Tangis Rasulullah Menjelang Wafat Ini Perlu Kita Renungi

Tangis Rasulullah

Suatu ketika, manusia paling agung di langit dan bumi itu menangis, merintih kesakitan. Suaranya parau, malaikat Jibril pun tidak tega melihat tangis Rasulullah. Izrail seperti tidak kuasa untuk menjalankan perintah Tuhannya.

Dalam jeda ajal sembari menahan perih dan sakit yang tak karuan itu, manusia agung itu bertanya, “Hai Izrail…? Apa ini?”

“Ya Rasul… ini adalah sakaratul maut.” Sakit sekali Izrail, Nabi merintih. “Memang Ya Nabi, namun ini sudah aku ringankan 70 kali.”

Sejenak Rasulullah terdiam lalu bertanya kembali kepada malaikat maut itu. “Apakah umatku akan mengalami sakit lebih dari ini?” Izrail menjawab, “Iya ya Rasul”. Lalu Nabi menengadahkan tangan kehadirat Tuhan untuk memohon agar kematian umatnya nanti menjadi amat sangat ringan.

Dalam detik-detik menjelang ajal tersebut, baginda Nabi yang paling mulia itu menunjukkan kemuliaannya kepada kita untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Beliau pulalah kelak yang menerima kita untuk didoakan dan dimohonkan syafaat atau pertolongan ketika di hari akhir kelak.

Rasul mulia yang kehidupannya amat sangat jauh dari kemewahan.  Manusia yang mencapai puncak kenikmatan berjumpa dengan surga dan Tuhannya. Namun, ia memilih kembali ke dunia kembali kepada masalah, kepada hidup yang tidak selalu bersahabat dengannya.

Manusia paling agung yang dishalawati oleh makhluk penjuru alam semesta bahkan Tuhan pun bershalawat kepadanya. Makhluk yang tidak suka kenyang, tapi tidak suka pula kelaparan.

Ia yang hidupnya digunakan dengan penuh daya dan tidak ingin mempermalukan dirinya di mata Tuhan-Nya. Rasul yang amat penuh kasih sayang kepada orang miskin dan menderita. Muhammad pemimpin kaum mujahidin, seorang negarawan, dan seorang pembawa cahaya.

Renungan Diri

Saya membayangkan Rasulullah hidup di era sekarang, mungkin ia akan menangis. Betapa dunia di era sekarang sungguh amat sangat maju, sekaligus rapuh. Kerapuhan itu bukan hanya terletak pada tidak adanya sesuatu yang lebih besar dari mengejar kepuasan nafsu, tanpa memperhatikan betapa sesak dan hausnya jiwa.

Orang yang menuruti jiwanya, tentu ia akan selamat. Karena jiwa datang dari Tuhan. Sementara bila orang menuruti nafsunya, ia tidak akan puas. Nafsu ibarat meminum air laut saat kehausan. Semakin kita meminum justru semakin tidak melegakan dahaga kita.

Manusia modern saat ini mengejar nafsu. Ia tidak menikmati sesuatu yang lambat, sesuatu yang pelan, sesuatu yang tenang. Ketenangan, pelan, serta keterlambatan dianggap sebagai musuh modernitas.

Orang pengen cepat sampai, cepat selesai, cepat menjadi yang terdepan. Tetapi mereka tidak tahu sebenarnya untuk apa kecepatan, keterpenuhan material yang sebenarnya tidak pernah selesai.

Sesuatu yang semu, yang sangat terbatas, yang sekejap, yang sekilas, yang tidak awet justru dikejar habis-habisan. Bayangkan saja, kita rela membeli sesuatu yang kita sebenarnya tidak ingin membelinya. Membeli baju mahal, membeli kosmetik mahal, maupun membeli aneka kebutuhan dengan harga mahal.

Yang disoal bukan perkara murah dan mahal, tetapi ketidakpuasan kita mendapatkan apa yang sebenarnya sudah kita gapai. Sehingga kita akan mencari yang lain lagi yang lebih modis, modern, dan teramat rapuh.

Dunia yang rapuh itu seolah kita kejar dengan amat seksama. Sementara kehidupan yang penuh emas, kenikmatan, dan ketiadaan batas atau keabadian justru makin ditinggalkan.

Apa yang dicari orang modern tergambar jelas saat saya nongkrong di warung Mie Ayam. Saya menyimak obrolan penjual mie itu dengan pembelinya yang sepertinya temannya.

“Yu. Yu… yah mene kesele eram (Mbak… mbak… jam segini aku teramat capek)”. Saya itu loh, tiap pagi bangun pagi belanja bahan Mi Ayam, siang dikit, langsung dagang, sampai sore, setelah kerja, masuk lagi, pulang lagi. Lalu kapan aku bisa menikmati waktu yang banyak terhadap anak-anakku?.”

Manusia modern bekerja mati-matian, tapi tidak bisa membeli waktu. Bahkan waktu untuk anak kita sendiri. Kita seperti tidak bisa memiliki banyak waktu untuk bercengkerama dan bercanda bersama mereka. Kehidupan kita seperti dihabiskan untuk bekerja untuk mereka. Namun sayang, saat kita capek bekerja, kita malah jarang bisa bertemu dengan keluarga.

Bahagia dan Berterima Kasih kepada Rasulullah

Saya jadi teringat cerita Gus Baha saat mengisahkan ada seorang ibu-ibu minta didoakan agar suaminya kaya raya. Gus Baha pun bercerita bahwa saat orang menjadi kaya raya, yang paling dipikirkan suami adalah rumah, mobil, hingga istrinya akan dievaluasi. Dengan segera sang Istri tidak jadi minta didoakan. Ia pun berdoa di akhir pelajaran.

Dari apa yang dituturkan Gus Baha kita jadi memahami sebenarnya kenikmatan sejati adalah tidak menjadi apa-apa pun bahagia. Menjadi apa-apa pun bahagia, sebab sejatinya kita bukan apa-apa. Tidak ada yang layak dibangga-banggakan dalam apa yang kita punyai. Karena sejatinya kita tidak memiliki dan tidak mempunyai apapun.

Rasulullah yang sejatinya amat bahagia, sudah ingin bersama Allah. Ia masih sempat meneteskan air mata. Ia menangis sedih memikirkan umatnya. Saat tidak ada lagi yang dicari selain bertemu dan kembali kepada Tuhan-Nya.

Manusia paling agung ini masih mengigat umatnya. Dalam detik-detik itulah, sebenarnya kita adalah manusia yang tiada bernilai apa-apa. Manusia yang tanpa doa dan cintanya Rasul, kita sungguh telah mendapati diri yang penuh kesengsaraan, kehinaan dan ketersungkuran.

Cahaya-Nya datang melalui Rasulullah. Dengan cahaya itulah, kita bisa melihat terang zaman. Kita bisa mengenal Tuhan, mengenali asal muasal dan kembali kita. Tapi, bisakah saat kita menjelang ajal, kita menangis dan berterimakasih atas risalah dan kemuliaannya? Yaa Rasulallah… Ya Habiballah…

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *