemudian diqiyaskan pada takbiran Idul Adha, hanya saja waktu pelaksanaanya yang berbeda.

Sementara itu, selama ini belum ditemukan hadits shahih yang menjelaskan tentang perintah takbir pada hari raya. Beberapa hadits yang dikategorikan dhoif yang sering dirujuk yakni sabda Rasulullah saw.:

اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

“Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya karena hal dapat melebur dosa-dosa.”

زينوا اعيادكم بالتكبير

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.”

Baca juga :  Kurban yang Diterima Allah Menurut Tafsir Al-Qur'an
Hukum Takbiran

Bila berbicara sumber memang tidak ada hadits yang shahih tentang takbiran hari raya, tapi mayoritas ulama sependapat bahwa hukum membaca takbiran saat Hari Raya pada waktu yang telah ditentukan adalah sunnah. Takbiran bisa dilafalkan sendiri maupun bersama-sama, baik itu di rumah, masjid, pasar, saat berkendara jalan, dan lain sebagainya. (Lihat kitab Fathul Qorib h. 19)

Bacaan Lafal Takbiran 

Adapun bacaan lafal takbiran di Hari Raya adalah sebagai berikut:

اَللهُ اَكْبَرْ، اَللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ، اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً, لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَلَانَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ, مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْن, وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُونَ, لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ, لَااِلٰهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ, اللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Artinya: Allah Maha Besar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji. Dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafirmembencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke-Esa-an-Nya. Dia dzat yang menepati janji, Dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan ke-Esa-an-Nya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah.

Demikiam penjelasan tentang waktu takbiran Idul Adha berapa hari. Semoga kita mendapatkan keberkahan di Hari Raya Qurban. Amin. Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)

Baca juga :  Kurban dan Berhala dalam Diri
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *