Tangga Kebahagiaan (Review Buku Denny JA Spirituality of Happiness)

Spirituality of Happiness

Saya merasa iri dan sekaligus menikmati membaca buku Denny JA ini. Sebuah buku berukuran tipis, namun tema dan isinya sangat fundamental dan analisisnya mendalam.

Buku ini mempertemukan dua kata konseptual yang selalu menjadi obyek kajian, perdebatan, dan pencarian abadi: spiritualitas dan kebahagiaan.

Di sini Denny menyajikan lanskap pemikiran mutakhir tentang tema itu dengan gaya bahasa yang enak dibaca, tidak membuat dahi mengkerut, dan disertai referensi kepustakaan. Sangat cocok untuk generasi milenial yang enggan membaca buku tebal-tebal.

Jenjang Kebahagiaan

Secara ensiklopedis Denny menyajikan proses evolusi peradaban manusia yang berlangsung sejak ribuan tahun lalu sampai hari ini yang ditandai dengan temuan dalam bidang neurosains dan berbagai implikasinya yang menakjubkan. Ini sama sekali tak terbayangkan oleh nenek moyang kita.

Pemahaman manusia tentang kebahagiaan (well being and happiness) berkembang dalam perjalanan sejarahnya, di samping juga dipengaruhi oleh pertambahan usia seseorang.

Secara sederhana saya membedakan lima macam kebahagiaan. Pembagian ini bisa juga bisa dipandang sebagai peringkat, sekalipun setiap tingkat kebahagiaan tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Kelima jenjang peringkat itu adalah:

Pertama, Physical Happiness

Seacara alamiah, orientasi hidup manusia secara instingtif bergerak antara dua pendulum: avoiding the pain and looking for the pleasure. Menghindari hal-hal yang menimbulkan sakit dan dalam waktu yang sama lalu mencari hal-hal yang mendatangkan rasa senang.

Dalam kaitan ini, berbagai temuan dan kemajuan teknologi dari zaman klasik sampai kontemporer diabdikan untuk memfasilitasi masyarakat guna meraih physical happiness.

Coba saja amati berbagai produk teknologi di sekeliling kita. Misalnya AC (air conditioner), fungsinya untuk mengatur suhu udara agar badan terasa nyaman. Tidak kepanasan, tidak juga terlalu dingin.

Teknologi dapur diciptakan agar proses memasak menjadi mudah, praktis, untuk memanjakan lidah. Kendaraan motor dan automotif dibuat secanggih mungkin agar perjalanan menjadi cepat dan menyenangkan.

Pakaian dibuat untuk menjaga kesehatan tubuh. Demikianlah seterusnya bahwa kita selalu mengejar physical pleasure atau physical happines.

Baca juga :  Najwa Shihab dan Persoalan Indonesia

Namun lama-lama manusia memperoleh pelajaran hidup bahwa kebahagiaan fisik itu tidak abadi. Durasinya sesaat, datang dan pergi. Maka orang mencari kebahagiaan lain, yang bukan physical.

Kedua, Intellectual Happiness

Jenjang kebahagiaan berikutnya berkaitan dengan kegiatan dan capaian intelektual. Contoh paling sederhana ketika seseorang lulus sekolah atau wisuda sarjana akan selalu menjadi kenangan indah yang membahagiakan. Suatu kebahagiaan non-fisik namun sangat intens dan bekasnya bertahan lama.

Bagi para penulis pasti memiliki kenangan kebahagiaan intens ketika esainya dimuat di surat kabar atau bukunya diterbitkan lalu terpampang di toko buku. Ini hanya sekadar contoh bahwa sesungguhnya kebahagiaan intelektual itu jauh lebih bermakna bagi diri seseorang dan orang lain, ketimbang kebahagiaan fisik yang dinikmati sendirian.

Bagi orangtua yang memiliki anak, pasti belanja untuk pendidikan anak-anaknya melebihi belanja untuk memenuhi keperluan makan dan minum.

Kita pun melihat, peradaban manusia dibangun dan disebarkan dengan perangkat ilmu, baik ilmu sebagai proses, alat, maupun sebagai produk. Sebuah keluarga dan bangsa akan bertahan dan maju selagi disangga oleh kekuatan intelektual.

Oleh karenanya, ke mana pun kita pergi akan berjumpa restoran dan sekolahan. Yang pertama untuk memenuhi kenikmatan fisik, yang kedua kenikmatan intelektual. Ketika seseorang bertambah usia, kebahagiaan fisik semakin menurun, semestinya tergantikan atau terkompensasikan dengan kebahagiaan intelektual.

Ketiga, Aesthetical Happiness

Mari bayangkan, bagaimana rasanya andaikan kehidupan ini tak ada karya dan kegiatan seni yang menyajikan keindahan? Pasti hidup akan terasa kering, pengap, dan membosankan.

Hidup tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan fisik dan intelektual. Bicara ilmiah melulu otak juga akan jenuh. Makanya diperlukan sentuhan seni dan keindahan.

Coba perhatikan, harga rumah yang mahal dan bagus pasti bukan semata kokohnya bangunan, namun juga keindahan arsitektu dan interiornya. Juga landscaping-nya. Kesemuanya itu memberikan apa yang saya sebut aesthetical happiness.

Baca juga :  Membangun Budaya Damai dari Rumah

Sentuhan keindahan itu akan muncul dalam berbagai karya dan tindakan. Misalnya dalam jamuan makan muncul tata boga. Kadang disertai musik dan interior agar suasana menjadi semakin nyaman. Mereka yang memiliki rasa keindahan, sesungguhnya banyak sekali hal-hal yang tampaknya kecil dan biasa namun menyajikan rasa keindahan yang sangat tinggi.

Misalnya sejak melihat terbit fajar, hujan gerimis, tarian pohon diterpa angin, daun mekar, bentangan langit, sampai matahari tenggelam dan munculnya bintang gemintang, semuanya merupakan sumber kebahagiaan estetis.

Bahkan setiap hari kita sangat sadar dalam berbusana, terlebih lagi jika hendak menghadiri sebuah pertemuan, karena hal itu akan memberikan sensasi kebahagiaan yang berkaitan dengan rasa keindahan.

Keempat, Moral Happiness

Kebahagiaan moral muncul ketika seseorang merasa dirinya bermakna bagi orang lain. Ketika seseorang bisa menolong meringankan beban sesamanya dan membantu memecahkan problem mereka. Ketika seseorang bisa memberi dan berbagi, bukan menerima dan dikasihani.

Oleh karenanya, orang yang telah mencapai jenjang kebahagiaan moral tidak lagi sibuk menghitung-hitung berapa banyak kekayaan harta yang dimilikinya atau seberapa tinggi jabatan yang disandangnya. Melainkan seberapa besar dia dengan segala kemampuan dan fasilitas yang dimiliki mampu membantu orang lain sebanyak mungkin.

Pribadi semacam ini sering juga disebut sebagai pribadi yang melimpah, pribadi filantropik. Orang yang lebih senang memberi, bukan meminta.

Ketika usia seseorang semakin lanjut, jatah umur semakin pendek, maka dorongan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kebahagiaan moral mestinya semakin intens.

Setiap hari umur berkurang, namun tidak serta merta deposito amal kebajikan bertambah. Panjangnya umur seseorang semestinya diukur dengan panjangnya deretan jejak-jejak kebajikan yang dirasakan orang banyak, yang akan mendatangkan moral happiness.

Jadi, untuk meraihkan kebahagiaan moral diperlukan dukungan material dan intelektual, namun ditujukan untuk tujuan yang lebih tinggi yang melampaui kesenangan dan yang diberikan oleh pemenuhan fisik maupun banyaknya ilmu pengetahuan.

Baca juga :  Cinta, Ikhtiar, dan Kepasrahan
Kelima, Spiritual Happiness

Sejalan dengan buku Denny ini, level kebahagiaan tertinggi adalah ketika hidup seseorang selalu dalam orbit dan arasy kesadaran spiritual. Bahwa keakuan yang sejati bukan lagi yang bersifat fisikal, sosial dan intelektual, tetapi aku yang spiritual (spiritual being), sebagai manifestasi atau tajally dari AKU yang absolut.

Dalam istilah lain aku adalah bersifat cahaya (nurani) yang berasal dari AKU yang maha Cahaya. Orang yang hatinya senantiasa digerakkan oleh energi ilahi (divine energy), maka suasana batinnya akan selalu memancarkan energi kasih dan damai.

Dia menjadi agen Tuhan untuk memancarkan kasihNya. Pribadi semacam ini hidupnya tidak lagi dikendalikan oleh nafsu duniawi (detached) namun tidak berarti mesti hidup menyepi tidak lagi mengurusi dunia.

Dia bisa merasakan keheningan dan kedamaian serasa dalam pelukan Tuhan di mana pun dan kapan pun berada, ketika dalam posisi tegak, duduk, atau berbaring.

Hubungan antara ke lima macam kebahagiaan tadi dalam waktu yang bersamaan senantiasa berkaitan, yang satu memerlukan yang lain.

Tangga kebahagiaan yang di bawah menyangga yang di atasnya, sementara kesadaran spiritual memberikan energi, jiwa, dan panduan orientasi kebahagiaan di bawahnya.

Nilai dan kesadaran spiritual bagaikan oksigen atau energi yang mengarahkan orientasi empat kebahagiaan yang lain. []**

 

Sumber tulisan : https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3128672500562211/?d=n

-000-

Buku Denny JA:  “Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21, Narasi Ilmu Pengetahuan” dapat dibaca, dicetak dan disebar luaskan dengan mengklik:

https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1446574215530676/

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *