Tanda-Tanda Cinta dalam Dunia Sufi (Bag. I)

Cinta merupakan anugerah teragung sang Maha Rahman dan Rahim. Dalam dunia sufi, hal utama yang harus ditanamkan paling dasar ketika seseorang menapaki suluk/jalan untuk mencapai-Nya/ma’rifatullah adalah cinta.

Bagaimana tanda-tanda seseorang mulai dimabuk cinta? Kita bisa melihatnya dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya (habl min Allah) dan sesama manusia/orang/sesuatu yang tengah dicintai (habl min An-Nass-habl min ‘Alam).

Senang Bertemu Kekasih

Pertama, senang bertemu Tuhan-kekasihnya. Bahkan cari-cari alasan untuk ketemu terus berlama-lama bermesra dengan Tuhan/yang dicintainya. Kisah Nabi Musa ketika bertemu Tuhan di bukit Tursina merupakan sebuah bukti.

Allah bertanya kepada Musa apa yang sedang ia pegang. Kemudian Musa menjawab secara rinci dan panjang lebar, bahwa yang ia pegang adalah sebuah tongkat dengan segala fungsi dan kelebihannya. Sebagai Yang Maha Segalanya, tanpa Ia meminta Musa mendefinisikan tongkat tersebut, Allah pun tahu akan hal itu.

Begitu pula ketika seorang sufi dimabuk cinta terhadap Allah Swt, ia akan senang ketika menjumpai-Nya, bahkan berlama-lama menikmati perjumpaan dengan-Nya tanpa bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Hal ini bisa kita lihat dalam hubungan bersama seseorang yang kita cintai (kekasih, keluarga/kerabat, ataupun benda). Ketika seorang yang tengah dimabuk cinta dan bertemu kekasihnya, maka ia tidak akan bosan untuk selalu mencari topik pembahasan supaya bisa berlama-lama dengan orang terkasihnya.

Mengutamakan Kekasih

Kedua, yaitu mengutamakan segala hal yang dicintai Allah Swt/apa yang disukai orang yang dicintai. Pada umumnya seorang sufi selalu mendahulukan hal-hal yang dicintai Allah Swt (ibadah, dzikr, menjauhi larangan-Nya, tunduk kepada-Nya) daripada mementingkan nafsunya sendiri.

Baca juga :  Belajar Agama Cinta dari Jalaluddin Rumi

Ada suatu cerita ketika seorang sufi tengah berlayar menaiki kapal. Sesampainya di tengah laut, tak dinyana ada badai besar datang mengombang-ambingkan kapal tersebut. Lantas semua orang panik kecuali sang sufi, kemudian ada seseorang berkata kepadanya: “Anda ini kan sufi, tolong berdoa biar badainya reda”.

Lalu sang sufi pun menjawab: “Kalau Allah menghendaki adanya badai untuk kita, maka biarlah saja, kehendakku akan kalah dengan kehendak Allah, sudah terima saja. Kalau sudah waktunya meninggal ya nanti akan menuju waktunya, jikalau sakit ya berobat, sudah biarkan saja”.

Pada akhirnya dari kepasrahan sang sufi dan penumpang kapal lain yang turut pasrah atas kehendak-Nya, tak disangka dalam sekejap badai tersebut seketika reda.

Begitu pula ketika seseorang yang tengah bersama keluarga atau orang terkasih dalam konteks hubungan sesama. Ia akan menurunkan ego sendiri demi menyenangkan hati pasangannya, bahkan ia pun rela menghabiskan, tenaga, waktu, materi, hanya supaya kekasihnya tersenyum.

Hal ini juga berlaku ketika kita (makhluk-Nya), selalu mendahulukan masalah apa yang disukai Allah Swt, maka Ia pun akan senang dan selalu menjaga hamba-hamba-Nya.

Selalu Ingat

Ketiga, kasrotu dzikr, yang artinya selalu ingat kepada Allah Swt/orang yang dicintai. Ia akan senantiasa ingat secara otomatis tanpa ada yang mengingatkannya. Dalam keadaan, situasi, waktu apa pun ia senantiasa ingat dan menyebut nama kekasihnya. Teringat akan kebaikannya, akan kasih sayangnya dan hal-hal lain yang berasal dari yang dicintai.

Baca juga :  Jalaluddin Rumi: Perempuan adalah Manifestasi Sempurna Tuhan  

Begitu pun ketika seorang sufi yang kuat kecintaannya kepada Tuhan, maka ia senantiasa ingat dan tak jarang menambah serangkaian ibadah sebagai persembahan cintanya. Sebagaimana dua insan yang saling mencintai, maka ia setiap waktu akan terus teringat satu sama lain.

Ingin Selalu Bersama

Keempat, yakni khalwat atau suka berduaan: dengan Allah Swt/dengan orang yang dicintai. Salah satu bentuk implementasi dari hal tersebut yaitu bermunajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya dan hal-hal kebaikan yang menjadi media untuk senantiasa bermesraan/berduaan dengan Allah Swt.

“Cukup hanya aku dan engkau yang tahu, bahwa aku mencintaimu, jangan sampai ada yang lain yang tahu”. Dengan membaca kitab-Nya, maka menjadikan rasa kecintaannya semakin subur.

Begitu pun jika dikaitkan dalam konteks sesama manusia, ketika membaca pesan dari orang yang dikasihi, baik dalam media surat, whatsapp, dan lainnya, segala bentuk darinya akan senantiasa membuatnya senang. Ketika saling duduk berdua bersama orang dicintai pun begitu.

(suami istri/keluarga), seakan enggan mengakhiri percakapan dan ingin selalu bercerita dan berbagi rasa antar keduanya. Begitulah betapa agungnya anugerah cinta.

Rela

Kelima, yaitu tidak menyesali kehilangan sesuatu atau berkorban apa pun (ridha), kecuali masih bersama Allah SWT/orang yang dicintai. Seseorang yang tengah cinta kepada-Nya, tidak akan peduli ketika apa pun yang dimilikinya semasa di dunia diambil kembali oleh Allah.

Ia rela berkorban apa pun agar Allah tetap cinta kepadanya, baik dalam bentuk fisik, maupun non-fisik. Seberapa berat ibadah yang menurut orang pada umumnya, maka bagi seseorang yang memiliki tanda-tanda cinta yang kelima ini (ridha), maka terasa ringan karena sudah didasari dengan rasa cinta terhadap Tuhan/Kekasih-Nya. Secara total pasrah atas kehendak-Nya.

Baca juga :  Tanda-Tanda Cinta dalam Dunia Sufi (Bag. II)

Dapat kita lihat juga tanda-tanda cinta ini kepada sesama manusia. Ia akan rea berkorban apapun untuk pasangannya. Ia akan ridha dengan keputusan orang yang dikasihi, jikalau ia benar-benar cinta (bukan didominasi nafsu). Bahkan kehilangan banyak materi dan waktu tak masalah, asalkan “ia masih tetap bersamaku dan mencintaiku”.

Bahkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam karyanya kitab Sir al-Asrar menyebutkan bahwa segala rangkaian ibadah baik dalam tingkatan Syariat, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat sangat perlu dan penting didasari dengan rasa cinta.

Maulana Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi yang masyhur dikenal seluruh pelosok negeri, juga demikian. Ia memaknai cinta sebagai anugerah dan relasi yang agung dan begitu tinggi kedudukannya. Bahkan ia pun pernah menggubah syair tentang cinta:

“Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta. Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya. Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur hina. Cinta sendirilah yang menerangkan cinta, dan kisah cinta!”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *