Tasawuf Modern Bagi Generasi Milenial

Tasawuf Modern Generasi Milenial

Tasawuf Modern Generasi Milenial- Permasalahan fundamental yang patut diberi perhatian lebih oleh generasi milenial dan umat muslim pada umumnya di era industri 4.0 ini adalah upaya menyelamatkan keyakinan dan memperkokoh keimanan umat Islam. Saat ini sedang diterjang krisis hebat akibat gencarnya gelombang sekulerisme, modernisme dan materialisme.

Selain itu penyebab lainnya karena pada era industri ini generasi milenial terlalu fokus dan terobsesi pada skill dan knowledge. Namun kurang begitu peka dan peduli terhadap value dan spirituality.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memperdalam spiritualitas. Yaitu melalui tarekat-tarekat yang diperkenalkan oleh para sufi dalam dunia tasawuf yang lebih menekankan pentingnya nilai-nilai seperti akhlakul karimah, spritualitas dan humanitas.

Namun sayangnya model tasawuf klasik yang sudah terdikotomis dalam berbagai bentuk gerakan tarekat-tarekat. Seperti tarekat Qadiriyah, Syadziliyah, Naqsabandiyah dan lain sebagainya dirasa tidak relevan dan tidak kompatibel lagi untuk diterapkan pada pada kaum muslim di era milenial dewasa ini.

Keresahan sebagian umat Islam tersebut tidak dapat lagi ditanggulangi dengan wacana-wacana tasawuf klasik yang sudah terkotak-kotak dalam berbagai bentuk tarekat. Melainkan diperlukan ijtihad baru agar tarekat dalam tasawuf dapat lebih bersifat universal dan diterima oleh semua golongan umat Islam.

Berangkat dari latar belakang inilah Budiuzzaman Said Nursi hadir dan menggagas tasawuf modern untuk menjawab dahaga spiritualitas serta problematika  tasawuf kontemporer tersebut.

Dalam perspektif Said Nursi, saat ini (mulai dari zaman Nursi) bukan lagi era tarekat-tarekat sufiyah dengan berbagai macam alirannya masing-masing. Melainkan zaman untuk menyelamatkan keimanan dan spiritualitas masyarakat muslim keseluruhan tanpa memandang latar belakangnya. Sebab sekarang ini sebagian besar umat Islam tengah dilanda kemiskinan spritualitas akibat gempuran modernisasi dan sekulerisasi.

Eksklusivesme tasawuf menurut Said Nursi dapat terjadi disebabkan oleh wacana-wacana tasawuf milik suatu kelompok tidak dapat diakses oleh setiap orang dan semua kalangan. Guru-guru sufi sejak era klasik memang telah mewanti-wanti bahwa tidak setiap orang diizinkan mengonsumsi karya-karya pemikiran maupun amalan mereka.

Dalam pandangan Said Nursi di situlah terlihat diskursus wacana-wacana tasawuf yang secara tidak langsung sudah menciptakan batas pemisah bagi kebanyakan orang terlebih lagi ketika tasawuf sudah terlembaga sebagai berbagai macam aliran tarekat.

Said Nursi mencoba melakukan pembacaan baru terhadap tasawuf agar dapat lebih diterima oleh semua kalangan umat Islam tanpa batas-batas tarekat tertentu. Namun, dalam melakukan ijtihadnya Said Nursi tetap berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah sebagai dua sumber fundamental umat Islam.

Tasawuf Modern Said Nursi Bagi Generasi Milenial

Dalam upayanya mengonstruksi ulang tasawuf, Said Nursi tidak membangun tahapan-tahapan tasawuf yang harus diamalkan secara sitematis, tertib dan konsisten sebagaimana konsep-konsep tasawuf klasik. Ia juga tidak menjadikan dirinya sebagai guru spiritual (mursyid) seperti tarekat-tarekat dalam tasawuf pada umumnya. Tidak pula mengharuskan orang-orang yang ingin mengakses wacana-wacana tasawuf harus langsung berguru kepada dirinya.

Said Nursi hanya membangun langkah-langkah umum yang disebut empat jalan besar yang terdiri dari (1) pengakuan akan ketidakberdayaan diri (al-‘ajz), (2) kefakiran (al-faqr), (3) kasih sayang (as-syafaqah), dan (4) refleksi (at-tafakkur). Jika kita perhatikan empat jalan besar itu terlihat sangat moderat karena dapat diakses oleh mayoritas masyarakat muslim tanpa terkecuali.

Melalui empat jalan besar yang dibangun Said Nursi ini, setiap muslim dari semua kalangan tanpa memandang latar belakang, status sosial, pendidikan dan identitas lainnya bisa melaksanakan pengakuan dan ketidakberdayaan serta kefakiran dirinya di hadapan Tuhannya. Begitu pula semua umat Islam dapat mengharapkan rahmat Tuhan dan melakukan refleksi terhadap kehidupannya sejauh kemampuan mereka masing-masing agar memperoleh kehidupan yang lebih bermakna.

Said  Nursi juga tidak menguraikan aturan-aturan empat jalan besar tersebut secara baku dan spesifik. Melainkan ia hanya memaparkan prinsip-prinsip umum secara global sehingga setiap orang dapat dengan bebas menjalankannya. Walaupun Said Nursi membangun wacana-wacana barunya di atas empat jalan besar tersebut namun ia tidak pernah menginstruksikan bahwa keempat jalan tersebut harus dilalui secara bertahap, sistematis dan tertib.

Menurutnya setiap insan diberi keleluasaan dan kebebasan dari pintu dan jalan mana mereka ingin mengamalkannya. Keempat jalan tersebut bersifat lentur, fleksibel karena tidak ada aturan baku yang harus diamalkan dan tidak ada larangan untuk melanggar. Said Nursi juga sejatinya hanya menjadikan empat jalan yang dibangunnya tersebut sebagai pelengkap dan penyempurna prinsip-prinsip dalam beragama yang sudah termaktub di dalam Alquran dan al-Hadis.

Disadari atau tidak, Said Nursi sejatinya telah merancang dan menciptakan model tasawuf modern yang sangat cocok diterapkan bagi generasi milenial. Terlebih lagi di era multikultural-multireligius seperti saat ini. Tasawuf model Said Nursi ini dapat diakses dan diamalkan oleh setiap kaum muslim tanpa harus terikat dengan aturan baku sebuah tarekat maupun keterikatan sakral (lebih tepatnya diangap sakral) antara guru spiritual atau mursyid dengan sang murid.

Said Nursi juga tidak mengapresiasi sikap para pengamal tasawuf yang selalu tunduk dan patuh mengikuti arahan mursyidnya. Ibarat mayat yang tunduk pada tuan yang memandikannya. Terlebih lagi sikap para pengamal tasawuf yang rela mengamalkan kehendak sang guru walaupun menurutnya itu keliru. Karena dalam pandangan mereka lebih baik keliru namun itu perintah sang guru daripada benar tetapi kehendak sendiri. Cara mengamalkan tasawuf seperti ini tentu tidak lagi relevan untuk diaktualisasikan terlebih lagi di zaman modern seperti saat ini.

Karena dalam perpektif Said Nursi hubungan antara guru dan murid hanya hubungan umum tanpa keterikatan sakral seperti tarekat-tarekat sufi pada umumnya. Konsep tasawuf Said Nursi juga akan memudahkan bagi manusia modern yang lebih banyak berkutat dengan aktivitas-aktivitas industri.

Hemat saya, tasawuf modern model Said Nursi inilah yang tampaknya lebih relevan, cocok, kompatibel dan dibutuhkan bagi generasi milenial maupun masyarakat muslim yang hidup di era majemuk dan plural seperti saat ini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *