Tanda-Tanda Cinta dalam Dunia Sufi (Bag. II)

tanda cinta

Dalam tulisan sebelumnya saya telah menyebutkan lima tanda-tanda cinta dalam dunia sufi. Kelimanya adalah senang bertemu kekasih, mengutamakan kekasih, selalu ingat, selalu ingin bersama, dan rela.

Taat

Adapun tanda cinta keenam adalah tha’ah, yaitu menikmati ketaatan dan tidak merasa berat atau keberatan. Seseorang ketika berbuat apa pun dengan kondisi apa pun selalu bawaannya senang. Bahkan ia rela menambahi kuantitas dan kualitasnya, agar mendapat ridha sang Maha Cinta.

Seperti dalam kisah Jalaluddin Rumi ketika cinta dapat didefinisikan, maka ia belum bisa merasakan cinta sesungguhnya. Segala apa pun dalam rangka mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, dilakukan secara rela dan penuh kecintaan (Tadhiyah/rela berkorban). Tidak membantah perintah atau Allah Swt.

Begitu pula ketika seseorang sudah dimabuk kecintaan terhadap kekasihnya, maka ia tidak akan keberatan untuk melakukan apa pun tanpa mempedulikan hidupnya sendiri. Orang Arab menyebutnya “Majnun—Gila”, karena kerap hilang akalnya jika mengalami cinta yang begitu dalam kepada kekasihnya.

Bersikap Lembut dan Kasih Sayang

Ketujuh, bersikap lembut dan sayang kepada semua makhluk Allah, dan tidak berani menjelek-jelekkan, apalagi tidak suka. Bagi para sufi, bersikap lemah lembut dan selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan terhadap apa pun maupun siapa pun adalah perwujudan rasa cintanya kepada Tuhan.

Baca juga :  Nasruddin dan Tiga Bocah, Pemberian dengan Cara Tuhan

Bahkan seorang sufi pun enggan menyakiti binatang maupun merusak alam ciptaan-Nya, termasuk membiarkan nyamuk yang tengah menghisap darah mereka. Apa pun di dunia tiada siapa pun kecuali Allah SWT.

Penuh Takut dan Pengharapan

Kedelapan yaitu ada perasaan takut dan penuh pengharapan (Raja’) dalam mencintai Allah/kepada kekasih. Salah satu di antara cirinya yaitu ada perasaan takut yang dibarengi harapan, juga sebaliknya.

Takut tanpa disertai harapan nanti hasilnya adalah putus asa. Harapan saja tanpa adanya rasa takut nanti hasilnya berbuat semaunya sendiri. Maka dua-duanya harus imbang.

Maka dalam dunia sufi, tidak heran jika sufi takut dalam segala hal hanya kepada Allah Swt dan merendahkan dirinya sebagai makhluk yang bahkan hina. Dari ini juga diimbangi dengan harapan-harapan kepada Allah Swt untuk senantiasa memelihara dan menjaganya dari hal-hal yang dapat menghalangi kenikmatan ibadah/berinteraksi kepada-Nya.

Begitu pun dalam konteks hubungan cinta antarmanusia. Raja’ merupakan hal yang kerap kali muncul ketika sudah benar-benar cinta. Demikian pula seseorang akan khauf (rasa takut kehilangan), jika seseorang merasakan getaran cinta.

Tidak Pamer

Tanda kesembilan adalah tidak pamer (Riya’) atau menyembunyikan perasaan cinta tersebut sebagai wujud pengagungan pemuliaan, penghormatan kepada kekasih. Seseorang jika sudah cinta, ada kecenderungan “serakah”. “Aku saja, jangan diganggu.” Dan biasanya cemburu kalau ada yang lain lebih akrab terhadap yang dicintai.

Baca juga :  Tanda-Tanda Cinta dalam Dunia Sufi (Bag. I)

Begitu pula dalam konteks ibadah para sufi, ia lebih senang jikalau amal ibadah dan wujud penghambaannya hanya diketahui oleh Allah Swt. Rasulullah SAW pun bersabda:

“Barang siapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar/diketahui orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan siapa yang riya’, maka Allah pun menyebarkan aibnya”. (HR. Muslim).

Senang dan Ridha

Kesepuluh yaitu senang dan ridha kepada yang dicintai/Allah. Orang yang cinta akan ridha dengan ketetapan/keputusan yang dicintainya. Bahkan juga hal ini dibarengi dengan adanya rasa kagum terhadap yang dicintainya, baik Allah maupun kekasih dan sesuatu sekalipun.

Itulah beberapa tanda-tanda cinta dalam dunia sufi yang bisa juga kita lihat dan rasakan kepada diri kita maupun orang terkasih kita. Namun, sejatinya cinta tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata, walaupun itu indah.

Hal ini dikarenakan cinta adalah permainan rasa, bukan kata-kata. Dapat pula kita analogikan dengan pertanyaan berikut: “Bagaimana definisi rasa manis, asam, pahit, dan pedas?”. Tentu kita tidak akan menemukan definisi secara pasti, karena hal itu merupakan dunia rasa-merasa.

Tajalli

Mencintai sesama makhluk-Nya merupakan jalan utama untuk belajar bagaimana mencintai Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Arabi “Sesungguhnya cinta tulus antarmanusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintai-Nya dan melimpahkan anugerah dan kemurahan-Nya”.

Baca juga :  Kisah Cinta Jalaluddin Rumi dan Setangkai Bunga untuk Kara Khatoon

Begitu besar peran cinta di sini. Jika dipahami dan diimplementasikan secara tepat, maka sesungguhnya cinta merupakan suluk menuju ibadah tertinggi. Yang dalam bahasa tasawuf disebut tajalli.

Dalam suatu riwayat dikisahkan ada seseorang bertanya kepada Jalaluddin Rumi: “Apa itu Cinta?”. Maka ia menjawab: “Jangan tanya tentang maknanya. Jika engkau sudah menjadi seperti aku, maka engkau aku tahu. Saat cinta memanggilmu, engkau akan berkisah tentang itu. Jalani saja, nanti engkau akan paham.”

Lanjut Rumi: “Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri. Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang. Namun tanpa lidah, cinta nyatanya lebih terang. Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.