Tasawuf, Modal Kecerdasan Spiritual Manusia di Era Modern

Perkembangan zaman selalu memunculkan berbagai persoalan-persoalan baru, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Efektifitas dan efisiensi Islam menuntut kita untuk menerapkan berbagai rekayasa dan rekadaya yang disadari oleh ilmu pengetahuan praktis dan teoritis sesuai dengan sasaran yang digarap.

Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu mengakibatkan perubahan sosial, apalagi dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, transportasi, dan sistem informasi yang membuat perubahan masyarakat semakin melaju dengan cepat.

Sehingga dalam menghadapi situasi yang demikian, banyak manusia seringkali memiliki jiwa yang lebih sensitif, yang pada akhirnya tidak sedikit manusia yang terjerumus ke hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, norma agama, norma sosial serta norma hidup di masyarakat. Oleh karena itulah, manusia akan cenderung mempunyai tingkah laku yang tidak wajar dalam arti melakukan tindakan yang tidak pantas.

Di era globalisasi saat ini, telah terjadi kecenderungan kuat proses universalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Di mana salah satu implikasinya adalah penyeragaman yang terlihat dengan munculnya gaya hidup global seperti makanan, pakaian, musik, dan pergaulan, bahkan anak-anak kecil yang mengenal film-film dari berbagai negara.

Kemajuan teknologi masa kini dan yang akan datang, khususnya di bidang informasi dan komunikasi menghasilkan manfaat yang besar pada dunia. Terutama interaksi antara bangsa yang satu dengan bangsa lainnya yang menjadi semakin mudah.

Baca juga :  Perempuan dan Sufisme

Di samping manfaat besar yang dihasilkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat banyak penggunaan iptek yang dikendalikan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Misalnya sikap hidup seseorang yang hanya mengutamakan materi, hanya ingin menikmati kesenangan dan kelezatan syahwat, atau bahkan hanya percaya pada rumusan-rumusan pengetahuan berdasarkan pengalaman dan penghayatannya saja.

Berbagai fenomena tersebut, membuat sebagian manusia ingin kembali kepada nilai-nilai keagamaan, karena salah satu fungsi agama adalah memberikan makna bagi kehidupan. Dan dalam agama Islam terdapat ajaran yang dikenal dengan istilah tasawuf.

Belajar dan mengamalkan tasawuf adalah salah satu cara mengatasi berbagai masalah moral yang telah disebutkan di atas. Ajaran tasawuf dalam paham mistisisme mempunyai tujuan untuk memperoleh ketenangan dan hubungan langsung dan disadari dengan sang pencipta.

Sikap ini tentu sangat diperlukan oleh masyarakat modern, yang mengalami kekeringan jiwa dan terombang-ambing dalam merespon berbagai masalah yang dihadapi.

Tasawuf juga mengajarkan manusia agar memiliki ketajaman batin dan ketulusan budi pekerti yang selalu mengutamakan kepentingan kemanusiaan untuk setiap masalah yang dihadapinya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk menurut agama.

Dalam tasawuf, ada yang disebut ajaran uzlah, yaitu usaha seseorang untuk mengasingkan diri dari tipu daya keduniaan. Ini berguna untuk membebaskan manusia dari perangkap kehidupan yang memperbudaknya, akan tetapi manusia juga tidak dianjurkan untuk selamanya uzlah kemudian tidak berhubungan dengan manusia lainnya.

Baca juga :  4 Stasiun Hati Manusia dalam Ajaran Tasawuf

Namun, yang harus diraih dari uzlah adalah kesalehan spiritual yang kemudian membentuk kesalehan sosial dan memberi dampak positif bukan hanya untuk diri sendiri tetai juga untuk banyak orang.

Dalam pandangan Abdul Qadir Isa dalam bukunya Hakekat Tasawuf, tasawuf adalah sebagai media untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah (buruk) dan menghiasi dengan sifat-sifat yang terpuji. Karena pentingnya pemahaman tasawuf untuk diterapkan dalam kehidupan, maka perlu transformasi nilai tasawuf kepada generasi penerus dalam melalui pengajaran iman, Islam dan ihsan yang diejawantahkan dalam perilaku.

Karena manusia merupakan makhluk berfikir. Kemampuan berfikir ini masih berbentuk potensi (fitrah) yang akan menjadi aktual melalui pendidikan.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.